ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
21 September 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Deposito Nasabah Rp45 Miliar Hilang, Polri Ungkap Siapa Pelakunya

Terlibat Investasi Bodong, Peserta Ajang Pencarian Bakat Ditangkap Polisi

Konfirmasitimes.com-Jakarta (13/09/2021). Bareskrim Polri mengamankan pelaku berinisial MBS yang didugamenilap uang deposito milik nasabah sebuah bankdi Makassar.

MBS tersebut merupakan seorang pegawai bank.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dirtpideksus) Bareskrim Polri Brigjen Pol Helmy Santika dalam keterangannya menyampaikan sejauh ini MBS telah ditetapkan sebagai tersangka.

“Pelaku sudah ditetapkan sebagai tersangka dan sudah dilakukan penahanan. Tersangka MBS adalah pegawai,” ujar Helmy, Minggu (12/09/2021).

Penangkapan dan penahan MBS, kata Helmy, berawal dari laporan yang dibuat kantornya sendiri.

Laporan itu tercatat dengan nomor LP/B/0221/IV/2021/Bareskrim tanggal 1 April 2021 tentang dugaan Tindak Pidana Perbankan dan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Dalam kasus ini, kata Helmy, penyidik memeriksa sejumlah saksi. Saksi-saksi tersebut antara lain dari pihak bank, nasabah, dan pihak lain yang mungkin mengetahui duduk perkara kasus tersebut.

Sejauh ini, kata Helmy, penyidik telah memeriksa 20 saksi dan dua ahli perbankan dan pidana. Dari hasil pengembangan, pihak kepolisian menetapkan dua tersangka lain.

“Hasil pengembangan penyidikan ada penambahan dua tersangka lainnya. Saat ini berkas sudah dikirimkan (pelimpahan tahap satu) ke kejaksaan,” jelasnya.

Helmy mengungkapkan, pihak bank atau pelapor tak mengalami kerugian, melainkan nasabah berinisial IMB harus rugi sebesar Rp45 miliar. Selain itu nasabah lainnya berinisial H harus rugi Rp16,5 miliar.

Kemudian nasabah yang lain berinisial R dan A. Masing-masing alami kerugian sebesar Rp50 miliar, namun sudah dibayar.

“Deposan Saudara IMB (hilang) sejumlah Rp45 miliar dari dana deposan seluruhnya Rp70 miliar dan sudah dibayar Rp25 miliar,” kata Helmy.

“Deposan saudara H (hilang) sebesar Rp16,5 miliar dari dana yang didepositokan sebesar Rp20 miliar, sudah dibayar Rp3,5 miliar,” katanya.

Mengenai kronologi kasus ini, Helmy menuturkan, semua berawal saat pelaku MBS menawarkan keuntungan kepada nasabah RJ dan AN pada pertengahan Juli 2019.

Caranya, kedua nasabah itu diminta untuk membuka deposito di sebuah bank pelat merah cabang Makassar dengan bunga 8,25 persen dan akan mendapatkan bonus lainnya.

Tak hanya RJ dan AN, MBS juga menawarkan hal yang sama ke nasabah berinisial HN dan IMB pada sekitar Juli 2020.

Lalu, tersangka MBS menyerahkan slip ke para nasabah untuk ditandatangani dengan alasan akan dipindahkan ke rekening deposito.

Akan tetapi, dana para nasabah itu ternyata ditarik dan disetorkan ke rekening fiktif yang sudah disiapkan oleh MBS bersama rekannya.

“Dana yang ada di rekening bisnis deposan ditarik dan dalam waktu yang bersamaan disetorkan ke rekening yang sudah disiapkan oleh tersangka MBS dan kawan-kawan, di antaranya terdapat rekening fiktif atau bodong,” katanya.

Kasus ini bermula dan terendus ketika seorang nasabah mengaku kehilangan dana deposito sebesar Rp45 miliar.

Nasabah itu merupakan pengusaha bernama Andi Idris Manggabarani. Syamsul Kamar, kuasa hukum Andi Idris, mengatakan dana kliennya itu hilang pada Februari 2021. Kala itu, Andi Idris hendak mencairkan bilyet deposito miliknya.

Namun, ia gagal melakukan pencairan untuk kepentingan bisnis. Sedangkan, pihak bank tidak bisa memberi penjelasan yang memuaskan ke mana dana milik nasabah.

Pihak bank belakangan pun tidak bisa mengembalikan dana Rp45 miliar milik Andi Idris.

“Selain itu tidak ditemukannya solusi atau penyelesaian dalam mediasi yang dilakukan pihak bank,” kata Syamsul dalam keterangan tertulisnya, beberapa waktu lalu.

Syamsul mengatakan pihak bank beralasan bilyet deposito dari Andi Idris tidak terdaftar dalam sistem bank mereka.

Jadi, pihak Andi Idris pun balik melaporkan bank pelat merah tersebut ke Polda Sulawesi Selatan pada tanggal 9 Juni 2021.

“Pihak kami pada tanggal 9 Juni 2021 membuat laporan ke Polda Sulsel tentang adanya dugaan kejahatan yang dilakukan oleh manajemen bank,” ujar Syamsul.

Terkait kejadian ini, Helmy memberikan peringatan kepada masyarakat supaya berhati-hati ketika menerima tawaran produk perbankan atau saat menerima dokumen dari pegawai bank.

Ia meminta masyarakat tidak asal percaya begitu saja dan selalu mengecek ulang tawaran tersebut.

Terpenting, ia mengingatkan, jangan pernah menandatangani slip kosong yang disodorkan pegawai bank.

“Jangan mau tanda tangan di slip kosong yang disodorkan oleh pegawai bank,” kata Helmy.

“Karena akan mudah untuk diisi dengan penyelewangan atau penyalahgunaan dari oknum,” imbuhnya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Divaksin Covid-19, Pelajar Sulsel Tak Bisa Jalan

Read Next

Korea Utara Uji Coba Rudal Jarak Jauh Sepanjang 1.500 Km