ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
19 October 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Siap-siap, Tahun Depan Puncak Siklus Badai Matahari

Siap-siap, Tahun Depan Puncak Siklus Badai Matahari

Konfirmasitimes.com-Jakarta (07/10/2021). Siklus Matahari dikabarkan mendekati puncak pada tahun 2022 mendatang.

Hal itu diungkapkan oleh Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Kondisi itu dikatakan bakal membuat aktivitas bintang itu berpotensi meningkat dan memicu badai Matahari.

“Pada tahun 2022, diperkirakan siklus Matahari akan mendekati puncak siklus, sehingga aktivitas Matahari kemungkinan akan semakin meningkat. Pada keadaan seperti ini, besar kemungkinan akan terjadi peningkatan frekuensi kemunculan flare dan lontaran massa korona, serta peningkatan kecepatan angin surya di Matahari akibat banyaknya aktivitas transien di Matahari,” kata LAPAN dalam Webinar Cuaca Antariksa: Riset, Layanan dan Manfaatnya, beberapa waktu lalu.

LAPAN juga menginformasikan akan terus berupaya untuk memprediksi cuaca antariksa, termasuk prediksi kejadian badai Matahari, badai geomagnet, dan gangguan ionosfer yang dapat mengganggu penjalaran gelombang radio. Prakiraan kondisi di Matahari yang diberikan oleh LAPAN berupa prakiraan kemunculan daerah aktif sebelum tampak dari bumi, flare, angin surya, proton dan elektron berenergi tinggi, serta kondisi di ionosfer dan geomagnet secara umum.

“Prakiraan kondisi Matahari dan cuaca antariksa in dikembangkan berdasarkan hasil penelitian secara bertahun-tahun dan sebagian beroperasi secara otomatis dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (machine learning). Melalui layanan Space Weather Information and Forecast Services (SWIFtS), para peneliti LAPAN melakukan analisis data-data cuaca antariksa serta menyampaikan hasil laporan kondisi cuaca antariksa secara harian,” tulis LAPAN dilaman resminya.

Peningkatan aktivitas matahari tersebut diketahui memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap cuaca antariksa, terutama perubahan kerapatan plasma di lingkungan antariksa dekat bumi. Kondisi cuaca antariksa itu juga akan memengaruhi satelit-satelit yang mengorbit bumi, khususnya satelit yang berada di orbit rendah.

Tak hanya itu, aktivitas Matahari ekstrem itu dapat melepaskan partikel berenergi tinggi sehingga menyebabkan single event effect (SEE) yang dapat mengganggu performa komponen elektronika satelit.

Badai Matahari, kata LAPAN, khususnya CME, yang menghantam Bumi dapat memicu terjadinya badai geomagentik.

Kemudian, arus induksi geomagnetik (GIC) juga dapat timbul akibat adanya terjangan partikel berenergi tinggi dari Matahari yang berasal dari CME atau angin Surya berkecepatan tinggi. GIC ini dapat memiliki kuat arus rata-rata sebesar 10-15 A dan dapat mencapai 100 A dalam waktu beberapa menit.

Arus listrik sebesar ini dapat mengalir melalui jaringan listrik tegangan tinggi dan merusak trafo yang beroperasi pada jaringan tersebut.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Poin-poin Penting di RUU HPP yang Disahkan Hari ini

Read Next

Kiai Syarif Probolinggo, Ulama Hobi Mengajar