ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

FKGMNU Maluku Kecam Agresi Militer Israel ke Palestina

PicsArt_05-19-09.15.52-83f23f0f

Konfirmasitimes.com-Maluku (20/05/2021). Pengurus Wilayah Forum Komunikasi generasi Muda Nahdatul Ulama (FKGMNU) Provinsi Maluku mengecam keras aneksasi serta Penyerangan Membabi buta di Wilayah Gaza dan Masjidil Aqsa yang dilakukan oleh Israel dalam beberapa hari terakhir ini.

Hal tersebut diungkapkan Sekretaris Umum Pengurus Wilayah FKGMNU Rizhal Fahlevhy Umasughy kepada Konfirmasi Times di Ambon, Rabu, 19 Mei 2021.

FKGMNU Maluku Kecam Agresi Militer Israel ke Palestina

“Israel harus menghentikan Penyerangan yang membabi buta itu, ini bukan masalah Agama masalah terbesar adalah Kemanusian, Jumlah korban makin hari makin bertambah,bahkan Perempuan dan anak-anak yg jadi Korbanya,dan ini akan berakibat memperkeruh keamanan dan membuat perdamaian dunia terusik,” ujar Rizhal Fahlevhy.

Ia mengapresiasi dan mendukung keputusan, gagasan dan upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia dalam hal ini adalah presiden Jokowi yang secara langsung mengutuk keras Agresi Israel itu.

Menurut dia, Indonesia harus berperan penting dalam mendorong isu ini di forum internasional guna mewujudkan perdamaian di dunia.

“Kami kembali mendorong pemerintah Indonesia untuk terus melakukan upaya-upaya strategis guna mewujudkan perdamaian di negara-negara konflik, terutama di Palestina. Upaya ini sejalan dengan amanat Muktamar 33 Nahdlatul Ulama di Jombang tahun 2015. Nahdlatul Ulama mendukung penuh kemerdekaan Palestina. Bagi Kami FKGMNU khususnya di Maluku, apa yang terjadi di Palestina itu bukan konflik soal agama saja, namun lebih dari itu merupakan konflik kemanusiaan,” kata dia.

FKGMNU seluruh indonesia sendiri juga melakukan sejumlah langkah dan upaya strategis untuk membantu penyelesaian konflik di Palestina

“PB FKGMNU Pusat pun secara intens menggalang komunikasi dengan berbagai pihak untuk memberi Bantuan Secara Moril maupun turun langsung ke palestina demi pencapaian kedaulatan Palestina,” kata Rizhal Fahlevhy.

Rizhal mengungkapkan FKGMNU mendukung penuh kemerdekaan dan kedaulatan Palestina.

“Sikap kami Sebagai anak Muda NU berkomitmen mendukung kemerdekaan dan kedaulatan Palestina. Oleh karena itu, pihak FKGMNU menyambut baik Pemerintah Indonesia yang diwakili oleh Menlu Retno LP Marsudi dalam mengecam tindakan agresi israel ke palestina,” imbuhnya.

FKGMNU, kata Rizhal, menyebutkan tiga agenda penting yang berkaitan dengan perdamaian di Palestina.

“FKGMNU memberikan tiga agenda penting terkait perdamaian di Palestina, yakni memberikan perlindungan bagi penduduk sipil Palestina, memulihkan kondisi sosial politik, dan juga mengupayakan perdamaian antara Israel dan Palestina dan Mendukung sepenuhunya Kemerdekaan Palestina dengan Ibu Kota yerusalem,” ujar dia.

Sejarah Israel-Palestina

Sejak akhir Perang Dunia Kedua, perjuangan sengit antara Israel dan Palestina telah menjadi salah satu konflik paling tragis dan tak terselesaikan di dunia. Ini adalah kekacauan yang rumit, tetapi pada satu tingkat itu sangat sederhana.
Ini adalah konflik tentang wilayah, sesederhana itu,” kata Dr Gil Merom, pakar keamanan internasional dari University of Sydney

Akar konflik ini dimulai sejak zaman Alkitab. Tetapi dari perspektif sejarah modern, akhir 1800-an dan awal 1900-an adalah pusat dari situasi yang ada sekarang di kedua negara.

Antara 1882 dan 1948, serangkaian gerakan besar-besaran Yahudi dari seluruh dunia untuk masuk ke suatu daerah, yang dari 1917 secara resmi dikenal sebagai Palestina.

Pada 1917, tak lama sebelum Inggris menjadi kekuatan kolonial di Palestina, negara itu mengeluarkan Deklarasi Balfour yang menyatakan, “Pemerintah Yang Mulia mendukung pendirian rumah nasional untuk rakyat Yahudi di Palestina, dan akan melakukan upaya terbaik mereka untuk memfasilitasi pencapaian tujuan ini.”

Masyarakat Palestina menolak langkah itu, tetapi sejarah tidak menguntungkan mereka.

Menyusul kengerian Holocaust di mana hingga enam juta orang Yahudi terbunuh di Eropa, dorongan untuk mendirkan negara Yahudi menjadi semakin kuat.

Pada 1947, PBB memilih untuk membagi wilayah yang diperebutkan menjadi tiga bagian; satu untuk orang Yahudi, satu untuk orang Arab, dan rezim perwalian internasional di Yerusalem.

Orang-orang Arab tidak menerima kesepakatan itu, dan mengatakan bahwa PBB tidak punya hak untuk mengambil tanah mereka. Perang pun pecah.

Narasi Palestina mengatakan bahwa Zionis (mereka yang mendukung pembentukan kembali tanah air Yahudi di Israel) kemudian mulai memaksa orang-orang keluar dari rumah mereka.

Israel menjadi kekuatan nuklir yang tidak diumumkan pada pertengahan  1980-an dan, dengan dukungan Amerika Serikat (AS), membangun salah satu pasukan pertahanan paling tangguh di dunia.

Asisten Profesor Maha Nassar, dari Sekolah Studi Timur Tengah dan Afrika Utara di University of Arizona, berpendapat bahwa dukungan AS terhadap Israel telah menjadi salah satu alasan utama mengapa konflik ini sangat sulit untuk diselesaikan.
Pihak paling kuat yang terlibat—Amerika Serikat—telah secara konsisten memihak Israel atas Palestina, dan telah menekan Palestina untuk melepaskan hak dasar mereka untuk menentukan nasib sendiri.

Mereka telah melakukan ini dalam banyak cara yang berbeda, terutama dengan menawarkan kepada rakyat Palestina ‘peraturan’ di mana rakyat Palestina tidak memiliki kendali nyata atas perbatasan, air, pertahanan, atau penduduknya sendiri. Rakyat Palestina tidak pernah ditawari negara yang berdaya, berdampingan, dan berdaulat penuh.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Bayi Lima Bulan Bisa Apa

Read Next

Masjid Darul Ulum Jombang