ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Atraksi Ekstrim Ukuwala Nawa Maihate; Baku Pukul Manyapu dari Desa Morella dan Mamala

IMG_0109-d7576015

Konfirmasitimes.com-Maluku (20/05/2021). Seorang tokoh agama di Negeri Morella memoleskan minyak Mamala yang dipercaya dapat menyembuhkan bekas luka sabetan lidi dari Atraksi Pukul Sapu di Morella dan mamala, Maluku Tengah, Kamis (20/05/2021).

“Kali ini memang beda dari yang biasa katong bikin. Banyak anak-anak muda dan baru ikut juga. Paling muda 18 tahun. Dan sekarang, waktunya lebih panjang,” kata pemain Baku Pukul Sapu, Bahar Latukau usai kegiatan kepada awak media Konfirmasitimes.com, Kamis (20/05/2021) sore.

Bahar yang mengenakan celana Bola (pendek) dan ikat kepala warna merah senada mengatakan anak muda mendominasi kegiatan pukul manyapu. Ini sebagai salah satu cara warga Negeri Mamala dan Morella meregenerasi pemain. Dia mengatakan, tradisi dan budaya pukul sapu harus lestari dengan jalan diwariskan. Sebagian besar pemain lama pensiun dan jadi mentor buat pemain baru selama berlatih.

Ikut menyaksikan gelaran atraksi ini juga para Upu latu (kepala raja) ke dua negri morela dan mamala serta para pejabat daerah Maluku, acara ini pun tak lupa menerapkan protokol Kesehatan covid-19, pemerintah daerah pun antusias dalam mengikuti pagelaran atraksi pukul menyapu ini.

“ini adalah budaya yg harus terus di lestarikan sampai anak cucu,” sebut salah seorang pejabat daerah kepada awak media Konfrimasitimes.com.

Ritual ukuwala Nawa maihate atau pukul sapu merupakan upacara adat tahunan negeri Morella dan Mamala.

Pukul Manyapu atau Baku Pukul Manyapu merupakan atraksi unik dari Maluku Tengah yang biasanya di pentaskan.

Berlangsung setiap 7 Syawal (penanggalan Islam) dan telah berlangsung dari abad XVII yang diciptakan seorang tokoh agama Islam dari Maluku bernama Imam Tuny.

Ukuwala Nawwa Mahiate diikuti 20 sampai 50 peserta dari kedua desa yang saling berhadapan dengan memegang sapu lidi di kedua tangan.

Upacara ritual ‘ukuwala Nawwa mahiate’ atau pukul sapu merupakan upacara adat negeri Mamala dan morella yang dilaksanakan setiap tahunnya.

Kata ukuwala diambil dari bahasa negeri Mamala dan Morella yang artinya sapu lidi, sedangkan Nawwa Mahiate bahasa mamala dan Morella artinya baku pukul.

Jadi, arti dari ukuwala Nawwa mahiate adalah baku pukul sapu lidi atau disebut juga pukul menyapu.

Kedua kelompok mulai saling mengayunkan lidi saat suling atau tipa rebbana mulai ditiup dan di pukul bersamaan. Hingga akhir pertandingan tidak nampak rasa sakit yang dirasakan oleh keduanya.

Ketika pertempuran selesai, pemuda kedua desa tersebut mengobati lukanya dengan menggunakan getah pohon jarak. 

Hebatnya para peserta seperti tidak merasakan kesakitan walaupun tubuh mereka mengeluarkan darah dari sabetan lidi. Hal ini seringkali dikaitkan dengan kekuatan magis, namun sesungguhnya  para peserta sudah melebur dalam semangat yang telah menghilangkan rasa sakit. 

Ada juga yang mengoleskan minyak ‘nyualaing matetu’ (minyak tasala) di mana mujarab untuk mengobati patah tulang dan luka memar.

Dalam beberapa minggu luka-luka ini akan sembuh tanpa berbekas.

Nilai filosofis dari upacara tersebut yaitu persaudaraan tidak memandang suku, agama dan ras.

Sakit di kuku, rasa di daging yang artinya rasa senang maupun rasa sakit dapat dirasakan bersama demi terwujudnya kehidupan yang harmonis antar-sesama kedua desa tersebut.

Konon cerita yang juga berkembang bahwa asal tradisi itu berawal dari sejarah masyarakat di Maluku Tengah saat bertempur mempertahankan Benteng Kapapaha dari serbuan Penjajah, meskipun perjuangan mereka gagal dan Benteng Kapapaha tetap jatuh ke tangan penjajah yang dipimpin oleh Kapiten Telukabessy. 

Untuk menandai kekalahannya, pasukan Telukabessy mengambil lidi enau dan saling mencambuk hingga berdarah.

