ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
19 October 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Bacaan Bilal Jumat

Bacaan Bilal Jumat

Konfirmasitimes.com-Jakarta (17/09/2021). Bacaan bilal Jumat ini dilakukan sebelum khatib berkhutbah.

Umumnya, sebelum khutbah ada pembacaan tarqiyyah, yakni sebagai tanda khatib bakal ke mimbar.

Adapun secara bahasa tarqiyyah artinya menaikan.

Sementara Bilal ataumuraqqi bertugas membaca tarqiyyah. Sekaligus bertugas sebagai muadzin.

Bacaan Bilal Jumat

Berikut bacaan tarqiyyah atau bacaan bilal jumat yang berlaku di beberapa daerah:

Bacaan Bilal Jumat

Usai bilal selesai membaca kalimat di atas, lalu khatib maju menerima tongkat dan ketika naik ke atas mimbar, bilal membaca doa shalawat di bawah ini:

Bacaan Bilal Jumat

Selanjutnya usai khatib berada di atas mimbar, bilal menghadap kiblat dan membaca doa sebagai berikut:

Bacaan Bilal Jumat

Lalu benarkah tradisi pembacaan tarqiyyah oleh muraqqi tersebut disebut bid’ah? Menurut mayoritas ulama Tradisi pembacaan tarqiyyah itu bid’ah hasanah (positif).

Syekh Syihabuddin al-Qalyubi menyampaikan “(Sebuah cabangan permasalahan). Mengangkat muraqqi sebagaimana tradisi yang terlaku adalah bid’ah yang baik karena mengandung hal yang positif berupa anjuran membaca shalawat kepada Nabi dengan membaca ayat Al-Qur’an, anjuran diam saat khutbah dengan menyebutkan dalil hadits shahih yang dibaca Nabi dalam beberapa khutbahnya. Tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa Nabi dan tiga khalifah setelahnya mengangkat seorang muraqqi.” (Syekh Syihabuddin al-Qalyubi, Hasyiyah al-Qalyubi ‘ala al-Mahalli, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2009, juz 1, halaman 419).

“Maka dapat diketahui bahwa tarqiyyah adalah bid’ah akan tetapi bid’ah yang baik. Dalam pembacaan ayat suci Al-Qur’an (yang berkaitan anjuran membaca shalawat) merupakan sebuah peringatan dan motivasi untuk mebaca shalawat kepada Nabi di hari Jumat ini yang dianjurkan untuk memperbanyak bacaan shalawat. Pembacaan hadits setelah adzan dan sebelum khutbah mengingatkan mukallaf untuk menjauhi perkataan yang diharamkan atau dimakruhkan pada waktu ini (saat khutbah) sesuai dengan ikhtilaf ulama dalam masalah tersebut. Dan sesungguhnya Rasulullah membaca hadits tersebut saat menyampaikan khutbahnya di atas mimbar”. (Syekh Muhammad bin Ahmad al-Ramli, Fatawa al-Ramli Hamisy al-Fatawa al-Kubra, juz.1, hal.276, Beirut-Dar al-Fikr, cetakan tahun 1983, tanpa keterangan cetak).

Panduan lengkap sholat wajib 5 waktu dan macam-macam sholat sunnah.

(Dari berbagai sumber)

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Resep Croissant Waffle (Croffle)

Read Next

Lima Kebiasaan Baik Agar Panjang Umur, Sehat dan Bahagia