ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
20 October 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Polisi Ungkap Pabrik Obat Ilegal, Produksi Ratusan Juta Pil Setiap Bulannya

Toko Obat Ilegal Digeledah, Ribuan Obat Keras Disita

Ilustrasi

Konfirmasitimes.com-Jakarta (28/09/2021). Sebuah pabrik yang memproduksiobat keras ilegal dan psikotropika berhasil diungkap oleh aparat kepolisian.

Setidaknya ada dua pabrik di Bantul dan Sleman, DI Yogyakarta yang terungkap.

Diketahui kedua pabrik memproduksi 420 juta butir obat keras ilegal dan psikotropika setiap bulannya.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Badan Reserse Kriminal Polri Brigjen Pol Krisno Siregar dalam keterangannya menyampaikan pengungkapan dua pabrik tersebut berawal dari rangkaian kasus obat-obatan keras di Cirebon, Indramayu, Majalengka, Bekasi, dan Jakarta Timur.

Pihak Aparat, berhasil menyita 5 juta pil obat keras dan psikotropika dari kasus-kasus tersebut.

Masing-masing jenis obat itu diantaranya adalah DMP (Dextromethorphan Hbr atau dekstro, obat yang bekerja di sistem saraf pusat, biasanya untuk batuk), Tramadol (obat pereda rasa sakit), double L (obat epilepsi dan parkinson, berefek halusinasi), dan Aprazolam (obat terapi pada gangguan cemas, serangan panik).

Tak hanya itu, ada Hexymer (meningkatkan kendali otot dan mengurangi kekakuan, biasanya untuk Parkinson), Trihex (Trihexyphenidyl, untuk Parkinson).

“Semuanya ini kami analisa dan kami mendapatkan petunjuk bahwa pengiriman dari Jogja (DIY),” ujar Kresno, dalam keterangannya, Senin (27/09/2021).

Menurut keterangan pihak aparat, sebuah pabrik yang bertempat di Kasihan terbongkar keberadaannya pada Selasa (21/09/2021) sementara lainnya di Banyuraden, Gamping, Sleman, sehari sesudahnya baru terbongkar.

Pada kedua pabrik tersebut, polisi menemukan berbagai mesin produksi, bahan kimia atau prekursor obat, adonan obat siap olah, serta obat-obatan keras-psikotropika siap edar.

Secara total ada tujuh mesin yang ada di kedua pabrik tersebut, pihaknya memprediksi lebih kurang 2 juta pil dapat diproduksi setiap harinya.

“Kalau sebulan itu 420 juta butir andaikata dia bekerja 24 jam full,” lanjutnya.

Lebih lanjut, perkiraan biaya operasional dari kedua pabrik tersebut kira-kira sekitar Rp2 hingga 3 miliar untuk belanja bahan baku, pengoperasian mesin, serta gaji para pegawai.

“Penemuan dua tempat ini sebagai pabrik level mega atau besar,” kataBrigjen Pol Krisno.

“Kami menyimpulkan ini yang terbesar berdasarkan pengalaman kami sebelumnya, dari mesinnya maupun luas tempatnya,” imbuhnya.

Adapun dari pengungkapan kasus ini, pihak aparat mengamankan penanggung jawab pabrik, diantaranya WZ (53), warga Karanganyar, Jawa Tengah; LSK alias DA (49), warga Kasihan, Bantul; dan JSR alias J (56), warga Gamping, Sleman, selaku pemilik kedua pabrik tersebut.

“Kami akan terus mengembangkannya jika nanti kami berhasil menangkap jaringan semua kami akan mengembangkan ke arah tindak pidana pencucian uang,” kata Krisno.

Sementara dari para penanggung jawab yang sudah berstatus tersangka itu, didapatkan informasi bahwa sosok EY sebagai pengatur produksi dan peredaran dari obat-obatan dari kedua pabrik itu, dan saat ini masih buron.

Krisno menambahkan EY mengatur pengiriman obat-obatan ini ke berbagai wilayah di Indonesia, termasuk ke Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur.

Di lokasi yang sama, tersangka J mengaku pil diproduksi berdasarkan pesanan, meski pihaknya tetap menyiapkan stok di luar orderan.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Daftar Smartphone yang Tak Bisa Lagi Gunakan Gmail, YouTube Hingga Google Maps

Read Next

Terlilit Hutang, PT Waskita Karya Beberkan Transformasi Bisnis Hingga Lepas Jalan Tol