Jika ditinjau dari sejarah, sekitar abad ke- XVI negeri Mamala sendiri diperintah dan dipimpin oleh tiga orang tokoh yakni:

Latuliu ; yang bergelar Uku Latu Apel ( Tepil Kapitan Hitu ).

Patti Tiang Bessy (Sina Rati Raja Nusaniwe yang pindah ke Mamala karena diserang Portogis.

Imam Tuny (seorang pemuka agama yang pindah dari Passo pada tahun 1517 karena diserang oleh Portogis) Ketiga orang tersebut kemudian bermufakat untuk mendirikan masjid. Semua persiapan mulai diadakan berupa pengumpulan bahan-bahan bengunan khususnya kayu dengan mengerahkan rakyat untuk menebang kayu di lereng-lereng gunung dan perbukitan disekitar Mamala.

Hal ini yang membuat ketiga pemimpin di atas dan  masyarakat negeri Mamala mencari solusi yang tepat untuk menyambungkan kayu, sebab dalam kebutuhan pembanguan Masjid diperlukan balok kayu yang panjang dan tidak boleh disambung. Berbagai cara dan upaya yang dilakukan oleh masyarakat negeri Mamala belum juga menunjukkan hasil yang diharapkan baik dalam bentuk usaha fisik maupun dalam bentuk berdoa kepada Allah Swt untuk memohon petunjukNya. Dengan  kehendak Allah Swt do’a yang dipanjatkan kepadaNya dikabulkan.

Kejadiannya berawal ketika pada suatu malam menjelang shubuh, tiba-tiba datanglah ilham sebagai petunjuk dari Allah Swt kepada Imam Tuny sebagai berikut:

“Hai Imam Tuny, ambillah minyak kelapa, bacalah ayat berikut ini yakni ayat-ayat al-Qur’an. Kemudian oleskan minyak itu pada bagian kayu yang patah. Selanjutnya tutupkan dan ikat dengan kain putih selama beberapa saat. Buka kembali penutup dan akan engkau saksikan apa yang selama ini diharapkan”.

Keesokan harinya ilham yang diperolah Imam Tuny segera dilaporkan kepada Latului dan Patti Tiang Besy dan menampakkan kegembiraannya. Dan ketiga pemimpin tersebut bermufakat untuk melakukan percobaan sesuai ilham yang diperoleh oleh Imam Tuny.

Dengan disaksikan oleh seluruh masyarakat negeri Mamala percobaan dilakukan dilokasi balok kayu yang patah berjarak kira-kira 600 meter dari negeri Mamala dan dikenal dengan nama “tonggae” (tanah merah). Dari hasil percobaan ini apa yang menjadi dambaan dan harapan masyarakat negeri Mamala ternyata memberikan hasil yang sangat menggembirakan yakni dengan utuhnya/tersambung kembali balok kayu yang patah tersebut. Dengan diiringi ucapan puji syukur dan mengagungkan asma Allah Swt, balok kayu yang telah utuh kembali diangkat/ dipikul bersama-sama menuju lokasi pembangunan Masjid.

Berdasarkan mitos di atas, maka ketiga pemimpin mereka berpendapat bahwa kalau terhadap kayu yang patah minyak yang telah dibacakan ayat-ayat suci al-Qur’an dapat berkhasiat maka kepada manusia pun akan bermanfaat.

Musyawarah dilakukan dan musyawarah dicapai, yaitu dengan ditetapkannya tanggal dilakukan percobaan terhadap manusia dengan menggunakan lidi aren. Lidi aren menurut kepercayaan masyarakat merupakan senjata yang bertuah. Cara yang dilakukan adalah dengan membentuk kelompok kemudian selain memukul. Pada luka-luka yang ditimbulkan oleh pukulan lidi aren kemudian dioleskan minyak yang telah dibacakan ayat-ayat suci al-Qur’an.

Beberapa saat kemudian ternyata luka-luka tersebut mengering dan sembuh. Dari sinilah atas musyawarah bersama masyarakat negeri Mamala maka ditetapkan pada tahun 1545 M., digelarkan acara ukuwala Nawwa mahiate yang pertama kali sebagai percobaan terhadap manusia dengan menggunakan ukuwala! lidi aren dan dijadikan sebagai senjata dalam tarian adat ukuwala Nawwa mahiate.

Baku Pukul Manyapu adalah tradisi  yang harus terus dijaga sebagai kekayaan budaya Maluku, tidak hanya menandai perayaan Idul Fitri, tapi event ini juga merupakan bentuk perdamaian dan rasa persatuan sekaligus menjadi potensi pariwisata Maluku.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

KPK Tetapkan Dua Tersangka Kasus Korupsi Jasindo

Read Next

Menlu Rusia Beri Peringatan ke Barat