ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
19 October 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Terlilit Hutang, PT Waskita Karya Beberkan Transformasi Bisnis Hingga Lepas Jalan Tol

PT Waskita Karya

Konfirmasitimes.com-Jakarta (28/09/2021). Usai dikabarkan terlilit hutang hingga puluhan triliun,PT Waskita Karya (Persero) Tbk. diketahui akan berpindah haluan yakni dengan fokus bekerja padabidang konstruksi mulai tahun 2025.

Hal itu diungkapkan Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo menyatakan PT Waskita Karya (Persero) Tbk.saat rapat kerja dengan Wakil Menteri BUMN II di Komisi VI DPR, Senin (27/09/2021).

Menurutnya,PT Waskita Karya telah menyelesaikan seluruh amanah terkait pengembangan jalan tol.

Lebih lanjut, kataKartika, kedepannyaPT Waskita Karya akan fokus ke bisnis konstruksi di sejumlah sektor utama diantaranya air, jalan, dan perkeretaapian.

Pernyataan itu sekaligus menjawab soal terkait dilepasnya proyek-proyek tol yang sering dikerjakanPT Waskita Karya.

“Jadi, memang kalau banyak pertanyaan kenapa tolnya dilepas, karena kami berharap Waskita tidak lagi menjadi investor. Tapi Waskita benar-benar kembali ke core konstruksinya,” ujarKartika Wirjoatmodjo.

Adapun alasan lainnya, diketahuiPT Waskita Karya mengalami kondisi keuangan buruk setelah perseroan terus-menerus investasi untuk pengembangan jalan tol sejak 2016.

PT Waskita Karya tercatat diamanahkan untuk membangun 16 ruas jalan tol di Trans Jawa dan Trans Sumatera.

Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan , sebelumnya, PT Waskita Karya ditugaskan mengakuisisi tol Trans Jawa dari pihak swasta sehingga total investasi dalam Proyek Strategis Nasional mencapai sekitar Rp 27,8 triliun.

Imbasnya, di 2019, hutang Waskita Karya meningkat tajam dan mencapai titik puncak setidaknya Rp 90 triliun-an. Secara rinci, hutang itu senilai Rp 70,9 triliun yang bersumber dari pinjaman bank dan obligasi dan sekitar Rp 20 triliun hutang kepada vendor.

Kemudian, kedepannya, Kartika Wirjoatmodjo membeberkan usai semua proyek tol selesai di tahun 2025, selanjutnya tol akan dilepas dan akan diambil BUMN lain atau swasta atau SWF/INA.

“Waskita diharapkan 2025 nanti kembali ke core awalnya, supaya tidak masuk ke investasi jangka panjang yang memang bukan core competence-nya Waskita,” kata dia.

Keuangan PT Waskita Karya diperparah saat pandemi Covid-19, lantaran perseroan mengalami penurunan dari sisi pendapatan.

“Kenapa terjadi, tahun 2019-2020 pendapatan Waskita drop, pendapatan konstruksi dan tol yang beroperasi turunnya signifikan. Ini membuat kondisi keuangan waskita mengalami pemburukan signifikan,” ujarnya.

Sebagai upaya penyelamatan, Kementerian BUMN menjalankan delapan skema penyelamatan, yakni lewat restrukturisasi menyeluruh atas Grup Waskita, recycling aset bertahap, dan penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue.

“Asset recycling dilakukan secara bertahap, mulai dari 2019 sudah ada 5 ruas dan sekarang sedang menyelesaikan ruas Cibitung-Tanjung Priok yang dibeli oleh PT Pelindo,” terangnya.

Sementara itu, menurut keterangan dari Direktur Utama Waskita Karya Destiawan Soewardjono, perseroan berkomitmen untuk menyelesaikan segala kewajibannya pada 2025 sambil melakukan transformasi bisnis. Perseroan juga bakal melakukan transformasi bisnis.

“Mengubah fokus bisnis yang tadinya investasi di jalan tol kami akan berubah menjadi investasi jalan tol dengan kapasitas minoritas,” kata Destiawan.

Tak hanya itu, Waskita Karya bakal berfokus pada proyek konvensional baik dari pemerintah maupun BUMN. Dalam proyek-proyek tersebut, perusahaan itu akan lebih memilih yang proses konstruksi dengan sistem pembayaran bulanan disertai uang muka.

Perubahan sistem itu, Destiawan mengharapkan, aliran kas perseroan bisa lebih terjaga. Fokus pada tender juga bakal membuat keperluan modal kerja Waskita Karya yang bersumber dari perbankan bisa dikurangi.

Sebagai informasi,PT Waskita Karya dengan emiten bersandi WSKT ini telah resmi sebagai pemegang saham melaksanakan penambahan modal dengan skema hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue sebanyak 24,56 miliar saham seri B dengan nilai nominal Rp 100 per saham.

Penambahan modal tersebut disetujui oleh pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPLSB) yang dilaksanakan Selasa (21/09/2021) lalu di Hotel Pullman, Jakarta.

Manajemen mengungkapkan kini bakal berfokus pada penyehatan keuangan melalui proses restrukturisasi perseroan induk dan anak usaha, penjaminan pemerintah, Penyertaan Modal Negara (PMN) dan rights issue, divestasi aset jalan tol, penyelesaian konstruksi, transformasi bisnis, serta implementasi GCG dan manajemen risiko.

