ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Tahun Depan Tarif PPN Naik, Pengusaha: Tidak Pro dengan Masyarakat saat Pandemi Belum Selesai

kantor pajak

Konfirmasitimes.com-Jakarta (11/05/2021). Dalam rangka mengejar target pajak di 2022, Pemerintah Republik Indonesia kabarnya bakal menaikkan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tahun depan.

Berdasarkan Undang-Undang PPN pasal 7 pemerintah bisa mengatur perubahan tarif paling rendah berada pada angka 5 persen dan paling tinggi 15 persen. Adapun saat ini, tarif PPN berlaku untuk semua produk dan jasa, yakni 10 persen.

Menanggapi hal itu, Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) melalui Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan BPP HIPMI, Ajib Hamdani menyampaikan, rencana kenaikan tarif PPN itu menjadi sebuah pilihan kebijakan pragmatis yang dilontarkan pemerintah, dan cenderung mengabaikan kondisi pemulihan ekonomi yang belum normal. Indikator yang cukup jelas, pertumbuhan ekonomi di kuartal 1 2021 masih terkonstraksi, di kisaran minus 0,74 persen.

“Apakah kebijakan pemerintah ini tepat dalam masa pandemi seperti ini?,” ujar Ajib, dalam keterangannya kepada media, Selasa (11/05/2021).

Selain itu, pemerintah sudah memperkirakan bahwa ekonomi masih membutuhkan waktu untuk pemulihan secara normal setelah tahun 2022 mendatang, dengan disetujuinya Perpu Nomor 1 tahun 2020, yang disahkan menjadi UU nomor 2 tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Menangani Pandemi Covid-19.

Menurut catatan, data penerimaan pajak tahun 2020, PPN dalam negeri memberikan kontribusi pemasukan sebesar Rp298,4 triliun dan PPN Impor sebesar 140,14 triliun. Total PPN sejumlah Rp439,14 triliun ini setara dengan 36,63 persen pemerimaan pajak.

Dengan demikian , Ajib memberi saran, seharusnya pemerintah harus lebih fokus dengan pembuatan database yang valid dan terintegrasi, sehingga orientasinya adalah untuk ekstensifikasi dan mengurangi shadow economy. Upaya ini akan lebih mendorong kenaikan pemasukan buat negara, menjaga sustainability penerimaan dan memberikan keadilan buat masyarakat.

Jadi fungsi pajak menjadi optimal, selain sebagai budgeteir, pengumpul uang buat negara, juga sebagai regulerend, pengatur ekonomi dan sebagai redistribusi pendapatan yang berkeadilan. Mengingat pembuatan database yang valid dan terintegrasi, lebih berorientasi jangka panjang dibandingkan dengan sekedar opsi menaikkan tarif PPN, yang cenderung memberikan beban berlebih kepada masyarakat.

“Opsi kenaikan PPN, adalah opsi kebijakan yang cenderung kontraproduktif dan tidak pro dengan masyarakat luas di masa pandemi ekonomi yang belum selesai,” terangnya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Makna IQRA

Read Next

Ngaji Tahsin Qur’an Surat Al-Lail Jama’ah Majlis Tahsinul Qur’an Al Barokah Ledug