ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Kasus Ekspor Benur Terus Diusut, Mulai dari Pernyataan Mengejutkan Saksi Hingga Edhy Prabowo Berharap Vonis Bebas

Kasus Ekspor Benur Terus Diusut, Mulai dari Pernyataan Mengejutkan Saksi Hingga Edhy Prabowo Berharap Vonis Bebas

Konfirmasitimes.com-Jakarta (17/06/2021). Selain ada nama wanita yang menerima kiriman uang, sejumlah politisi juga disinggung dalam kasus yang menjerat Eks Menteri KKP, Edhy Prabowo.

Edhy melalui Amiril Mukminin dan Ainul Faqih diketahui mengirim uang melalui Western Union setidaknya tiga kali, dengan jumlah seluruhnya USD 5 ribu, kepada Munisa, atlet asal Uzbekistan.

Edhy sebagai informasi, didakwa menerima suap sekitar Rp 24. 625.587.250.000 dan USD 77 Ribu terkait kasus suap izin ekspor benih lobster tahun 2020.

Jaksa KPK merinci penerimaan suap Edhy diterimanya melalui perantara yakni, Sekretaris Pribadinya Amiril Mukminin dan staf khususnya Safri menerima sejumlah USD 77 ribu dari bos PT Dua Putera Perkasa Pratama (DPPP) Suharjito.

Edhy juga menerima uang suap senilai Rp 24 miliar dari Suharjito melalui Amiril Mukminin; staf pribadi Istri Edhy, Iis Rosita Dewi selaku Anggota DPR RI Ainul Faqih; dan staf khusus Edhy, Andreau Misanta Pribadi.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, Edhy  didakwa melanggar Pasal 12 huruf a atau Pasal 11 UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP jo Pasal 65 ayat (1) KUHP.

Kesaksian Staf Pribadi Edhy

Staf pribadi eks Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Edhy Prabowo, Amiril Mukminin, membenarkan telah mengirimkan uang kepada atlet pencak silat asal Uzbekistan bernama Munisa Rabbimova Azim Kizi.

Jaksa  penuntut umum  Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menanyakan saksi Amiril, apakah pernah diperintah Edhy mengirimkan uang ke Munisa.

Amiril  lalu menceritakan Edhy saat itu menyuruhnya untuk mengirimkan uang lantaran Munisa cedera saat laga ajang Sea Games di Indonesia.

“Apakah saksi pernah diperintahkan oleh terdakwa untuk mengirimkan uang pada Munisa Rabbimova Azim Kizi?” tanya Jaksa KPK.

“Pernah,” jawab Amiril, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat, Rabu (16/06/2021).

Terkait, berapa jumlah uang yang dikirimkan kepada Munisa. Amiril mengaku tak ingat. Amiril mengungkapkan dibantu Ainul Faqih, staf istri Edhy Prabowo yakni Iis Rosita Dewi, dalam mengirim uang kepada Munisa.

“Saya lupa itu pak (jumlah uangnya). Betul (turut dibantu Ainul Faqih),” kata Amiril.

Lebih lanjut, Amiril menuturkan hubungannya dengan Munisa. Amiril pengiriman uang ke atlet Uzbekistan lantaran Edhy merupakan manager kontingen pencak silat Indonesia.

“Sepengatahuan saya itu adalah atlet dari Uzbekistan. Waktu itu kan ada SEA Games yang diselenggarakan di Indonesia. Kebetulan Pak Edhy manager atlet Indonesia dan pada saat Rabbimova laga melawan Indonesia, dia mengalami cedera,” kata Amiril.

Amiril membeberkan uang yang dikirimkannya itu berasal dari dana pribadi Edhy.

“Sumber uangnya kalau itu masih dari punya bapak sendiri,” ujar Amiril.

Eks Menteri KKP Curhat

Di sela persidangan Edhy mengungkapkan pekerjaannya yang berat selama di KKP. Waktu itu diminta membangun sektor budi daya perikanan.

