ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
20 October 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Dunia Dalam Tantangan Kemanusiaan Global

Indonesia Serukan Tindakan Tegas Atasi Kekerasan oleh Israel

Konfirmasitimes.com-Jakarta (07/10/2021). Pandemi covid-19 dinilai berdampak pada jurang krisis kemanusiaan global yang semakin memburuk.

Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi menyatakan dalam menghadapi tantangan kemanusiaan global itu,kemitraan yang lebih kuat di antara aktor kemanusiaan pemerintah dan non-pemerintah sangat dibutuhkan.

Hal itu disampaikannya saat membuka secara resmi the Regional Conference on Humanitarian Assistance (RCHA)  2021 di Jakarta, 6-7 Oktober 2021. Lebih dari 100 aktor kemanusiaan global dari 21 negara di Kawasan Asia Pasifik serta 9 organisasi internasional berpartisipasi pada RCHA 2021.

RCHA 2021 adalah inisiatif Indonesia dan merupakan pertemuan kedua setelah penyelenggaraan di tahun 2019 serta masih menjadi satu-satunya forum di Kawasan Asia-Pasifik di mana aktor-aktor kemanusiaan perwakilan pemerintah dan non-pemerintah di Kawasan Asia Pasifik dapat berkumpul untuk memperkuat kolaborasi dan kerja sama di bidang bantuan kemanusiaan. Inisiatif ini menunjukkan kepemimpinan Indonesia dalam diplomasi kemanusiaan baik di kawasan maupun secara global.

Dengan mengangkat tema “Advancing Humanitarian Capacities in a Changing World: National and Local Leadership“, RCHA tahun ini diselenggarakan bertepatan dengan kondisi dunia yang sedang menghadapi tantangan-tantangan kemanusiaan yang belum pernah dihadapi sebelumnya karena adanya Pandemi COVID-19 serta serangkaian bencana alam maupun bencana buatan manusia.

RCHA 2021 akan  menghasilkan 3 (tiga) dokumen, yakni Chair’s Summary dari RCHA 2021, Directory of Humanitarian Actors’ Contact Points in the Region, serta Directory of Humanitarian Actors’ Expertise in the Region. Ketiga dokumen tersebut memiliki arti penting dalam mendorong penguatan kerja sama dan jejaring antar aktor kemanusiaan di kawaan yang pada akhirnya akan berkontribusi dalam menciptakan arsitektur kemanusiaan yang kuat di Asia Pasifik.​​

Dalam kesempatan ini, Indonesia melalui Menlu Retno menekankan beberapa poin penting yang perlu menjadi perhatian, diantaranya yakni:

  1. ​Nilai-nilai lokal dan kearifan lokal penting untuk menentukan kebutuhan-kebutuhan masyarakat lokal sehingga bantuan kemanusiaan dapat tepat sasaran;
  2. Pentingnya penguatan kapasitas dan kepemimpinan aktor kemanusiaan lokal dan nastional agar terjadi perubahan mindset dari “penerima” menjadi “agent of actions“;
  3. Transformasi cara melakukan kemitraan, dari cara-cara tradisional menjadi kemitraan yang mengedepankan prinsip relevansi, kesetaraan, serta harmonisasi antara aktor-aktor di tingkat kawasan, nasional, dan lokal.

Seiring dengan poin-poin diatas, para peserta mendiskusikan 3 (tiga) isu praktis terkait tantangan-tantangan yang ada, yaitu:

  1. ​Memperkuat kepemimpinan para aktor kemanusiaan di tingkat national dan lokal;
  2. Pendekatan yang lebih seamless dalam melakukan tindakan kemanusiaan di tingkat nasional dan lokal: dari fase tanggap darurat menuju pembangunan kembali yang lebih baik;
  3. Kolaborasi yang lebih baik pada tingkat kawasan, nasional, dan lokal di dunia yang sedang berubah.
Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Hampir Lima Juta Pekerja Migran Bekerja Ilegal, Pulang Ada yang Sudah Meninggal

Read Next

Ceramah Nyai Hj. Halimah Muzakki di Pon-Pes Nahdlatuth Tholibiin