ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
19 October 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Bye-bye Dolar AS, Indonesia-China Berlakukan Rupiah dan Yuan

Bye-bye Dolar AS, Indonesia-China Berlakukan Rupiah dan Yuan

Konfirmasitimes.com-Jakarta (07/09/2021). Tak lagi menggunakan dolar AS, Indonesia-China mulai resmi memakai mata uang lokal yaitu Rupiah dan Yuan.

Hal tersebut diketahui saat Bank Indonesia (BI) dan People’s Bank of China (PBC) secara resmi memulai implementasi kerja sama penyelesaian transaksi bilateral dengan mata uang lokal (Local Currency Settlement/LCS) antara Indonesia dan China.

Kerangka kerja sama ini disusun berdasarkan Nota Kesepahaman yang telah disepakati dan ditandatangani oleh Gubernur BI, Perry Warjiyo, dan Gubernur PBC, Yi Gang, pada tanggal 30 September 2020.

Kerangka kerja sama tersebut diantaranya penggunaan kuotasi nilai tukar secara langsung (direct quotation) dan relaksasi regulasi tertentu dalam transaksi valuta asing antara mata uang Rupiah dan Yuan.

“Selain dengan Tiongkok, saat ini BI juga telah memiliki kerangka kerja sama LCS dengan beberapa negara mitra lainnya, yaitu Jepang, Malaysia, dan Thailand,” kata Direktur Komunikasi BI Erwin Haryono.

Adapun implementasi LCS ini merupakan kesepakatan antara BI dengan People’s Bank of China (PBC).

Kerja sama kedua negara diantaranya meliputi penggunaan kuotasi nilai tukar secara langsung (direct quotation) dan relaksasi regulasi tertentu dalam transaksi valuta asing (valas) antara rupiah dan yuan.

“Kerja sama ini disusun berdasarkan nota kesepahaman yang telah disepakati dan ditandatangani oleh Gubernur BI Perry Warjiyo dan Gubernur PBC Yi Gang pada 30 September 2020,” tulis BI dalam laman resminya.

BI menyampaikan pihaknya dan PBC telah menunjuk sejumlah bank di negara masing-masing untuk berperan sebagai Appointed Cross Currency Dealer (ACCD). Bank-bank yang ditunjuk adalah perusahaan yang memiliki kemampuan memfasilitasi transaksi rupiah dan yuan.

Bank-bank yang telah ditetapkan sebagai ACCD di Indonesia, yakni PT BCA Tbk. Bank of China (Hongkong) Ltd. PT Bank China Construction Bank Indonesia Tbk, PT Bank Danamon Indonesia Tbk, PT Bank ICBC Indonesia, dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Kemudian, PT Bank Maybank Indonesia Tbk, PT BNI (Persero) Tbk, PT Bank OCBC NISP Tbk, PT Bank Permata Tbk, PT BRI (Persero) Tbk, PT Bank UOB Indonesia.
Sementara, bank yang ditunjuk sebagai ACCD di China adalah Agriculture Bank of China, Bank of China, Bank of Ningbo, Bank Mandiri Shanghai Branch, China Construction Bank, Industrial and Commercial Bank of China, Maybank Shanghai Branch, dan United Overseas Bank (China) Limited.

Selain itu, BI mengungkapkan kerja sama LCS juga telah dilakukan dengan negara mitra lain. Negara-negara itu, seperti Jepang, Malaysia, dan Thailand.

BI mengatakan kerjasama ini adalah bagian dari upaya bank sentral untuk mendorong penggunaan mata uang lokal yang lebih luas dalam penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi langsung dengan berbagai negara mitra.

“Perluasan penggunaan LCS diharapkan dapat mendukung stabilitas rupiah melalui dampaknya terhadap pengurangan ketergantungan pada mata uang tertentu di pasar valas domestik,” tulis BI lagi.

BI juga membeberkan penggunaan LCS memberikan sejumlah manfaat langsung untuk pelaku usaha. Pertama, biaya konversi transaksi dalam valas lebih efisien.

Kedua, ada alternatif pembiayaan perdagangan dan investasi langsung dalam mata uang lokal. Ketiga, terdapat alternatif instrumen lindung nilai dalam mata uang lokal.

Keempat, diversifikasi eksposur mata uang yang digunakan dalam penyelesaian transaksi luar negeri.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Cara Terbaik untuk Merawat Diri Sendiri

Read Next

Ilmuwan Ungkap Siapa yang Paling Berisiko Terkena Obesitas