ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
20 October 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Anggota Parlemen AS Menyerukan Penyelidikan Atas Pembunuhan Warga Sipil Selama Dua Dekade

Anggota Parlemen AS Menyerukan Penyelidikan Atas Pembunuhan Warga Sipil Selama Dua Dekade

Konfirmasitimes.com-Jakarta (19/09/2021). Ilhan Omar, seorang Muslim anggota Kongres AS, merespon pengakuan militer AS bahwa serangan drone mematikan di Kabul itu salah sasaran pada bulan Agustus dan pembunuhan 10 warga sipil serta soal permintaan maaf.

Senator Demokrat dari Minnesota ini menambahkan bahwa ribuan orang telah tewas dalam dua dekade terakhir selama operasi drone AS yang rahasia dan tidak bertanggung jawab.

“Kita harus meminta pertanggungjawaban siapa pun yang terlibat dalam serangan ini dan meminta penyelidikan menyeluruh terhadap serangan ini dan program drone,” kata dia.

“Permintaan maaf saja tidak cukup,” tambahnya, menurut Newsweek.

“Kami berhutang budi kepada keluarga para korban, dan kami harus mengakui kejahatan ini, memberi kompensasi kepada keluarga, dan mengizinkan penyelidikan kriminal internasional atas hal ini,” ujar Omar.

Selain itu, Senator Republik Texas Ted Cruz juga mengatakan ‘bencana’ Biden di Afghanistan semakin parah. Hal ini menimbulkan dua pertanyaan yang jelas. Apakah Taliban memberikan informasi palsu kepada pemerintah Biden yang mengakibatkan kematian 10 warga sipil tak berdosa, termasuk tujuh anak? Jika demikian, mengapa Biden harus mempercayai Taliban?

Sementara itu,Kayleigh McEnanymantan juru bicara Gedung Putih dalam pemerintahan Donald Trump juga turut menanggapi tindakan drone AS yang menewaskan warga sipil.

“Kami telah mengetahui bahwa serangan drone AS di Kabul tidak menargetkan pasukan ISIS dan menewaskan 10 warga sipil tak berdosa, termasuk tujuh anak-anak,” kata Kayleigh McEnany, mantan juru bicara Gedung Putih dalam pemerintahan Donald Trump.

“Ini luar biasa. Pemerintahan Joe Biden adalah pemerintahan yang menyedihkan, kacau, dan memalukan di panggung dunia,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, Jenderal Kenneth F. McKenzie, komandan militer AS, mengakui pada Jumat waktu setempat bahwa 10 warga sipil tewas di Kabul bulan lalu ketika pasukan AS mengevakuasi pasukan dari Afghanistan.

McKenzie mengatakan pada konferensi pers di Pentagon di CNN bahwa penyelidikan militer AS terhadap serangan drone mematikan di Kabul pada bulan Agustus telah menewaskan 10 warga sipil dan menewaskan pengemudi dan kendaraan.

Pejabat militer AS mengakui bahwa serangan itu adalah kesalahan dan kemudian meminta maaf.

Sebagaimana diberitakan media internasional, Pentagon pertama kali meluncurkan serangan pada misi yang berhasil untuk mencegah pemboman lain di bandara Kabul. Dalam serangan ISIS pertama di bandara Kabul, 13 tentara AS dan sedikitnya 169 warga Afghanistan tewas pada 26 Agustus saat mengevakuasi pasukan AS.

Penarikan pasukan AS yang kacau dari Afghanistan semakin tak terkendali. Penarikan AS meninggalkan ratusan warga AS dan ribuan warga Afghanistan dalam bahaya di Afghanistan.

Zamari Ahmadi dan sembilan anggota keluarganya, termasuk tujuh anak-anak, tewas dalam serangan udara AS pada 29 Agustus, sehari sebelum Amerika mengevakuasi Kabul. Berita ini dikonfirmasi oleh saudara laki-laki dari orang yang terbunuh dalam sebuah wawancara dengan New York Times.

Zamari Ahmadi telah bekerja selama 14 tahun terakhir sebagai insinyur untuk badan amal yang berbasis di California dan lembaga pendidikan internasional. Kelompok bantuan telah meminta agar dia dipindahkan ke Amerika Serikat sebagai pencari suaka.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Lokasi dan Jadwal SIM Keliling Hari Ini, Minggu 19 September 2021

Read Next

PT KAI Buka Lowongan Kerja untuk SMA, D3 Hingga S1