ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Resmi Tersangka; Kades Buano Utara dan Bendahara Diduga Korupsi Dana Desa

Resmi Tersangka; Kades Buano Utara dan Bendahara Diduga Korupsi Dana Desa

Konfirmasitimes.com-Ambon (25/05/2021). Kepala Desa Desa Buano Utara berinisial (AK) dan Bendahara Desa Buano Utara berinisial (UT) ditetapkan tersangka dan ditahan atas kasus dugaan penyalahgunaan atau penyelewengan Alokasi Dana Desa (ADD) dan Dana Desa (DD) Desa Buano Utara Tahun Anggaran 2015, 2016, dan 2017 .

Penetapan itu dilakukan Kejaksaan Negeri Seram Bagian Barat berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Kepala Kejaksaan Negeri Seram Bagian Barat Nomor : Print-29/Q.1.16/Fd.1/01/2021 tanggal 27 Januari 2021, Surat Perintah Penyidikan Kepala Kejaksaan Negeri Seram Bagian Barat Nomor : Print-77/Q.1.16/Fd.1/02/2021 tanggal 22 Februari 2021 (Penambahan Jaksa Penyidik), Surat Perintah Penyidikan Kepala Kejaksaan Negeri Seram Bagian Barat Nomor : Print-252/Q.1.16/Fd.1/05/2021 tanggal 24 Mei 2021.

Kepala Kejaksaan Negeri Seram Bagian Barat Sugih Carvallo mengungkapkan, negara merugi setidaknya Rp548.723.501,71 berdasarkan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Inspektorat Kabupaten Seram Bagian Barat dan Tim Ahli Konstruksi Politeknik Negeri Ambon. 

“Beberapa item pekerjaan yang dijadikan acuan oleh tim Penyidik dan Tim Ahli dalam Penghitungan Kerugian Keuangan Negara yaitu, pertama, utang penyetoran pajak pada tahun 2015-2017, kemudian untuk tahun 2018-2019 ditangani oleh Kepolisian,” ujar Sugih kepada awak media Konfirmasitimes.com, Senin (24/05/2021).

Kedua, kekurangan volume dan markup bahan bangunan pekerjaan fisik jalan rabat beton tahun 2015-2017.

Ketiga, kekurangan volume dan markup bahan bangunan pekerjaan fisik Kantor Desa tahun 2016.

Keempat, kekurangan volume dan markup bahan bangunan pekerjaan fisik Kantor BPD tahun 2017.

Kelima, kekurangan dalam pengadaan Sapi pada tahun 2015 yang diberikan pada masyarakat Buano Utara.

Dari hasil pemeriksaan inspektorat, Kades dan Bendahara terbukti meng­gunakan ADD dan DD untuk kepentingan pribadi.

Atas peristiwa ini, masyarakat meminta Bupati Seram bagian Barat, M Yasin Payapo untuk segera menon­aktifkan Abd. Kalam Hitimala dari jabatan Kepala Desa, karena terlibat dugaan kasus praktek korupsi.

“Tindakan yang dilakukan kepala desa telah melampaui batas, yang memakan uang rakyat sehingga membuat masyarakat Buano Utara menjadi menderita hingga saat ini,” tandas seorang Warga buano utara yang ditemui awak media Konfirmasitimes.com.

Bupati Seram bagian Barat, M Yasin Payapo, mengatakan apabila keduanya di tetapkan se­bagai tersangka, maka Abd. Kalam Hitimala akan dicopot beserta bendaharanya.

Sementara itu, kata Sugih, saat ini kedua tersangka ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB Piru dengan mengikuti Protokol Kesehatan yang sebelumnya telah dilakukan Rapid Test pada kedua tersangka tersebut.

“Penahanan ini pun dilakukan usai ditetapkan di Kejaksaan Negeri Seram Bagian Barat dan dilanjutkan dengan penahanan tepat Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB piru sekira 19.20.Wit.” kata Sugih.

Sebelumnya kantor Desa Buano Utara pada Sabtu, (13/03/2021) lalu telah digeledah oleh pihak berwenang dan Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Seram Bagian Barat telah memeriksa dan memintai keterangan 3 (Tiga) saksi terkait dugaan penyimpangan dan atau penyelewengan ADD/DD Tahun Anggaran 2015 s.d 2017 Desa Buano Utara, kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).

Kasi Intel Kejari SBB, Harius Kastel menyampaikan, 3 (tiga) orang saksi yang diperiksa yaitu JN selaku Kepala Kantor Bank Maluku dan Maluku Utara cabang Piru serta dua pegawai lainnya yakni CP dan PO.

Desa Buano Utara sendiri merupakan sebuah desa yang berlokasi di Kecamatan Huamual Belakang, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Konfirmasitimes.com dari berbagai sumber, Desa Buano Utara atau dikenal dengan nama adat Hena Puan terbentuk dari lima nuru atau hena. Berdasarkan cerita turun-temurun, wilayah ini dikuasai dan dipimpin oleh seorang latu yang bernama Alim Syahrim dengan gelar latu kasila yang pada awalnya berkedudukan di Hena Hatu Putih pada saat itu Hena Hatu Putih telah memiliki masyarakat yang banyak, masyarakat tersebut tergabung dalam satu soa yang dikenal nama Soa Nanililette. Sementara itu beberapa nuru yang berada di Negeri Buano Utara saat itu tinggal di pedalaman pulau Buano dan di daerah pegunungan, yakni Nuru Na’ani menempati pegunungan Eliopit, Nuru Eti menempati pegunungan Si I’tu Rihena, Nuru Ola menempati menempati pegunungan Hatu Putih, sedangkan Nuru Nani menempati Tanjung Pamaali, dan Nuru Huhuni menempati Pua Huhuni. Nuru-nuru tersebut tersebar diseluruh wilayah pulau Buano yang dalam bahasa setempat dikenal dengan istilah a’si tapina.

Kala itu, nuru-nuru atau hena-hena sudah memiliki masyarakat yang begitu banyak, dan telah memiliki struktur pemerintahan secara adat yang berjalan dalam soa masing-masing. Hena-hena yang terpisah ini, membuat masyarakat memiliki hubungan yang tidak terlalalu erat sehingga akan menimbulkan konflik antara hena/nuru yang satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu diadakan rapat antara nuru di daerah pesisir pantai yang sekarang merupakan Desa Buano Utara. Lahirlah gagasan yang diusulakan oleh Upu Alia, Upu Manu dan Upu Lessy Imam untuk membentuk sebuah kampung yang menggabungkan seluruh hena yang tersebar di sana.

Maka dari itu diutuslah seorang latu yang bernama Alim Syahrim (Latu Kasila), untuk pergi mengajak dan membujuk mereka yang berada di pegunungan untuk turun ke pesisir pantai agar dapat membentuk sebuah kampung, disebelah timur.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Ruqyah Tehnik Mushofahah

Read Next

Pemkot Aceh Kenakan Biaya Rp.500 untuk Setiap Kantong Plastik