ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
19 October 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Pengakuan Tersangka Perampokan Toko Emas di Medan, Otak Pelaku Tewas

Pengakuan Tersangka Perampokan Toko Emas di Medan, Otak Pelaku Tewas

Konfirmasitimes.com-Jakarta (16/09/2021). Parapelaku perampokan toko emas bersenjata api yang terjadi di Pajak Simpang Limun, Medan, telah diamankan aparat kepolisian.

Para pelaku yang sudah ditetapkan tersangka itu diantaranya Hendrik Tampubolon, Paul Sitorus, Farel, Prayogi alias Bejo, dan Dian.

Kapolda Sumut, Irjen Panca Putra dalam keterangannya mengatakan dari kesemua tersangka satu orang ditembak matikarena melawan petugas.

“Hendrik Tampubolon, dari hasil penyelidikan dan penyidikan kita, merupakan otak dari pelaku,” kata Panca.

Hendrik diketahui memiliki senjata api.

Menurut pengakuan salah satu tersangka, Paul, mereka merampok dengan iming-iming imbalan uang ratusan juta. Hendrik, otak pelaku, yang menjanjikan hal itu.

Secara rinci, berawal dari Hendrik yang meminta Dian mencarikan orang untuk melakukan aksi kriminalitas. Dan, Dian akhirnya membawa tiga temannya kepada Hendrik.

Dian mengaku teman-temannya sempat meminta pekerjaan kepadanya.

“Mereka bilang gini… kalau ada yang mengajak-ngajak kriminal, kabari ya Bang,” ujar Dian.

Dian mengungkapkan bertemu dengan mereka saat berada di dalam rutan. Menurut Dian, waktunya itu pada tahun 2020.

“Di rutan (rumah tahanan). Tahun 2020, Paul sama Farel,” kata Dian.

Dian juga mengatakan sudah lama mengenal Hendrik. Dian mengaku sudah lama tak jumpa, kemudian sewaktu jumpa malah diminta untuk mencari kawan untuk melakukan aksi kriminalitas.

“Sudah lama nggak datang, pas datang nanya ada nggak kawan-kawan pemain, kriminal seperti 363,” kata Dian.

Tak hanya itu, Paul membeberkan, ia dengan Farel dan Bejo ditugaskan mengamati lokasi yang tepat untuk dijadikan sasaran.

“Tanggal 25 Agustus (mengamati). Saya, Farel, Bejo disuruh Hendrik. Kata Bang Hendrik besok kita mainkan tanggal 26 Agustus. Jadi sekarang cobalah kalian pergi ke Simpang Limun, coba kalian tengok mana yang cocok menurut kalian yang bisa kita mainkan besok,” ujar Paul.

Saat melancarkan aksi, Paul menyebut memegang senjata laras pendek.

“Bang Hendrik semua yang nyiapkan. Saat kejadian, abang itu pegang yang panjang, saya yang pendek. Yang mecahkan kaca itu saya Pak,” kata Paul.

Paul kemudian menjelaskan terkait dirinya dan rekannya memakai Hansaplast saat beraksi. Dia mengaku itu agar tak ada tinggal sidik jari di lokasi.

Paul mengatakan pernah di penjara atas tindakan kriminal. Paul kembali berulah karena uang.

“Karena duit. Rp 100 juta (dijanjikan),” kata Paul.

Paul mengatakan saat kejadian mereka di bawah arahan Hendrik. Usai merampok, mereka dibawa ke ladang-ladang oleh Hendrik.

“Pertama kami ikuti arahan abang itu, pokoknya abang itu di depan kami di belakang. Terus kami dibawa ke ladang-ladang. Saya tidak tahu pas alamatnya,” katanya.

Selanjutnya, sesampai di lokasi itu, mereka mengumpulkan emas hasil rampokan dalam satu tas. Kepada Paul, Farel, dan Bejo, mereka diberi uang sebesar Rp 4 juta.

“Karena emas udah dikumpulin dalam satu tas semua. Terus dibagilah duit Rp 4 juta, kami per orang. Terus dibilang abang itu pokoknya kalian harus percaya sama saya. Kalau emas ini nanti abang yang apain, yang jual. Nomor kalian tetap aktif. Tunggu kabar dari abang selanjutnya, habis ini kalian langsung pulang kalian belok kanan abang belok kiri,” sebutnya.

Kemudian, setelah kejadian itu, Hendrik pernah beberapa kali menelepon mereka. Hendrik meminta agar mereka bersabar karena emasnya sebentar lagi dijual.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Pesawat Rimbun Air Ditemukan Hancur, Semua Kru Meninggal Dunia

Read Next

Catat! Ini Pembatasan di Jakarta untuk Kantor, Warung Hingga Belajar Mengajar