ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

H. Ya’qub Hasyim, Ulama Terkenal di Jombang

H. Ya'qub Hasyim, Ulama Terkenal di Jombang

Konfirmasitimes.com-Jakarta (03/07/2021). H. Ya’qub Hasyim atau dikenal dengan sebutan Gus Ya’qub lahir pada tahun 1366 H atau bertepatan pada tahun 1947 M di Pondok Pesantren Jombang. Beliau merupakan putra ketiga dari tiga bersaudara, dari pasangan KH. Hasyim Asy’ari dengan Bu Nyai Masruroh.

Saudara-saudara beliau diantaranya, Bu Nyai Khodijah Hasyim, Gus Abdul Kadir Hasyim, dan Gus Ya’qub Hasyim.

Gus Ya’qub kecil sudah menjadi yatim, karena sewaktu bayi ayah beliau wafat. Selanjutnya Gus Ya’qub kecil ini diasuh oleh ibunya dan saudara tertua beliau, Bu Nyai Khodijah Hasyim.

Gus Ya’qub wafat pada tahun 1998 M atau 1419 H, atau sekitar berumur 51 tahun. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman Masyayikh Tebuireng.

Gus Ya’qub tumbuh di keluarga yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan agama, karena Pondok Pesantren Tebuireng adalah salah satu sumber ilmu di kala itu.

Hal tersebutlah yang membuat Gus Ya’qub mengabiskan waktunya untuk terus belajar di Tebuireng. Tapi anehnya, cara belajar beliau adalah dengan otodidak, alias beliau banyak membaca dan belajar sendiri.

Sejak Kecil Gus Ya’qub sudah memiliki keanehan. Beliau melakukan hal hal yang kurang wajar yang biasa dilakukan oleh manusia pada umumnya.

Gus Zakky Hadzik pernah menuliskan, suatu hari ada seorang santri mendengar Gus Ya’qub membaca kitab di dalam kamar. Ketika dilihat melalui lobang jendela, betapa terkejutnya santri tersebut melihat bahwa Gus Ya’qub sedang sorogan langsung kepada Hadratussyekh Hasyim Asy’ari abahnya yang telah lama wafat.

Kisah lain, sering sekali Gus Ya’qub ketika masih muda terlihat membaca kitab kuning disamping maqbarah abahnya dikomplek Pondok Pesantren Tebuireng. Sepertinya, walau Hadratussyekh sudah wafat, namun jiwa mengajarnya tidaklah pernah padam.

Gus Ya’qub juga sering menyendiri di kamar pojok, sebelah maqbaroh. Dan di dalamnya terdengar suara tanpa rupa. Konon katanya suara tersebut adalah KH. Hasyim Asy’ari, yang sedang mengajari Gus Ya’qub.

Gus Ya’qub itu lebih suka berjalan kemana-mana dengan sepedanya, daripada berdiam diri di rumah. Sehingga keluarga beliau mengkhawatirkan atas diri beliau. Keluarga Ndalem memerintahkan salah satu santri untuk mengikuti kemana Gus Ya’qub pergi.

Sebagai pribadi yang berilmu, beliau memiliki tanggung jawab untuk mengamalkan ilmu yang diperolehnya, oleh karena itu beliau pernah mengajar kitab Bulughul Marom. Menurut sebagian riwayat, jika ada santri yang tidak mengikuti pengajiannya, tidak segan segan beliau menampar santri tersebut.

Diceritakan juga bahwa Gus Ya’qub pernah suatu hari mengajar Bahasa Inggris, padahal kenyataannya beliau tidak pernah belajar bahasa Inggris. Mungkin ini adalah salah satu ilmu laduni, yang tak sembarang orang bisa mendapatkannya.

Ada yang mengatakan bahwa Gus Ya’qub adalah seorang wali jadzab, memang benar pernyataan tersebut. Dalam keseharian beliau, banyak terjadi keanehan dalam perilaku, ucapan, tindakannya. Seperti yang pernah ditulis oleh Gus Zakky Hadzik:

“Ya, Gus Ya’qub yang sehari bisa habis 7 bungkus rokok, yang bisa menghidupkan segala jenis kendaraan dengan kunci apa saja, yang terkadang tidur 10 jam sehari, yang membuat besi menjadi lembek, yang dawuhnya terkadang perlu juru tafsir untuk memahaminya, yang terkadang telanjang, yang Gus Dur segan kepadanya”.

Walaupun begitu, pihak keluarga juga menginginkan Gus Ya’qub normal saja, tidak Jadzab. Karena sering membuat pihak keluarga khawatir terhadap beliau, juga orang lain. Pihak keluarga berencana untuk menyowankan Gus Ya’qub kepada seorang wali yang masyhur, yaitu Mbah Hamid Pasuruan, guna untuk menyadarkan Gus Ya’qub dari Fana’ yang terlalu.

Karena Mbah Hamid juga seorang wali, beliau memiliki keistimewaan yaitu bisa weruh sedurunge winarah. Sebelum keluarga memberangkatkan Gus Ya’qub, Mbah Hamid malah sudah datang ke Tebuireng. Niat untuk menyowankan pun gagal, karena kerawuhan Mbah Hamid.

Dari kerawuhan Mbah Hamid ini menandakan bahwa Gus Ya’qub memiliki tingkatan yang tidak rendah. Hubungan bathiniyah wali dengan wali yang lain itu sangat erat sekali.

Gus Ya’qub sering ngendikan dengan bahasa isyarat yang sulit dipahami. Seperti pengakuan salah satu santri Tebuireng dulu, ketika santri tersebut bertemu Gus Ya’qub di jalan, beliau sambil bernyanyi-nyanyi “darah mengalir sampai jauh”. Tak lama kemudian terjadi peristiwa pembunuhan para dukun santet yang sempat ramai di seluruh Jatim.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Lirik Lagu Here’s Your Perfect – Jamie Miller

Read Next

Catat, Ini Jam Operasional KRL Commuter Line Terbaru