ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

KAI Menambah Deretan BUMN yang Alami Penurunan Pendapatan Drastis

Konfirmasitimes.com-Jakarta (03/06/2021). Pada periode Januari sampai Maret 2021, PT Kereta Api Indonesia (Persero) mengalami kerugian Rp 303,4 miliar.

Pada Kuartal I-2021 itu, tercatat penurunan pendapatan signifikan, dari Rp 5,3 triliun pada kuartal I-2020, menjadi Rp 3,4 triliun.

Dilaporkan, pendapatan angkutan sebagai sumber utama turun, baik angkutan penumpang maupun barang.

Pendapatan angkutan penumpang turun dari Rp 1,9 triliun menjadi hanya Rp 440 miliar. LaluM pendapatan angkutan barang turun dari Rp 1,74 triliun menjadi Rp 1,54 triliun.

Meski demikian, KAI berhasil memangkas beban beban pokok pendapatan, dari Rp 4,1 triliun pada kuartal I-2020, menjadi Rp 3 triliun.

Akan tetapi, hal itu tak mampu menahan anjloknya laba bruto KAI dari Rp 1,15 triliun menjadi Rp 363 miliar.

Hingga akhirnya, membuat laba usaha perseroan turun dari untung Rp 514 miliar menjadi rugi Rp 210 miliar.

Sejauh ini satu per satu BUMN mengalami masalah keuangan yang dibilang butuh perhatian, mulai dari Garuda Indonesia dan sekarang KAI.

Baru-baru ini Menteri Badan Usaha Milik Negara atau BUMN Erick Thohir menyampaikan pandemi Covid-19 menjadi penyebab kinerja sejumlah perusahaan terganggu.

Laba bersih untuk kesemua BUMN dilaporkan turun dari semula Rp 124 triliun pada 2019 menjadi tinggal Rp 28 triliun pada 2020.

“Kalau kita lihat dari konsolidasi awal, karena belum diaudit, jelas memang pandemi ini sangat berdampak pada BUMN,” kata Erick dalam rapat kerja bersama Komisi VI DPR, Kamis (03/06/2021).

“Pada tahun ini mungkin konsolidasi hanya Rp 28 triliun,” imbuhnya.

Penurunan laba terjadi lantaran pendapatan perseroan anjlok. Menurut Erick, total pendapatan perseroan turun dari Rp 1.600 triliun pada 2019 menjadi Rp 1.200 triliun untuk 2021.

Beberapa perusahaan BUMN mengalami penurunan pendapatan bahkan merugi pada 2020, khususnya yang bergerak di sektor transportasi. PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI misalnya, membukukan kerugian hingga Rp 2,4 triliun pada kuartal III pada 2020. Senasib dengan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang menanggung rugi Rp 15 triliun pada kuartal III 2020.

Erick Thohir melanjutkan, kedepannya akan ada buku konsolidasi Kementerian yang rencananya terbit perdana dalam waktu dekat.

“Insya Allah di tahun ini kita akan pertama kali mempunyai buku kementerian BUMN secara konsolidasi,” kata Erick.

Melalui buku itu, Kementerian bisa mengintegrasikan basis data antar-perusahaan pelat merah dan melihat masalah-masalah yang dialami manajemen. Dengan demikian, solusi yang diperlukan, seperti efisiensi dan pemotongan biaya operasional atau Capex (capital expenditure) bisa dilakukan dengan tepat.

Mekanisme pembukuan tersebut sebelumnya telah dilakukan oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN dan PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk.

“Kalau kita lihat kan Telkom profitabilitasnya naik. Itu bagaimana capex kita tekan yang mungkin bisa kita sampaikan pimpinan,” kata Erick.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Ingat! Produk Usaha Anda Perlu Akreditasi Lho

Read Next

Pentagon Izinkan Militer AS Gunakan Drone China