ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
21 September 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Divaksin Covid-19, Pelajar Sulsel Tak Bisa Jalan

Kelompok Prioritas Penerima Vaksin Covid-19

Konfirmasitimes.com-Jakarta (13/09/2021). Seorang pelajar diSulawesi Selatan (Sulsel) menambah daftar panjang orang yang terkena dampak buruk usai divaksin Covid-19.

Pelajar itu bernama Andi Muhammad Dirga Erlangga  (15), pelajar SMA Negeri 2 Enrekang.

Diduga usai mendapatkan vaksinasi COVID-19 tahap 1 di sekolah, pelajar tersebut kemudian sakit demam tinggi sampai tak bisa berjalan.

Kabar ini beredar luas dimedia sosial dalam sebuah video yang memperlihatkan pelajar tersebutharus dipapah saat berjalan.

Video itu diunggah oleh sang ibu,Andi Erna.

Dalam video tersebut, Andi Erna menyampaikan bila anaknya tidak bisa berjalan setelah divaksin COVID-19.

Menurut keterangan sang ibu, tiga hari usai divaksin pada Rabu (08/09/2021), anaknya mulai demam tinggi selama tiga hari.

Tak hanya itu, sang anak juga merasakan sakit di bagian lutut dan pergelangan kaki.

Divaksin Covid-19, Pelajar Sulsel Tak Bisa Jalan

“Selain demam, Dirga juga tidak bisa berjalan, saat berdiri dia merasa kesakitan di kedua lutut dan pergelangan kakinya, untuk menuju toilet pun anak saya harus merangkak,” jelas Andi Erna, melalui keterangannya, Minggu (12/09/2021).

Lebih parahnya lagi, Sang ibu mengaku tak tahu bila anaknya sudah divaksin.

Sang ibu tak pernah mendapatkan informasi dari pihak sekolah, terkait vaksinasi anaknya.

“Saya panik setelah melihat kartu vaksin anak saya, ternyata dia divaksin tanpa sepengetahuan saya setelah saya berikan obat turun panas namun suhu badannya tidak turun, saya langsung ke praktek dokter dan melakukan konsultasi,” terangnya.

Sementara itu, pihak Surveilans Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Enrekang, Yusra, mengatakan sudah melakukan pemantauan langsung terhadap Andi Muhammad Dirga Erlangga.

“Iya, tadi pagi kami menerima laporannya sekitar pukul 11.00 WITA, dan kami sudah melakukan pemantauan langsung ke rumah pasien pukul 13.30 WITA siang tadi. Tim yang turun penelusuran kasus tadi adalah Kasie Survim Dinkes, Surveilans Dinas Kesehatan Enrekang dan TRC/PSC Dinkes Enrekang,” ujar Yusra.

Yusra membeberkan dari hasil penelusuran sementara, demam pelajar tersebut sudah tidak ada. Akan tetapi rasa nyeri di lutut dan pergelangan tangan masih ada.

“Demam sudah tidak ada, nyeri pada persendian di tangan sudah tidak ada, nyeri pada lutut dan pergelangan kaki saat pasien berdiri dan berjalan, tapi respons syaraf kaki masih ada,” jelasnya.

“Gejala kelumpuhan sampai pemeriksaan awal tadi tidak ada, pasien bisa mengangkat, meluruskan dan membengkokkan kaki sendiri tanpa dibantu. Hingga kami tinggalkan rumah pukul 15.30 WITA, yang bersangkutan masih dirawat di rumah dan sudah minum obat dari dokter praktek, keluhan hingga sore tadi sisa nyeri pada lutut dan pergelangan kaki saat berdiri dan berjalan, sedikit tegang pada leher,” imbuhnya.

Sebelumnya, seorang guru di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mengalami gejala tak menyenangkan usai disuntik vaksin Covid-19.

Guru tersebut bernama Susan Antela (31). Susan tinggal di Desa Cicadas, Kecamatan Cisolok.

Susan mengalami lumpuh usai mendapatkan vaksinasi Covid-19.

Menurut keterangan dari adik Susan bernama Yayu (26), sepuluh menit usai disuntik vaksin, kakaknya mengalami gejala pusing, mual dan tubuh menjadi lemas.

“Nah, pada saat disuntik itu sebenarnya keluar darah, darahnya banyak. Teteh (kakak) sampai bilang darahnya mancer (menyembur) katanya kayak gitu, terus disuruh duduk. Disuruh duduk bukannya membaik, malah merasa sesak,” kata Yayu, dalam keterangannya kepada media, Kamis (29/04/2021) lalu.

Diketahui, Susan bersama ratusan guru SMK di Cisolok mengikuti vaksinasi oleh pihak Puskesmas Cisolok.

Kala itu, Susan diminta oleh petugas medis untuk berbaring karena gejala yang dirasakan. Namun, menurut Yayu, bukannya membaik, keadaan kakaknya malah semakin parah.

Tangan dan kaki Susan menjadi kaku kemudian penglihatannya menjadi buram.

Tak hanya itu, menurut keterangan dari paman Susan bernama Opi S (43), usai vaksinasi kedua, badan Susan sudah kaku hingga tak bisa melihat dan berbicara.

“Setelah divaksin yang kedua, Susan dilarikan ke Rumah Sakit Palabuhanratu, dikarenakan badannya sudah kaku, enggak bisa ngomong, enggak bisa lihat. Setelah dilarikan ke Rumah Sakit Palabuhanratu, di situ dokter tidak bisa menangani, dirujuk ke RSHS Bandung,” ujar Opi.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Lokasi dan Jadwal SIM Keliling Hari Ini, Senin 13 September 2021

Read Next

Deposito Nasabah Rp45 Miliar Hilang, Polri Ungkap Siapa Pelakunya