ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
1 August 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Duh! Serem, Pinjol Transfer Dana Tiba-tiba Tanpa Sepengetahuan dan Persetujuan

Hati-hati! Terperangkap Pinjol Ilegal: Cek, Ini Daftar yang Berizin

Konfirmasitimes.com-Jakarta (01/07/2021). Modus baru fintech P2P lending atau pinjaman online (pinjol) beraneka ragam, kini mereka semena-mena mengirimkan dana secara tiba-tiba kepada masyarakat tanpa persetujuan atau sepengetahuan pihak yang bersangkutan.

Ketua Satgas Waspada Investasi (SWI) Tongam L. Tobing menduga kejadian itu karena tindakan masyarakat mengunduh aplikasi pinjol ilegal walaupun urung meminjam.

“Saat ini ada modus tiba-tiba saja mendapat transfer dana dan tidak diketahui dari mana. Ini menjadi perhatian kita bersama bagaimana mungkin pelaku ini mengetahui nomor rekening dari nasabah,” kata Tongam dalam diskusi Waspada Jebakan Pinjaman Online Ilegal, Rabu (30/06/2021).

Adapun modus lainnya, dibeberkan Tongam, pinjol ilegal mulai berkomplot untuk mengarahkan debitur yang tidak bisa membayar pinjaman supaya mengambil pinjaman ke tempat lain. Alhasil, masyarakat masuk jeratan lebih dari satu pinjol ilegal. Ia mencontohkan salah satu kasus yang dihadapi satgas adalah korban yang meminjam hingga ke 141 pinjol ilegal.

“Ini sangat bahaya bagaimana mungkin mereka ini bisa melakukan kegiatan pinjaman tanpa melihat potensi pengembaliannya,” terangnya.

Sementara itu menurut keterangan Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi , ada pengaduan nasabah diklaim sebagai debitur.

“Sekarang pinjol ilegal itu bisa mentransfer uang pinjaman ke rekening konsumen sementara konsumen tidak melakukan pinjaman,” katanya.

Jadi, Tulus berpandangan regulator baik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) maupun Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) harus memperketat pengawasan. Tidak hanya pada pinjol ilegal, ia menuturkan masih menemukan pengaduan bersumber dari pinjol legal.

“Sebanyak 70 persen pengaduan yang kami terima adalah pinjol ilegal, tapi 30 persen adalah pinjol legal. Jadi, bukan berarti pinjol legal tidak bermasalah, ada banyak masalah, tidak boleh terfokus pada yang ilegal saja yang legal juga harus dibereskan,” jelas Tulus.

Berdasarkan informasi dari data YLKI, rata-rata pengaduan konsumen pada 2020 berasal dari sektor jasa keuangan sebesar 33,40 persen. Termasuk pengaduan jasa keuangan adalah permasalahan menyangkut pinjol. Sisanya, pengaduan sektor perumahan 5,7 persen, telekomunikasi 8,3 persen, dan e-commerce 12,70 persen.

“Selama 2-3 tahun terakhir selain e-commerce pengaduan konsumen yang paling banyak adalah masalah pinjol,” jelasnya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Suhu Panas Capai 50 Derajat, Kota-kota di Irak Tutup Lima Hari

Read Next

Myanmar Bebaskan Ribuan Tahanan