ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
21 October 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Imam Ibnu Malik, Ulama Terkenal dari Dunia Timur

Imam Ibnu Malik, Ulama Terkenal dari Dunia Timur

Konfirmasitimes.com-Jakarta (20/09/2021). Imam Ibnu Malik atau dengan nama lengkap Abdullah Jamaluddin Muhammad bin Abdullah bin Malik at-Tha’iy al-Jayyaniy dijuluki Jamaluddin dan nama kunyah Abu Abdulloh dilahirkan di kota Jayyan Andalus (Sekarang: Spanyol) pada Tahun 598 H.


Imam Ibnu Malik berpindah dari tanah kelahirannya di Andalus ke Damaskus hingga beliau wafat di sana pada Tahun 672 H.

Semasa kecilnya, Imam Ibn Malik menuntut ilmu di daerahnya, terutama belajar kepada Syaikh Al-Syalaibuni (w.645 H).

Setelah menginjak dewasa, ia berangkat ke Timur untuk menunaikan ibadah haji, dan diteruskan menempuh ilmu di Damaskus. Di sana ia belajar ilmu dari beberapa ulama setempat, antara lain Imam al- Sakhawi (w. 643 H). Dari sana berangkat lagi ke Aleppo, dan belajar ilmu kepada Syaikh Ibn Ya’isy al-Halaby (w.643H).

Di kawasan dua kota ini nama Imam Ibnu Malik mulai dikenal dan dikagumi oleh para ilmuan, karena kecerdasan dan pemikirannya yang jernih. Ia banyak menampilkan teori-teori nahwiyah yang menggambarkan teori-teori mazhab Andalusia, yang jarang diketahui oleh orang-orang Syiria waktu itu.

GURU GURU

Ibnu Malik belajar kepada banyak ulama. Berikut ini adalah guru-guru Ibnu Malik di belahan dunia Islam bagian timur:

  • Al-Sakhawi (w. 643 H).
  • Syaikh Ibnu Ya’isy al-Halaby (w. 643 H).
  • Syeikh Hasan bin Shabbah
  • Syeikh Ibnu Abi Shaqr
  • Syeikh Ibnu Najaz al-Maushili
  • Ibnu Hajib
  • Ibnu Amrun
  • Muhammad bin ABi Fadhal al-Mursi

PENERUS

Di dunia timur, khususnya di Damaskus dan Aleppo, Ibnu Malik sangat terkenal dan dikagumi oleh para ulama lainnya.

Karena dia termasuk ulama yang pandai, cerdas dan kreatif. Dia memberikan warna baru dalam ilmu gramatika bahasa Arab.

Kitab Alfiyah yang dia tulis menawarkan teori dan konsep baru bagi para pakar bahasa di dunia timur. Teori dan konsep yang ditawarkan oleh Ibnu Malik menjadi rujukan bagi para ulama lainnya termasuk murid-muridnya. Mereka itulah yang kemudian meneruskan sanad keilmuan Ibnu Malik. Berikut ini adalah murid-murid Ibnu Malik:

  • Muhammad Badaruddin (w. 686 H): Anak Ibnu Malik
  • Imam Nawawi
  • Ibnu Ja’wan
  • Ibnu Munajjy
  • al-Yunaini
  • Baha` bin Nuhas
  • Syihabuddin asy-Syaghury
  • Ibnu Abi Fath al-Ba’li
  • al-Fariqy
  • Ibnu Hazim al-Azra’i
  • Ibnu Tamam at-Talli
  • Majduddin al-Anshari
  • Ibnu ‘Aththar
  • ‘Alauddin al-Anshari
  • Abu Tsana’ al-Halabi
  • Abu Bakar al-Mizzi
  • Ibnu Syafi’
  • Badaruddin bin Jamaah
  • Ibnu Ghanim
  • Al-Birzali
  • Ibnu Harb
  • ash-Shairafi
  • Al-Dzahabi
  • Ibn Jama’ah

KARYA NADZOM ALFIYAH IBNU MALIK

Di antara penulis-penulis syarah Alfiyah lainnya, yang bisa ditampilkan dalam tulisan ini, adalah al-Muradi, Ibn Hisyam, Ibn Aqil, dan al-Asymuni. al-Muradi (w. 749 H) menulis dua kitab syarah untuk kitab Tashil al-Fawaid dan Nazham Alfiyah, keduanya karya Ibn Malik. Meskipun syarah ini tidak popular di Indonesia, tetapi pendapat-pendapatnya banyak dikutip oleh ulama lain. Antara lain al-Damaminy (w. 827 H) seorang sastrawan besar ketika menulis syarah Tashil al-Fawaid menjadikan karya Al-Muradi itu sebagai kitab rujukan. Begitu pula al-Asymuni ketika menyusun Syarah Alfiyah dan Ibnu Hisyam ketika menyusun al-Mughni banyak mengutip pemikiran al-Muradi.

