ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
21 October 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Banyak Anak Indonesia Jarang Belajar Selama Pandemi, Indonesia Terancam Kurangnya Keahlian Anak

Doa Sebelum Belajar Sesuai Sunnah

Konfirmasitimes.com-Jakarta (08/09/2021). Global Save The Children Indonesia dalam hasil penelitiannya menemukan bahwa tujuh dari 10 anak jarang belajar selama Indonesia berstatus pandemi Covid-19.

Penelitian tersebut dilaksanakan bersamaan dengan studi di 45 negara lainnya selama Juli 2020.

Alasan jarang belajar rupanya tak hanya materi belajar yang terbatas, namun anak lantaran akses internet, fasilitas gawai hingga demotivasi sebab sulit memahami pengajaran orang tua dan tak mendapat bimbingan guru secara tatap muka.

“Studi kami sangat jelas menggambarkan bahwa banyak anak-anak di Indonesia menghadapi kesulitan dalam belajar daring, motivasi belajar menjadi menurun dan ini bisa berpengaruh pada kemampuan literasi dan numerasi anak”, ujar CEO Save the Children Indonesia Selina Patta Sumbung, melalui keterangannya, Rabu (08/09/2021).

Hasil survei tersebut menggambarkan upaya anak-anak yang tak mendapat kuota internet namun tetap melakukan berbagai cara agar dapat mengakses pembelajaran. Sebagai contoh, menghemat penggunaan aplikasi pembelajaran, memanfaatkan fasilitasi wifi gratis bahkan mencari lokasi dengan akses signal yang kuat.

Selina mengatakan penting bagi seluruh pihak melakukan antisipasi kesulitan belajar yang menjadikan anak-anak kehilangan kemampuan dan pengalaman belajar. Terlebih ini dikhawatirkan bakal berdampak pada kurangnya keahlian anak di saat dewasa (less-skilled workers) untuk bisa berkompetisi di dunia kerja atau usaha, serta berakhir pada menurunnya kemampuan menghasilkan pendapatan (decreased earning capacity).

Salah satu contoh terjadi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari survei yang dilakukan terdapat 44 dari 105 responden anak (42%) menyampaikan bahwa mereka tak mendapatkan kuota gratis baik dari pemerintah maupun sekolah, yang menyebabkannya kesulitan belajar.

“Hasil survei kami menemukan bahwa anak-anak yang tidak mendapatkan kuota gratis ini salah satu alasannya karena tidak terdata padahal secara faktor ekonomi mereka sangat membutuhkan. Jadinya banyak anak yang merasa sedih, kecewa bahkan merasa ini tidak adil,” ujar Koordinator Child Campaigner Save the Children di Yogyakarta, Gya, dalam keterangannya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Wuih! Ini Lho Deretan Fasilitas Jakarta International Stadium yang Bakal Memanjakan Anda

Read Next

Cara Cek Lokasi Ujian SKD CPNS 2021