ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
21 October 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Polisi Bongkar Penipuan Rp 84,8 M Modus Email Bisnis

Penipuan

Konfirmasitimes.com-Jakarta (02/10/2021). Pelaku penipuan senilaiRp 84,8 miliar denganmodus business e-mail compromise (BEC) berhasil diamankan aparat kepolisian.

Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri menangkap empat pelaku penipuan terhadap dua perusahaan asal Taiwan dan Korea Selatan (Korsel).

Keempat tersangka masing-masing berinisial CT, MTS, YH, dan SA alias FP. Mereka mengaku sudah beraksi sejak 2020.

Kedua perusahaan itu menjadi korban penipuan dengan total kerugian mencapai Rp 84,8 miliar.

Dalam konferensi pers, tak hanya empat pelaku, barang-barang bukti yang disita pun dipertunjukkan.

Penipuan

Dalam kasus ini, polisi telah menyita barang bukti berupa yang hingga buku tabungan bang. Terdapat Rp 29 miliar, tiga unit ponsel, 90 buku tabungan dari berbagai bank. Kemudian, disita juga paspor para pelaku, hingga bukti transaksi penukaran mata uang asing.

Dalam kasus ini, polisi telah memeriksa delapan saksi.

Asep menyampaikan pihaknya masih memburu satu orang lagi yang diduga terlibat dalam penipuan tersebut, yakni D, yang merupakan warga negara Nigeria.

“Ada (WNA yang terlibat). Ada satu sasaran kita WN Nigeria yang lagi kita kejar berinisial D. Tapi nanti mungkin kita lakukan pendalaman lebih lanjut,” jelasnya.

Kasus penipuan ini dengan modus business e-mail compromise (BEC) kepada perusahaan Korea Selatan (Korsel), Simwoon Inc, dan perusahaan asal Taiwan, White Wood House Food.

Para penipu mengumpulkan keuntungan total Rp 84,4 miliar.

“Para tersangka melakukan penipuan dengan skema business e-mail compromise (BEC) kepada korban perusahaan SW dari Korsel dan WHF dari Taiwan. Yang menyebabkan kerugian untuk perusahaan SW Rp 82 miliar. Lalu, untuk perusahaan WH kerugian Rp 2,8 miliar,” kata Asep Edi Suheri.

Asep Edi Suheri menerangkan skema BEC merupakan praktik penipuan di mana ditujukan kepada manajer keuangan atau bagian keuangan suatu perusahaan. Para tersangka menyamar menjadi mitra perusahaan korban.

“Dilakukan dengan cara menyamar menjadi perusahaan mitra dagang korban dengan tujuan mendapatkan dana yang seharusnya di-transfer ke perusahaan rekan bisnis korban yang asli. Pada kasus ini, sindikat menggunakan identitas palsu yang kemudian digunakan untuk membuat dokumen antara lain SIUP, SIB, Surat Izin Lokasi, dan akta notaris,” jelas Asep kepada awak media, Jumat (01/10/2021).

Dokumen itu selanjutnya dipakai para tersangka untuk membuat perusahaan palsu yang namanya dimiripkan dengan perusahaan mitra korban dengan menambahkan satu karakter pada alamat e-mail. Asep mengatakan dokumen perusahaan palsu tersebut juga dijadikan dasar dalam pembuatan rekening bank jenis giro yang berada di bawah penguasaan masing-masing tersangka yang terdaftar sebagai direktur perusahaan palsu tersebut.

Adapun masing-masing tersangka memiliki peranan berbeda-beda.

“Tersangka atas nama CR (25) alamat Kebayoran Baru, Jaksel. Tersangka atas nama NTS (38) alamat Sukmajaya, Kabupaten Depok. Tersangka atas nama YH (24) alamat Cilandak, Jaksel. Tersangka atas nama SA alias FP alamat Pegangsaan, Jakpus,” terang Asep.

Pertama, CR berperan sebagai pendiri dan direktur perusahaan palsu yang menerima aliran dana dari dugaan tindak pidana.

Kedua, ada NTS yang berperan sebagai pendiri dan direktur perusahaan palsu yang menerima aliran dana dari dugaan tindak pidana.

“(Ketiga) YH sebagai pendiri dan direktur perusahaan palsu yang menerima aliran dana dari dugaan tindak pidana dan membuat rekening dengan identitas palsu yang digunakan untuk menerima aliran dana,” tutur Asep.

Lalu, Asep menjelaskan SA alias FP berperan membuka rekening di sebuah bank swasta dengan menggunakan identitas palsu atas nama Friska Prisilia.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Cara Mengecek Penerima Subsidi Listrik

Read Next

Peneliti Ungkap Bahaya Tak Terduga dari Susu Sapi untuk Anak-anak