Ibnu Hisyam (w.761 H) adalah ahli nahwu terkenal yang karya-karyanya banyak dikagumi oleh ulama berikutnya. Di antara karya itu Syarah Alfiyah yang bernama Audlah al-Masalik yang terkenal dengan sebutan Audlah. Dalam kitab ini ia banyak menyempurnakan definisi suatu istilah yang konsepnya telah disusun oleh Ibn Malik, seperti definisi tentang tamyiz. Ia juga banyak menertibkan kaidah-kaidah yang antara satu sama lain bertemu, seperti kaidah-kaidah dalam Bab Tashrif. Tentu saja, ia tidak hanya terpaku oleh Mazhab Andalusia, tetapi juga mengutip Mazhab Kuffah, Bashrah dan semacamnya.

Kitab ini cukup menarik, sehingga banyak ulama besar yang menulis hasyiyahnya. Antara lain Hasyiyah al-Sayuthi, Hasyiyah Ibn Jama’ah, Hasyiyah Putra Ibn Hisyam sendiri, Hasyiyah al-Ainiy, Hasyiyah al-Karkhi, Hasyiyah al-Sa’di al-Maliki al-Makki, dan yang menarik lagi adalah catatan kaki (ta’liq) bagi Kitab al-Taudlih yang disusun oleh Khalid ibn Abdullah al-Azhari (w. 905 H).

Adapun Ibnu Aqil (w. 769 H) adalah ulama kelahiran Aleppo dan pernah menjabat sebagai penghulu besar di Mesir. Karya tulisnya banyak, tetapi yang terkenal adalah Syarah Alfiyah. Syarah ini sangat sederhana dan mudah dicerna oleh orang-orang pemula yang ingin mempelajari Alfiyah Ibnu Malik. Ia mampu menguraikan bait-bait alfiyah secara metodologis, sehingga terungkaplah apa yang dimaksudkan oleh Ibnu Malik pada umumnya.

Terhadap syarah ini, ulama berikutnya tampil untuk menulis hasyiyahnya. Antara lain Hasyiyah Ibn al-Mayyit, Hasyiyah Athiyah al-Ajhuri, Hasyiyah al-Syuja’i, dan Hasyiyah al-Khudlariy. Syarah Alfiyah yang hebat lagi adalah Manhaj al-Salik karya Al-Asymuni (w. 929 H). Syarah ini sangat kaya akan informasi, dan sumber kutipannya sangat bervariasi. Syarah ini dapat dinilai sebagai kitab nahwu yang paling sempurna, karena memasukkan berbagai pendapat mazhab dengan argumentasinya masing-masing.

Dalam syarah ini, pendapat para penulis Syarah Alfiyah sebelumnya banyak dikutip dan dianalisa. Antara lain mengulas pendapat putra Ibnu Malik, al-Muradi, Ibnu Aqil, al-Sayuthi, dan Ibnu Hisyam, bahkan dikutip pula komentar Ibn Malik sendiri yang dituangkan dalam Syarah al-Kafiyah , tetapi tidak dicantumkan dalam Alfiyah .

KARYA KITAB

Kitab Karangan Imam Ibnu Malik, diantaranya:

  • Kitab Alfiyah, yang juga dinamakan Al-Khulashoh.
  • Kitab Al-Kafiyah dan Syarahnya.
  • Kitab Kamalul Umdah dan Syarahnya.
  • Kitab Lamiyatul Af’al.
  • Kitab Tashil dan Syarahnya.
  • Kitab Al-‘Alam 7. Kitab Al-Taudhih.
  • Kitab Al-Qasidah Ath-Thoiyyah.
  • Kitab Tashilul Fawaid.

Al-Kafiyah As-Syafiyah, terdiri dari tiga ribu bait nadzam yang juga bersyair bahar rojaz.
Nadzam Lamiyah al-Af’al yang membahas Ilmu Shorof,
Tuhfatul Maudud yang membahas masalah Maqshur dan Mamdud.

Semua karangan Imam Ibnu Malik membahas tentang Tata Bahasa Arab baik Nahwu atau Sharaf. Mayoritas pondok pesantren di Indonesia mengajarkan kitab Alfiyah Ibnu Malik dan menjadi pelajaran wajib dalam mata pelajaran Nahwu.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Misteri Pria Tewas Saat Live TikTok, Kuasa Hukum: Pembunuhan Berencana

Read Next

Ilmuwan Ungkap Manfaat Susu: Memperpanjang Hidup