“Strategi tersebut telah dijalankan perseroan pada tahun ini dan telah berpengaruh signifikan pada kinerja keuangan perseroan pada semester pertama tahun 2021,” ujar Direktur Utama Waskita, Destiawan Soewardjono.

Berdasarkan informasi yang dihimpun sejak Januari hingga Juni 2021, diketahui Waskita membukukan laba bersih sebesar Rp 33 miliar atau meningkat sebesar 102,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dalam periode tersebut, Waskita membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 4,7 triliun, turun dari tahun lalu Rp 8,03 triliun.

Senin (20/09/2021) lalu, manajemen PT Waskita Karya juga menyampaikan babak baru restrukturisasi utang perusahaan di mana sebanyak 21 bank telah sepakat untuk merestrukturisasi utang perusahaan.

Upaya restrukturisasi ini dengan memberikan keringanan berupa perpanjangan tenor hingga lima tahun ke depan dengan tingkat bunga yang kompetitif.

Destiawan membeberkan total outstanding hutang yang sepakat untuk direstrukturisasi mencapai Rp 29,2 triliun atau telah mencapai 100%. Restrukturisasi ini merupakan bagian dari transformasi bisnis yang tertuang dalam 8 Stream Penyehatan Keuangan Waskita.

“Perseroan sangat mengapresiasi penuh dukungan dari para perbankan yang telah memahami bahwa proses restrukturisasi ini akan memberikan dampak positif terhadap kinerja Perseroan dan ke depannya juga akan meningkatkan kepercayaan dan optimisme seluruh pihak kepada perseroan,” ujar Destiawan, Senin (20/09/2021) lalu, dalam keterangan resminya.

Kartika juga membeberkan PT Waskita Karya (Persero) bakal melakukan asset recycling alias pelepasan aset terhadap beberapa ruas tol yang dimiliki. Beberapa di antaranya akan dilepas ke Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA).

“Kita sedang diskusi dengan SWF INA untuk beberapa ruas. Jadi proses recycling ini dibutuhkan untuk memutar dana yang sekarang berhenti di konstruksi tol yang jumlahnya sangat besar,” kata Kartika.

Walau begitu, Kartika belum menginformasikan secara detail ruas tol apa saja yang sekiranya akan dijual ke INA. Selain dengan INA, lanjutnya, Waskita Karya tengah melakukan pelepasan aset secara bertahap dengan PT Pelindo II (Persero), yaitu ruas Tol Cibitung-Tanjung Priok yang akan diintegrasi ke Terminal Kalibaru.

Lalu, pelepasan aset rencananya juga akan dilakukan dengan PT Hutama Karya (Persero) Tbk pada ruas Tol Kuala Tanjung-Tanah Tinggi-Parapat. Namun belum ada target waktu pelepasan aset yang satu ini.

“Ini kita akan meminta agar nantinya diambilalih oleh Hutama Karya sebagai pemilik di bagian utara dan Aceh,” terangnya.

Kemudian, ruas tol yang juga dipertimbangkan untuk dilepas adalah Tol Kayu Agung-Palembang-Betung. Namun, pelepasan kemungkinan dilakukan saat sudah selesai. Saat ini, proses pembangunan masih berlangsung.

Kartika Wirjoatmodjo mengatakan ruas yang satu ini berencana dilepas karena membebani keuangan perusahaan. Pasalnya, jalan tol ini memiliki biaya pembangunan yang besar, yaitu Rp14 triliun atau hampir tiga kali lipat dari rata-rata jalan tol lain sekitar Rp6 triliun.

Hal ini terjadi karena ternyata tol dibangun di lahan gambut, sehingga konstruksinya harus dibuat mengambang dan membutuhkan tambahan investasi. Terakhir, ruas tol yang juga masuk dalam rencana asset recycling adalah Tol Krian-Manyar.

Karena, tol ini ternyata tak begitu ramai usai dibangun. Akan tetapi, masih opsional.

Sedangkan sejak 2019, Kartika Wirjoatmodjo mengatakan sudah ada lima ruas yang didivestasikan, yaitu Tol Solo-Ngawi, Tol Ngawi-Kertosono, Tol Kualanamu-Tebing Tinggi, Tol Semarang-Batang, dan Tol Cinere-Serpong.

Sementara itu, Destiawan mengatakan Tol Solo-Ngawi dan Tol Ngawi-Kertosono didivestasikan ke Kings Ring Limited yang merupakan perusahaan asal Hong Kong pada 18 Desember 2019. Begitu juga Tol Kualanamu-Tebing Tinggi ke investor yang sama pada 22 April 2021.

“Selanjutnya ada juga dalam proses dengan INA, PT SMI, untuk ruas di lingkar luar Jakarta. Bila proses asset recycling Waskita ini berhasil, kurang lebih masih ada 13 ruas, maka ini akan mengurangi beban utang konsolidasi sebesar Rp41 triliun,” kata Destiawan.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Polisi Ungkap Pabrik Obat Ilegal, Produksi Ratusan Juta Pil Setiap Bulannya

Read Next

Indonesia-Thailand Berpeluang Kerjasama Bidang Perdagangan, Investasi Hingga Pariwisata