ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
21 September 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Tangisan Peternak Ayam Petelur, Harga Anjlok Hingga Serangan Virus

Tangisan Peternak Ayam Petelur, Harga Anjlok Hingga Serangan Virus

Konfirmasitimes.com-Jakarta (13/09/2021). Peternak ayam petelur menangis lantaran harga jual telur terus anjlok. Tak sampai disitu, bisnis telur diperparah dengan terpaan serangan virus. Hal ini membuat harga telur hancur, salah satunya di wilayahkabupaten Gunungkidul.

Salah seorang peternak ayam petelur di Kalurahan Banaran, Kapanewon Playen, Mantoro mengatakan, beberapa waktu belakangan ini, harga jual telur ayam terus anjlok. Per kilogram, kata Mantoro, telur ayam hanya dihargai Rp. 17 ribu per kilogram. Menurutnya, harga jual ini tak sebanding dengan biaya produksi yang cukup besar. Mantoro pun akhirnya terus merugi.

“Harga telurnya murah banget, sedangkan harga pakannya naik terus,” kata Mantoro kepada media, Minggu (12/09/2021) siang.

Mantoro mengungkapkan setiap hari dirinya harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 2 juta lebih hanya untuk membeli pakan. Kondisi semakin sulit karena harga pakan naik, sementara harga jual hasil telur tidak bisa diharapkan untuk menutupnya.

“Tidak masuk sama sekali kalau dihitung, sementara mau stop ternak ayam petelur dulu,” ungkapnya.

Dengan populasi 3.000 ekor ayam petelur yang Mantoro miliki, setiap harinya dia butuh kurang lebih 360 kilogram pakan.

Sedangkan hasil yang didapatkan yaitu telur 150 kilogram per hari. Jumlah ini tentu saja tidak cukup untuk menutup biaya produksinya.

Hal senada juga dialami seorangpeternak ayam petelurdi kapanewon Patuk, Suroso, bisnisnya mulai suram semenjak lebaran kemarin.

Ayam-ayam peliharaannya banyak yang mati diterjang virus.

“Sudah saya kasih obat terus kandangnya materi desinfektan tetapi tak manjur juga,” ungkap Suroso, dalam keterangannya kepada media, Minggu (12/09/2021).

Suroso mencoba bertahan namun mengalami kerugian signifikan lantaran harga pakan justru naik sementara harga telur turun.

Harga jual telur dipasar sejauh ini sekitar Rp 15 ribu hingga Rp 16 ribu, sementara dari perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP) telur perkilogram mencapai Rp 21 ribu lebih.

Kondisi tersebut menyusahkan para peternak ayam petelur.

“Para peternak ayam petelur di Kabupaten Gunungkidul saat ini sedang mendapatkan pukulan telak,” kata Suroso.

Terpisah, Ketua Paguyuban Unggas Handayani, Subandi menyampaikan, hampir kurang lebih satu tahun ini para peternak terus dihantam dengan persoalan mahalnya harga pakan. Ia menyebutkan saat ini harga pakan mencapai Rp 6600/kg.

“Hampir satu tahun ini kita sedang prihatin, dengan harga jual telur Rp 16 ribu, kami harus menanggung kerugian sekitar Rp 6 ribu perkilogramnnya,”ujarnya.

Menurutnya, kenaikan harga pakan ini disebabkan mahalnya harga campuran pakan seperti jagung dan konsentrat. Normalnya harga jagung hanya berkisar Rp 3800 sampai Rp 4000, namun saat ini harga bahan pokok pakan mengalami kenaikan hingga Rp 20% sehingga kondisi ini semakin memberatkan peternak. Padahal, 50% komponen pakan menggunakan jagung.

Ia menyebut jumlah peternak di Gunungkidul itu ada sekitar 300an yang tergabung di Perhimpunan Perunggasan Rakyat Indonesia Pinsar Petelur Nasional. Dari 300 peternak sudah ada beberapa yang berhenti produksi, kalau tidak ada perubahan atau bantuan dari pemerintah, kemungkinan dirinya juga akan
berhenti produksi.

Terpisah, Direktur Pembibitan, Ditjen PKH Kementerian Pertanian Sugiyono menyampaikan pihaknya akan segera menindaklanjuti terkait keluhan yang disampaikan oleh para peternak di Gunungkidul untuk mengupayakan adanya kestabilan harga telur dan jagung.

“Sebetulnya ini bukan tupoksi saya, tapi karena ada perintah langsung dari Presiden dan Kementan saya akan mengusahakan ini dan kita sudah bergerak,”ujarnya.

Pihaknya akan melakukan kerjasama-kerjasama dengan berbagai perusahaan untuk menambah suplai jagung. Selain itu, sebagai langkah konkrit, Negara membuat keputusan dengan menambah stok jagung baik dengan cara impor ataupun menambah lahan pertanian jagung.