“Sekali lagi ini adalah kekurangan saya sebagai seorang pemimpin di organisasi KKP. Saya juga nggak berdalih atau menyalahkan. Tapi bagaimanapun juga, beban kerja saya tidak ringan, saya harus menghadapi pada awalnya, kan tugas saya dua. Membangun komunikasi dengan nelayan, pembudi daya ikan, petambak, dan seluruh stakeholder perikanan. Kedua adalah membangun sektor perikanan budi daya. Kedua hal ini harus segera saya implementasikan,” terang Edhy di sela sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (16/06/2021).

Tak sampai disitu, Edhy menyebut harus merapikan internal kementeriannya saat menjadi menteri. Edhy bahkan menyinggung terkait pekerjaan pimpinan sebelumnya yang amburadul. Edhy tidak menyebut dengan terang pimpinan sebelumnya itu, tetapi diketahui sebelum Edhy, KKP dipimpin oleh Susi Pudjiastuti sebagai menteri.

“Kemudian saya harus merapikan organisasi internal saya yang 151 orang kosong dari eselon I sampai IV, kemudian saya harus memperbaiki kinerja pimpinan yang amburadul. Mohon maaf saya nggak maksud mengecilkan yang dulu, yang masih sangat kurang,” katanya.

“Izin kapal ada yang nunggu, bagaimana aset kapal, aset perusahaan nggak jalan. Selama di Komisi IV saya tahu itu,” imbuhnya.

Edhy Harapkan Vonis Bebas

Edhy Prabowo mengungkapkan bertanggung jawab atas kasus yang menjeratnya kini. Dia menyebut hal itu sebagai bentuk tanggung jawab moral seorang menteri.

Lebih lanjut, Edhy berharap bisa dibebaskan dari segala tuntutan.

“Saya sudah 6,5 bulan lebih ditahan di KPK. Saya nggak bangga, tapi saya jalani sebagai tanggung jawab moral saya terhadap sebagai seorang menteri, sebagai seorang pemimpin di tempat ini. Saya berharap dari hasil kesaksian 70 lebih yang dihadirkan di sini, saya berharap majelis hakim tuntutan maupun putusan bisa membebaskan saya. Tapi saya tak akan lari dari tanggung jawab, makanya saya hadir di sini,” tuturnya.

Edhy sampaikan permohonan maaf

Edhy dalam persidangan menyempatkan menyampaikan permohonan maaf. Edhy mengatakan bila kebijakannya selama ini semata-mata untuk kepentingan masyarakat.

“Saya berharap pada nelayan, pelaku usaha perikanan, saya mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Tapi semangat itu kami tidak pernah berpikir sendirian, kami mendengar dari bawah. Bisa Anda lihat tadi masalah perizinan di Bitung hidup atau mati? Sekarang sudah mulai hidup, itu informasi yang saya dapat,” kata Edhy.

Usai Kasus Benur, Edhy ungkap fokus urus rumah tangga

Edhy Prabowo merasa banyak berita negatif yang menerpa dirinya pasca terlibat kasus suap ekspor benur.

Edhy mengungkapkan bakal memperbaiki berbagai hal, termasuk urus rumah tangganya.

“Tentang berita miring, nanti setelah ini saya akan perbaiki satu-satu. Paling penting saat ini saya menyelesaikan beban ini, tanggung jawab ini. Setelah itu saya akan urusin rumah tangga saya karena banyak yang harus diurus,” ujar Edhy.

Politisi ikut terseret dalam kasus yang menjerat Edhy

Nama Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin dan anggota DPR Fahri Hamzah muncul di sidang kasus ini.

Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri membeberkan bakal mengusut peran Azis dan Fahri dalam perkara suap ekspor benur. KPK terlebih dulu akan menganalisis fakta sidang yang ada untuk nantinya dihubungkan dengan alat bukti sehingga dapat membentuk fakta hukum.

