ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Wilayah Timur Termasuk Maluku, Jangan Lewatkan Fenomena Super Blood Moon

Image 002

Konfirmasitimes.com-Jakarta (24/05/2021). Fenomena alam memang selalu menarik perhatian terlebih karena tidak bisa setiap hari melihatnya.

Contohnya saja gerhana bulan yang tidak setiap saat bisa disaksikan. Kalau terjadi pun, belum tentu yang ada di Indonesia dapat menyaksikannya.

Namun beruntung, beberapa hari lagi Indonesia mendapat kesempatan menyaksikan fenomena gerhana bulan.

Tidak main-main, gerhana yang terjadi adalah gerhana bulan total atau super blood moon.

Tepatnya yakni pada Rabu (26/05/2021), gerhana bulan total (GBT) atau super blood moon akan terjadi.

Uniknya lagi, gerhana bulan total tahun ini bertepatan dengan hari raya Waisak.

Berdasarkan informasi yang dibagikan akun Instagram resmi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), GBT pada Rabu mendatang ini sangat istimewa.

Sebab, gerhana bulan kali ini beriringan dengan terjadinya Perige, yakni ketika bulan berada di jarak terdekatnya dengan bumi.

Tidak perlu menggunakan alat optik apapun untuk bisa melihat gerhana bulan total karena bulan terletak di dekat konstelasi Scorpius.

Itu berarti masyarakat Indonesia bisa melihatnya langsung, fenomena alam yang sangat menarik ini.

Menurut LAPAN, gerhana bulan kali ini cukup singkat, yakni 14 menit 30 detik.

Momen gerhana bulan ini turut dinantikan oleh masyarakat Indonesia. Seperti kata Bilal, seorang warga kota Ambon mengaku melihat fenomena tersebut adalah untuk pertama kalinya, sehingga menurutnya tak boleh melewatkannya.

“ini adalah fenomena yang baru saya rasakan, jadi fenomena ini tidak boleh terlewatkan,” kata Bilal, salah seorang warga Kota Ambon kepada awak media Konfirmasitimes.com, Senin (24/05/2021).

Hal senada juga dilaporkan NASA melalui laman resminya.

NASA mengumumkan bakal ada tiga peristiwa pada Bulan di 26 Mei mendatang.

“Bulan akan terletak di sisi berlawanan Bumi dari Matahari dan diterangi sepenuhnya pada 26 Mei 2021, pukul 6:13 pagi CDT. Bulan Purnama ini dikenal oleh suku-suku asli Amerika awal sebagai Bulan Bunga karena ini adalah waktu di mana bunga musim semi muncul…,” kata NASA di laman resminya.

Penampakan supermoon pada 26 Mei nanti disebut terbesar sepanjang tahun 2021. Menariknya warna bulan akan indah dengan warna merah.

“Gerhana bulan total terjadi saat Bulan melewati sepenuhnya bayangan gelap Bumi, atau umbra. Selama jenis gerhana ini, Bulan secara bertahap akan menjadi lebih gelap, menjadi berkarat atau berwarna merah darah. Warnanya begitu mencolok sehingga gerhana bulan terkadang disebut Blood Moons,” lanjut NASA.

Lebih lanjut NASA membagikan informasi dimana saja fase supermoon akan terlihat atau bisa dinikmati.

“Fase gerhana total akan terlihat dekat bulan terbenam di Amerika Serikat bagian barat dan Kanada, seluruh Meksiko, sebagian besar Amerika Tengah dan Ekuador, Peru bagian barat, dan Chili bagian selatan dan Argentina. Gerhana tersebut dapat dilihat secara keseluruhan di bagian timur Australia, Selandia Baru, dan Kepulauan Pasifik, termasuk Hawaii. Tidak seperti gerhana matahari, Anda tidak memerlukan kacamata khusus untuk melihat gerhana bulan ini, pergilah ke luar dan angkat kepala Anda ke langit,” jelas NASA.

Paling beruntung ialah masyarakat di Hawaii dan Kepulauan Aleut, karena mereka akan menikmati pemandangan paling sempurna.

“Orang-orang di Hawaii dan Kepulauan Aleut akan melihat keseluruhan gerhana ini – ini akan menjadi pertunjukan yang bagus bagi mereka,” ujar Bill Cooke, Pimpinan, Kantor Lingkungan Meteoroid NASA.