Sebelumnya seorang pria diduga peternak diamankanpihak kepolisian Blitar Jawa Timur usai membentangkan sebuah poster meminta Jokowi untuk memberikan harga Jagung dengan harga wajar.

Pria itu menampilkan poster ketika mobil Presiden Joko Widodo melintasi Jalan Moh Hatta Blitar, Selasa (07/09/2021) lalu.

Tindakan pihak kepolisian yang mengamankan peternak itu lalu menuai sorotan.

Secara rinci, bertepatan saat mobil yang membawa Jokowi akan melintas, pria yang diduga merupakan seorang peternak ayam itu membentangkan sehelai kertas berisi tulisan aspirasi “Pak Jokowi Bantu Peternak Beli Jagung dengan Harga Wajar”.

Salah seorang anggota DPR RI, Fadli Zon turut mengkritisi tindakan pihak kepolisian.

Fadli Zon melalui unggahan di media sosialnya berkomentar dan meminta agar polisi segera membebaskan peternak ayam itu.

Sikap aparat yang langsung mengamankan pria pembentang poster itupun kemudian ramai disebut terlalu berlebihan.

“Peternak ayam sedang dalam kondisi makin terpuruk. Harga telur jatuh sementara pakan ayam mahal. Spanduk itu hanya aspirasi pada Pak @jokowi agar tahu kondisi sebenarnya dan ada jalan keluar bagi peternak ayam,” tulisnya.

Tak hanya itu, Fadli Zon juga berharap agar polisi segera membebaskan peternak ayam tersebut jika memang kabar penangkapannya benar dilakukan.

“Tolong bebaskan peternak ayam yang bawa spanduk itu,” tulisnya.

Selain Fadli Zon, ada Pengasuh Ponpes Ora Aji, Kalasan, Sleman melalui akun Instagramnya menyampaikan penangkapan itu tak mencerminkan konsep Presisi yang digaungkan oleh Kapolri Jendral Listyo Sigit Prabowo.

“Presisi itu prediktif responbilitas dan transparasi berkeadilan, konsep yang digagas oleh Kapolri Jendral Sigit. Saya pikir kejadian penangkapan pembawa poster di Blitar sama sekali tidak mencerminkan Presisi yang digagas Kapolri,” katanya.

Lalu, Gus Miftah juga turut menyoroti mengenai penangkapan ibu-ibu di Blitar juga yang mencuri susu.

“Kemudian terkait penangkapan ibu-ibu pencuri susu di Blitar saya siap mengganti kerugian yang dialami pemilik toko tersebut. Tolong disampaikan kepada pemilik tokonya supaya proses hukum ini segera selesai,” lanjutnya.

Lebih lanjut, lewat keterangan unggahannya, ulama muda NU tersebut menegaskan bahwa keadilan itu harus dinyatakan dan tampak dijalankan.

“Keadilan bukan hanya perlu dijalankan, tetapi juga dinyatakan dan tampak dijalankan,” tambahnya.

Video Gus Miftah tersebut mendapat tanggapan dukungan dari para netizen.

Sementara itu, Cendekiawan Nahdatul Ulama (NU), Nadirsyah Husen turut merespon penangkapan seorang peternak ayam itu.

Gus Nadir menilai, penangkapan tersebut adalah tindakan berlebihan. Sebab, poster itu hanya bertuliskan permohonan bantuan kepada Jokowi terkait harga pakan ayam, yakni jagung.

“Ini tindakan yang berlebihan. Warga mengangkat poster yang isinya minta bantuan ke Pak Jokowi. Isinya sopan. Tidak mengancam keselamatan Presiden. Tidak mengganggu ketertiban umum,” tulis Gus Nadir di Twitter-nya, Rabu (08/09/2021).

Menurutnya, poster itu tak menganggu. Dia mendesak Kapolri agar evaluasi anak buahnya.

“Gak perlu dirampas posternya dan orangnya ditangkap. Harus ada briefing dari Kapolri kpd anak buahnya,” katanya.

Hal senada juga disampaikan politikus Partai Kebangkita Bangsa atau PKB, Luqman Hakim.

“Rakyat Peternak minta bantuan kepada Presiden kok malah ditangkap polisi?
Pak Kapolri, segera lepaskan peternak yang ditahan itu dan brief anggota agar lebih humanis di lapangan. Dan, lebih bagus bentuk satgas untuk berantas kartel pangan yang rugikan petani/peternak,” kata Luqman Hakim.

Terpisah, pihak Kepolisian Daerah Jawa Timur mengelak info penangkapan peternak ayam itu.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Kepolisian Daerah Jawa Timur Komisaris Besar Polisi Gatot Repli Handoko berdalih, bahwa pihaknya hanya membawa pria pembentang poster untuk dimintai keterangan dan tidak menangkapnya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Terlalu Lama Sekolah Online, Pelajar Pilih Menikah

Read Next

Resep Bomboloni Devina Hermawan