“Fakta sidang perkara ini, baik keterangan saksi maupun para terdakwa, selanjutnya akan dianalisis tim JPU KPK dalam surat tuntutannya,” ujar Ali kepada wartawan, Rabu (16/06/2021).

“Analisis diperlukan untuk mendapatkan kesimpulan apakah keterangan saksi tersebut ada saling keterkaitan dengan alat bukti lain sehingga membentuk fakta hukum untuk dikembangkan lebih lanjut,” lanjutnya.

Nama Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin dan Fahri Hamzah terungkap saat

 Jaksa KPK mengungkap percakapan komunikasi Edhy Prabowo dengan stafsusnya bernama Safri terkait informasi perusahaan yang hendak mengikuti budi daya dan ekspor benur. Ada nama Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin dan Fahri Hamzah dalam percakapan itu.

Safri mengkonfirmasi penyitaan handphone-nya. Jaksa kemudian membuka chat antara Safri dan Edhy Prabowo.

“Ini ada WA dari BEP. Benar saudara saksi BEP ini pak Edhy Prabowo?” tanya jaksa KPK dan diamini Safri.

Adapun percakapan antara Edhy dan Safri yang dibaca jaksa KPK yakni sebagai berikut:

Edhy: Saf, ini orangnya Pak Azis Syamsuddin Wakil Ketua DPR mau ikut budi daya lobster, Novel Esda

Safri: Oke, Bang.

“Apa maksud Saudara saksi menjawab ‘oke, Bang’?” tanya jaksa.

“Maksudnya perintah beliau saya jalankan kalau untuk membantu secara umum, ya,” jawab Safri.

“Berarti ada perintah dari Pak Edhy pada saat itu?” timpal jaksa dan dijawab ‘iya’ oleh Safri.

Hakim ketua Albertus Usada lalu menanyakan lebih lanjut terkait perusahaan mana yang hendak dibawa Azis Syamsuddin untuk mengikuti ekspor benur. Namun Safri mengaku tidak ingat perusahaan apa.

Tak hanya itu, jaksa KPK mengungkapkan ada percakapan Edhy dengan Safri pada 16 Mei 2020. Isinya, hampir sama dengan chat sebelumnya, tapi di chat kedua ini bukan Azis lagi, melainkan mantan Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah.

“Pada tanggal 16 Mei juga, ‘Saf, ini tim Pak Fahri Hamzah mau jalan lobster. Langsung hubungi dan undang presentasi. Saksi menjawab ‘oke, Bang.’ Benar itu?” tanya jaksa KPK dan dibenarkan Safri.

“Berarti memang ada perintah dari Edhy? Saudara saksi masih ingat nama perusahaannya?” kata jaksa.

Namun Safri mengaku tak tahu menahu. Safri mengungkapkan hanya berkoordinasi dengan Andreau Misanta Pribadi yang juga stafsus Edhy dan Ketua Tim Uji Tuntas Ekspor Benur.

Dalam kasus ini Edhy Prabowo didakwa bersama-sama dengan Andreau Misanta Pribadi dan Safri (staf khusus Edhy Prabowo), Amiril Mukminin (sekretaris pribadi Edhy), Ainul Faqih (sekretaris pribadi istri Edhy, Iis Rosita Dewi) dan Siswadhi Pranoto Loe (pemilik PT Aero Cipta Kargo) menerima 77 ribu dolar AS dan Rp24,625 miliar. Totalnya mencapai sekitar Rp25,75 miliar dari para pengusaha pengekspor benih benih lobster (BBL) terkait pemberian izin budidaya dan ekspor.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Program Kebanggaan Pemerintah KUR Tanpa Jaminan, Tak Sesuai Fakta Dilapangan

Read Next

Studi: Vitamin D Tingkatkan Kelangsungan Hidup Kanker Payudara