ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
21 September 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Terlalu Lama Sekolah Online, Pelajar Pilih Menikah

pelajar

Konfirmasitimes.com-Jakarta (13/09/2021). Terlalu lama diam dirumah, dan tak sekolah tatap muka melainkan hanya sekolah online, pelajar di laporkan telah menikah.

Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Kendari, Muchdar Alimin menyampaikan ada satu pelajar diwilayahnya tak bersekolah lantaran sudah menikah.

“Dari informasi yang kita terima, bahwa satu orang pelajar kita ternyata tidak lagi bersekolah karena ternyata sudah menikah,” ujar Muchdar, dalam keterangannya, Minggu (12/09/2021).

Lebih lanjut, tanpa menyebutkan asal sekolah pelajar itu,Muchdar menyayangkan hal itu bisa terjadi.

Mengapa demikian, menurut Undang-Undang Perkawinan, usia pernikahan sejatinya telah diatur batas minimal umur.

Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, disebutkan bahwa batas usia untuk melakukan perkawinan bagi wanita dengan batas minimal umur perkawinan bagi pria, yaitu 19 tahun.

“Tapi begitulah yang terjadi di lapangan,” kata Muchdar.

Keresahan sekolah online atau daring ini sudah dirasakan oleh banyak orang tua dan anak. Selain menimbulkan kebosanan hingga bisa mengakibatkan dampak negatif lainnya.

Sekolah daring atau pembelajaran jarak jauh yakni dari rumah diklaim sebagai solusi tepat melindungi anak dari penularan Covid-19.

Namun, perlu diwaspadai, aktivitas belajar di rumah secara terus-menerus berdampak negatif pada anak, diantaranya yakni sebagai berikut:

Anak menjadi malas

Semakin banyak berdiam dirumah, anak berpotensi menjadi lebih malas, tak mandiri, dan tergantung pada orang tua.

Sejumlah anak menganggap belajar di rumah secara daring dianggap lebih susah dan tak menarik daripada belajar langsung di sekolah. Ini bisa membuat anak jadi enggan untuk mengerjakan tugas yang diberikan.

Ada potensi orang tua membantu anak menyelesaikan tugas-tugas anaknya agar anak bisa mengikuti pelajaran dengan baik dan memperoleh nilai maksimal. Akan tetapi, bila ini terlalu sering terjadi, anak bisa mengandalkan orang tua dan lepas tangan akan tugas-tugasnya.

Anak tak paham pelajaran dengan maksimal

Sedikitnya interaksi saat belajar secara daring dapat menimbulkan anak kesulitan untuk memahami penjelasan yang dipaparkan oleh guru. Ditambah lagi bila anak sungkan atau ragu untuk bertanya.

Tak hanya itu, koneksi internet dan gadget yang tidak memadai pun dapat menyebabkan anak kesulitan dalam memahami pelajaran. Hal ini tentu bisa berdampak pada nilai akademisnya.

Meningkatnya tingkat kecemasan dan stres

Cemas dan stres bisa dialami sang anak bila sebagian guru mungkin merasa bahwa pelajaran yang disampaikan lewat kelas daring masih belum cukup, alhasil guru cenderung memberikan lebih banyak tugas yang bisa membebani anak.

Kecanduan gadget

Sekolah daring mengandalkan anak untuk lebih sering menggunakan gadget. Dan ada kemungkinan anak akan lebih suka bermain gadget daripada beraktifitas lainnya. Bila sudah menimbulkan kecanduan akan berbahaya.

Anak jarang sosialisasi

Biasanya anak bisa bebas bersosialisasi saat sekolah tatap muka diperbolehkan tapi tidak selama sekolah daring. Jika hal ini berlangsung lama, anak berpotensi menjadi pribadi yang pendiam dan tak percaya diri di masa depan.

Anak beresiko terkena pelampiasan stres orang tua

Tak hanya anak yang dituntut sekolah dari rumah, orang tua pun sama. Sewaktu-waktu akan ada kesempatan orang tua merasa stres dan bila tak terkendali anak bisa menjadi pelampiasan karena dimarahi, dibentak atau lainnya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Hukum Membaca Doa Iftitah

Read Next

Tangisan Peternak Ayam Petelur, Harga Anjlok Hingga Serangan Virus