Tak lupa NASA melalui laman resminya, menginformasikan kapan waktu yang tepat untuk melihat supermoon.

“Gerhana akan dimulai 26 Mei pukul 1:46 pagi PDT, dengan Bulan memasuki bagian paling gelap dari bayangan Bumi pada pukul 2:45 pagi. Sebagian akan tetap berada di umbra hingga pukul 5:53. Untuk menangkap totalitas – periode ketika semua permukaan Bulan diselimuti oleh bayangan gelap Bumi – lihatlah antara pukul 4:11 dan 4:26 pagi,” terang NASA.

“Kami belum pernah mengalami gerhana bulan total dengan supermoon dalam hampir enam tahun, dan gerhana bulan total berikutnya tidak akan terjadi di Amerika Utara hingga Mei 2022,” imbuhnya.

Sejarah Singkat Blood Moon dan Kisah cristoforus columbus

Wilayah Timur Termasuk Maluku, Jangan Lewatkan Fenomena Super Blood Moon, Ingat! 26 Mei Bakal Ada Supermoon

Blood moon selama ini dihubung-hubungkan dengan dongeng-dongeng sihir, seperti cerita para serigala bertransformasi, dan juga hal berbau mistis lainnya. Hal tersebut dikarenakan bentuk gerhana bulan yang berwarna darah dan terkesan seram. Salah satunya cerita Cristoforus columbus yang pernah menggunakan gerhana bulan total ini untuk mengelabuhi masyarakat Jamaika tentang ‘Kemarahan Tuhan’.

Dahulu kala, Cristoforus columbus pernah menggunakan pengetahuannya tentang blood moon untuk mengelabuhi penduduk Jamaika.

Menurut situs observer.com, pada tahun 1504 cristoforus columbus melakukan ekspedisi untuk mencari wilayah baru bersama kru-nya. Sayangnya, perjalanan tersebut karena adanya epidemi cacing yang menyerang kapal mereka.

Sesampainya di Jamaika, para penduduk setempat menyambut kru columbus dengan baik. Tetapi enam bulan kemudian, keramahan mereka mulai menghilang. Columbus mempunyai siasat dengan membacakan almanak yang dapat meramalkan gerhana bulan di masa depan kepada kepala suku setempat.

Dia mengatakan Tuhan orang Kristiani marah atas kebencian Jamaika terhadap Columbus dan krunya. Bulan yang berdarah akan muncul di langit sebagai tanda kemarahan Tuhan.

Ketika gerhana benar-benar terjadi, penduduk pulau begitu ketakutan sehingga mereka berbondong-bondong membawa perbekalan untuk columbus sembari memohon pengampunan. Sang penjelajah kemudian mengatakan mereka diampuni saat gerhana berakhir dan bulan kembali seperti sedia kala.

Saat ini persepsi umat manusia tentang hal-hal spiritual yang berbau mistis dan gaib terkait blood moon sudah mulai berubah. Jika sebelumnya fenomena ini ditakuti, kini berkat pengetahuan, blood moon justru dirayakan sebagai fenomena yang “tidak bisa” dilewatkan.

Menurut George Chambers dalam buku The Story of Eclipses (1899) catatan pertama dalam sejarah terkait fenomena ini ditemukan Cina. Menurut Chambers, peristiwa itu terjadi pada hari Ping-Tzu tahun ke-35 Wen-Wang atau 29 Januari 1136 S.M.

Akan tetapi, bila dilihat kembali, kitab yang dirujuk oleh Chambers, Sejarah Bambu (Zhúshū Jìnián), kronik tentang Tiongkok kuno, mengarah pada tahun yang berbeda. Gerhana bulan total yang pertama kali dicatat dalam sejarah Cina tersebut, lebih tepat jika disejajarkan dengan tahun 1059 S.M, pada masa pemerintahan raja terakhir Dinasti Shang.

Dalam teks tersebut, dinyatakan bahwa menghilangnya bulan dalam peristiwa gerhana bulan, dianggap sebagai pertanda penting bagi Raja Wen —kelak disebut sebagai pendiri Dinasti Zhou—, bahwa sudah tiba waktunya untuk memberontak pada Raja Zhou dari Dinasti Shang.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Pajak yang Masuk Hingga April 2021 Baru 30 Persen

Read Next

Komisi Eropa Desak Untuk Menghukum Mereka yang Bertanggung Jawab Atas Pendaratan Pesawat di Minsk