ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
19 October 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Habib Thalib bin Muhsin al-Attas

Habib Thalib bin Muhsin al-Attas

Konfirmasitimes.com-Jakarta (06/10/2021). Menurut manaqib Habib Thalib al-Attas yang disebutkan oleh anak-anaknya, Habib Thalib bin Muhsin al-Attas lahir di Tegal pada tahun 1929. Tang­gal dan bulannya tidak terlacak, karena tidak ada catatan yang terang tentang tanggal kelahirannya. Sejak kecil ia di­didik oleh ayahnya, Habib Muhsin al-Attas, dalam bidang keagamaan.

Habib Tholib tutup usia pada tanggal 21 September 2001 di umur 72 tahun dan dimakamkan di depan rumahnya. Peringatan hari haulnya tidak dijatuhkan pada tanggal dimana beliau meninggal, tetapi dipilih pada tanggal 21-22 Rabi’ul Awwal. Hal ini dikarenakan bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, sehingga Pihak Keluarga dapat sekaligus memperingati haul Habib Tholib dan Maulid Nabi secara bersamaan.

Pendidikan

Habib Tholib belajar agama kepada beberapa kiai, seperti Kiai Akyas Abdul Jamil Buntet Pesantren Cirebon dan Kiai Said di Pondok Pesantren Attauhidiyyah Giren. Kemudian di rumah beliau melanjutkan belajar kepada ayahnya, khususnya beberapa amalan habaib.

Penerus

Habib Ahmad al-Attas

Habib Muhammad al-Attas

Habib Sholeh al-Attas

Perjalanan Dakwah ke Masyarakat Terpencil

Sejak muda, Habib Tholib suka berdakwah, karena itulah ia pindah ke desa terpencil untuk berdakwah kepada orang-orang yang belum mengenal dakwah, secara terus-menerus. Pada tahun 1967, ia pindah ke Bumijawa, masih di daerah Tegal, tetapi arah selatan, yang terletak di kaki Gunung Slamet.

Selain berdakwah, ia juga bertani, dan pekerjaan tani ini semakin ditekuni sejak mendapatkan istri, Hj. Ma’anik, gadis di desa setempat. Dari istrinya ini, ia mendapatkan anak, yang masih hidup hingga sekarang ada delapan orang. Mereka adalah Ahmad, Sholeh, Muhammad, Abdul Qadir, Muhsin, Aqil, Ayu Nurul Izzah, Inten Wardah An-Nafisah.

Habib Tholib dikenal sebagai seorang petani yang tekun dan rajin, sehingga ia bersama kerabatnya berhasil membuat bukit menjadi tanah persawah­an yang ditumbuhi tanaman padi yang subur. Begitu juga menyalurkan aliran sungai dari gunung hingga ke rumah-rumah warga, sehingga mereka tidak lagi repot mencari air bersih di pucuk- pucuk gunung.

Mendirikan Masjid

Bersama masyarakat sekitar, yang pertama ia dirikan adalah masjid jami’, yang kemudian digunakan untuk shalat Jum’at. Kemudian membentuk Majelis Akhirat, wadah pengajian untuk warga, yang diselenggarakan setiap hari Sabtu pagi yang ramai adalah pada saat hari Sabtu Kliwon.

Di dalam pengajian itu, Habib Tholib mengajarkan berbagai ilmu, seperti ilmu fiqih, ilmu tauhid, ilmu Al-Qur’an, ilmu hadits, dan ilmu lainnya. Sementara anak- anaknya sendiri, yang kebanyakan le­laki, ia kirimkan ke Pesantren Darun Najah Brebes, pimpinan K.H. Aminuddin Mashudi, sekarang menjadi rais Syuriah PCNU Brebes.

Penerus Dakwah

Setelah Habib Tholib meninggal, anak-anaknya yang sudah menginjak dewasa, khususnya si sulung, Habib Ahmad Al-Attas, mendirikan Pondok Pesantren Tholibiyah, sebagai kenangan atas dakwah ayah mereka. Pondok pesantren ini menempati tanah sekitar satu hektare, dan berdiri bangunan, pondok putra, aula, rumah tamu, rumah pengasuh pondok, kantor, makam, dan gedung-gedung sekolah.

Sekarang pondok pesantren ini menampung sekitar 400 santri, yang dididik secara campuran, yaitu siang belajar umum di madrasah maupun tsanawiyah, sedang pada sore dan malam hari bel­ajar seperti santrai salafi. “Kami beru­saha menampung keinginan masyarakat di sini. Diharapkan, para santri lulus, se­lain mendapat ilmu agama, juga menda­pat ijazah sekolah umum,” ujar Habib Ahmad al-Attas.

Urusan kepondokan ditangani oleh Habib Muhammad, sedang madrasah diurus oleh Habib Sholeh bersama adik- adiknya. Sementara Habib Ahmad, yang sulung, lebih banyak berdakwah ke luar daerah. Bahkan ia tinggal di Bandung dan memiliki jama’ah pengajian sendiri.

Pembagian ini sudah tertata dengan baik, sehingga tidak ada salah urus atau saling tumpang tindih. Khususnya Habib Tholib, ketika masih hidup sudah me­nunjuk Habib Muhammad untuk mengu­rusi pondok pesantren sehari-hari, mak­sudnya mengurus santri dari pemondok­an hingga keperluan-keperluan belajar mereka di madrasah maupun di pe­santren.

Karomah Setelah Wafat

Habib Tholib bin Muhsin Al-Attas dikenal sebagai tokoh dengan keramat yang tersembunyi dan baru diketahui setelah wafatnya. Banyak cerita karomah tentang dirinya, tetapi anak-anaknya yang kini meneruskan dakwahnya tidak mau banyak bercerita. “Biar masyarakat saja yang menilai”, begitulah Habib Ahmad bin Tholib, anak sulung Habib Tholib bertutur.

Menurut Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan, “Keramat Habib Tholib yang kasat mata adalah yang ada pada acara haulnya. Mengapa ribuan orang datang kemari untuk men­doakannya?”. Habib Luthfi mengatakan, tidak gam­pang mengadakan acara haul yang di­hadiri ribuan orang dari berbagai kota di Jawa. Ribuan orang dari Jawa Barat, khusus­nya Bandung, serta dari Semarang hing­ga Brebes, datang untuk berdoa dalam acara haul. Mereka datang sendiri de­ngan biaya tidak sedikit, dan mengalami berbagai rintangan maupun halangan, seperti hawa gunung yang dingin, serta tanah yang menanjak, sehingga mem­buat payah badan.

“Dahulu kita mengundang 50 orang untuk tahlilan (sewaktu beliau wafat-red), yang datang hanya 40 orang saja. Lalu mengapa orang yang sudah meninggal ini dapat memanggil ribuan jama’ah ini dari mana-mana, bahkan me­nyediakan peluang rizqi bagi para pe­dagang kecil yang berjualan di sekitar tempat ini?” kata Habib Luthfi menjelaskan kepada orang-orang yang tidak percaya kepada keramat Habib Tholib.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Polri Bekuk Buronan Kasus Rp233 miliar

Read Next

Resmi Rilis, Ini Cara Download Windows 11: Gratis