ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

BEM Unair Tanggapi Langkah BEM UI Kritik Jokowi

Dear Jokowi Menggema; Presiden Dinilai Pilih Kasih

Konfirmasitimes.com-Jakarta (30/06/2021). Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Jawa Timur, mengapresiasi aksi BEM Universitas Indonesia (UI), menyebut ‘The King of Lip Service’ kepada Presiden RI Joko Widodo (Jokowi).

Ketua BEM Unair Muhammad Abdul Chaq menyampaikan pihaknya mengapresiasi teman-teman mahasiswa berani kritik pemerintah.

“Pada prinsipnya kami akan terus bersolidaritas bersama kawan-kawan yang lain untuk menyampaikan kritik dan masukan ke pemerintah. Kami pun mengapresiasi sikap yang diambil BEM UI karena berani melontarkan kritik secara tegas dan vulgar,” ujar Chaq, dalam keterangannya kepada media, Selasa (29/06/2021).

Chaq berpandangan sikap Rektorat UI yang dengan respon cepat memanggil awak BEM UI, ia melihatnya sebagai wujud kepanikan. Aksi tersebut juga bentuk pembungkaman terhadap ruang kritis dan kebebasan berekspresi mahasiswa

“Disamping bentuk dari kepanikan, kami melihat adanya surat panggilan itu sebagai upaya membatasi pikiran kritis dan kebebasan berekspresi,” katanya.

“Kampus seharusnya menjadi ruang yang menjamin itu. Jika ada substansi yang keliru maka buatkan ruang-ruang dialogis agar publik semakin teredukasi,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, kritikan dari BEM UI yang menyebut Jokowi sebagai ‘King of Lip Service’ ditanggapi oleh pihak bersangkutan.

BEM UI mencuit di Twitter dengan menampilkan foto Jokowi berdiri di sebuah mimbar, mengenakan tahta raja, dan latar belakangan bibir, disertai keterangan King of Lip Service.

Menurut Presiden, kritikan tersebut sebagai bentuk ekspresi mahasiswa.

“Ya saya kira ini bentuk ekspresi mahasiswa dan ini negara demokrasi. Jadi kritik ini ya boleh-boleh saja,” kata Jokowi di Youtube Sekretariat Presiden, Selasa (29/06/2021).

Jokowi menilai pihak universitas jangan menghalangi mahasiswa untuk bebas berekspresi.

“Ya saya kira biasa saja mungkin mereka sedang belajar mengekspresikan pendapat, tapi yang saat ini penting kita semuanya memang bersama-sama fokus penanganan pandemi covid-19,” katanya.

Meski demikian, rupanya kritikan BEM UI yang menyebut Jokowi The King Of Lip Service itu berbuntut panjang.

Pihak kampus memanggil sejumlah mahasiswa. Sementara BEM UI menolak menghapus unggahan itu.

Pemanggilan terhadap BEM dilayangkan rektorat lewat surat nomor: 915/UN2.RI.KMHS/PDP.00.04.00/2021 yang bersifat penting dan segera. Pertemuan dilakukan di ruang rapat Ditmawa lantai 1, Minggu (27/06/2021) pukul 15.00 WIB. Aksi Rektorat UI jadi sorotan. Bukan saja dinilai tak tepat, namun juga berlebihan.

Sementara itu, Koordinator Pusat Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) Nofrian Fadil Akbar meminta rektorat perguruan tinggi tidak menjadi alat pemerintah untuk membungkam gerakan mahasiswa.

“Jangan sampai rektorat atau kampus dijadikan alat oleh pemerintah membungkam gerakan mahasiswa,” ujar Fadil dalam keterangannya kepada media, Selasa (29/06/2021).

Menurut Fadil, Rektor sebaiknya mendukung aksi bentuk keresahan mahasiswa dan masyarakat, meski dalam bentuk kritikan.

“Rektor itu jangan sampai bungkam gerakan yang dilakukan mahasiswa. Gerakan mahasiswa kan keresahan masyarakat juga,” katanya.

Fadil mengungkapkan mahasiswa tak boleh takut untuk menyuarakan kebenaran meski ada tekanan.

“Saya juluki mahasiswa itu seperti per. Semakin ditekan, loncatannya makin tinggi dan makin besar. Jangan takut,” terangnya.

Tak hanya BEM UI, BEM Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) menjuluki Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan sebutan presiden Orde (Paling) Baru. Hal itu disampaikan BEM UGM tepat pada hari ulang tahun Jokowi, 21 Juni lalu.

Kritik terhadap Jokowi itu disampaikan BEM UGM sebelum BEM Universitas Indonesia (BEM UI) menyebut Jokowi sebagai The King of Lip Service atau Raja Pembual.

“Sugeng Ambal Warsa (selamat ulang tahun) Bapak Presiden Orde (Paling) Baru,” tulis akun instagram @bemkm_ugm.

BEM UGM juga mendoakan agar pada usianya ke-60, Jokowi masih ingat dengan janji kampanye 2019 lalu ihwal penyelesaian kasus HAM berat masa lalu.

BEM UGM juga mengharapkan Jokowi bisa semakin dewasa dalam merespons berbagai kritik dan masukan dari masyarakat. Ini merupakan sindiran atas isu revisi UU ITE dan RKUHP.

Presiden BEM UGM Muhammad Farhan mengatakan unggahan itu terinspirasi dari ucapan ulang tahun para pejabat publik kepada Jokowi.

“Kan banyak pejabat yang melakukan itu (ucapan ulang tahun) pada presiden, sehingga kita ingin meng-counter-nya di hari yang sama,” kata Farhan.

Farhan mengaku tidak mendapat intervensi atau tanggapan dari pihak kampus mengenai unggahan itu. Ia menekankan kebebasan berpendapat di UGM masih terjamin.

Dengan demikian, Farhan dan BEM UGM mengecam sikap Rektorat UI yang memanggil perwakilan BEM UI terkait kritik kepada Jokowi. Menurutnya, kampus harus menjadi tempat yang aman bagi mahasiswa.

“Ada kesan seolah ada represifitas dari kampus yang seharusnya jadi tempat kita bebas mengkritik pemerintah,” katanya.

Selain itu, mahasiswa UGM yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UGM merespons kritik BEM UI dalam salah satu unggahan mereka di akun Twitter @UGMBergerak. Mereka menyandingkan dua poster Jokowi.

Dalam poster milik mereka, terpampang foto Jokowi. Mereka kemudian menobatkan Jokowi sebagai Juara Umum Lomba Ketidaksesuaian Omongan dengan Kenyataan.

Sementara, poster satu lagi milik BEM UI yang memberi julukan Jokowi The King of Lip Service.

“Selamat kepada presiden Republik Indonesia @jokowi atas pencapaian dan prestasinya sehingga dapat meraih dua gelar terbaik yang diberikan oleh kami, mahasiswa. Indonesia Maju! [Berani, Kritis, Bergerak],” cuit @UGMbergerak

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Ilmuwan: Biji Bunga Matahari Terbukti Menjadi Pereda Nyeri yang Efektif

Read Next

Jadwal Seleksi Penerimaan CPNS dan PPPK 2021