ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
20 October 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Kasus Dugaan Korupsi Perum Perindo, Kejagung Periksa Tiga Orang

Dugaan Korupsi di BPJS Ketenagakerjaan, Kejagung Jadwalkan Periksa 20 Saksi

Konfirmasitimes.com-Jakarta (07/09/2021). Sebanyak tiga orang saksi terkait dugaan perkara tindak pidana korupsi pengelolaan keuangan dan usaha Perusahaan Umum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) telah diperiksa oleh Tim Jaksa Penyidik pada Direktorat Penyidikan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (JAM Pidsus) Kejaksaan Agung (Kejagung).

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung, Leonard Eben Ezer Simanjuntak, melalui keterangan tertulisnya mengungkapkan ketiga saksi yang diperiksa diantaranya berinisial TK dan A selaku Wiraswasta, serta RRRP selaku Direktur CV. Sinar Lema.

“Diperiksa terkait dengan pengelolaan keuangan perusahaan umum perikanan Indonesia,” ujar Leonard, Senin (06/09/2021).

Lebih lanjut, Leonard membeberkan kasus dugaan tindak pidana praktik korupsi ini berawal pada 2017 Perum Perindo menerbitkan MTN (Medium Tern Notes) atau surat utang jangka menengah.

MTN adalah salah satu cara mendapatkan dana dengan cara menjual prospek. Adapun prospek yang dijual Perum Perindo dalam hal penangkapan ikan.

Kemudian Perum Perindo mendapatkan dana MTN sebesar Rp200 miliar yang diterbitkan secara bertahap.

Pertama, Agustus 2017 sebesar Rp100 miliar dengan return 9 persen dibayar per triwulan, jangka waktu 3 tahun yang jatuh tempo pada Agustus 2020.

Kedua, Desember 2017 sebesar Rp100 miliar dengan return 9,5 persen dibayar per triwulan, jangka waktu 3 tahun yang jatuh tempo pada Desember 2020.

Menurut Leonard, dari MTN yang diterbitkan di 2017 sebesar Rp200 miliar, Perum Perindo menggunakannya sebagian besar dananya untuk modal kerja perdagangan.

Hal ini bisa dilihat dengan meningkatnya pendapatan perusahaan yang di 2016 sebesar kurang lebih Rp223 miliar, meningkat menjadi kurang lebih Rp603 miliar di 2017 dan mencapai kurang lebih Rp1 triliun di 2018.

Kontribusi terbesar berasal dari pendapatan perdagangan. Pencapaian dilakukan dengan melibatkan semua unit usaha untuk melakukan perdagangan sehingga menimbulkan permasalahan kontrol transaksi perdagangan menjadi lemah, di mana masih terjadi transaksi walau mitra terindikasi macet.

Leonard mengatakan, kontrol yang lemah dan pemilihan mitra kerja yang tidak hati-hati mempengaruhi perdagangan pada saat itu.

Hal ini mengakibatkan perputaran modal kerjanya melambat dan akhirnya sebagian besar menjadi piutang macet sebesar Rp181.196.173.783.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Tarif Tol Trans-Jawa Pemalang Batang Alami Kenaikan

Read Next

Merasa Korban Cyber Bullying, Terduga Pelaku Pelecehan Seksual di KPI Ancam Lapor Balik