ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Akademisi NU Tanggapi Buku Kamus Sejarah yang Tuai Kontroversi

Kamus Sejarah Indonesia Jilid I Hilangkan Jejak Pendiri NU Hasyim Asy'ari, Kemendikbud Beri Klarifikasi

Konfirmasitimes.com-Jakarta (22/04/2021). Akademisi Nahdlatul Ulama (NU) Ahmad Suaedy turut menanggapi buku Kamus Sejarah Indonesia yang kini diperbincangkan publik.

Ahmad Suaedy mengatakan pemerintah harus bertanggung jawab dan melakukan investigasi perihal ketidaksesuaian yang ada dibuku itu.

“Itu ada usaha untuk menghapus. Sepertinya ini disengaja, harus ada transparansi,” kata Ahmad dalam keterangan tertulisnya, Rabu (21/04/2021).

Lebih lanjut, Ahmad menilai penjelasan soal kekeliruan itu memang sudah ada, tetapi belum ada upaya untuk investigasi. Kementerian terkait mesti bergerak cepat untuk melakukan koreksi dan penulisan ulang.

“KH Hasyim Asy’ari merupakan peletak pondasi bangsa,” ucap Ahmad yang juga Dekan Unusia ini.

Bila namanya sengaja dihilangkan, negara ini bisa runtuh lantaran pendiri bangsanya dihapus.

KH Hasyim tidak hanya pendiri NU, tetapi juga pencetus resolusi jihad 22 Oktober 1945. Resolusi itu menjadi dasar perang 10 November 1945. Kemudian, sisanya adalah sejarah soal kejayaan Bangsa Indonesia.

Sebelumnya diberitakan, Kemendikbud mengklaim draf naskah buku Kamus Sejarah Jilid I itu belum sempurna.

“Draf naskah buku Kamus Sejarah Jilid I disusun tahun 2017. Ini jelas sebelum masa jabatan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim,” kata Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Kemendikbud, Hilmar Farid, dalam keterangan tertulisnya,  Selasa (20/04/2021) lalu.

Hilmar mengatakan, secara teknis penyusunan dimulai tahun 2017 akan tetapi belum selesai karena panjangnya perjalanan sejarah Indonesia sejak 1900.

“Karena pada saat itu tahun anggaran sudah berakhir, sebagai pertanggungjawaban kami tetap melaporkan draf naskah yang belum selesai tersebut dalam format pdf,” ungkapnya.

Hilmar mengatakan komitmen kementerian untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diinginkan.

“Untuk memastikan isu ini tidak berlarut, saya sudah instruksikan untuk menurunkan semua buku yang terkait sejarah modern sampai ada penyempurnaan yang lebih cermat,” jelas Hilmar.

Kemudian, Hilmar menegaskan bahwa tim pengoreksi akan dibentuk dengan melibatkan organisasi yang turut membangun negara ini, termasuk Nahdlatul Ulama (NU).

Intinya, Hilman mengatakan tidak ada niatan untuk menghapus bagian sejarah yang sangat penting. Di dalam draf buku kamus itu, sudah dimuat informasi tentang pendirian Nahdlatul Ulama dan disebutkan juga signifikansi KH. Hasyim Asy’ari pada beberapa halaman.

Dalam Bincang Pendidikan dan Kebudayaan, turut hadir Guru Besar Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Prof. Susanto Zuhdi yang membantu menyunting draf buku Kamus Sejarah Jilid I.

“Tahun 2017, draf buku kamus ini memang kami simpulkan belum sempurna,” katanya.

“Nama KH. Hasyim Asy’ari ada pada uraian pendirian tokoh Nahdlatul Ulama. Bagaimana mungkin kita melupakan tokoh ini ketika berbicara pendirian Nahdlatul Ulama?,” lanjut Prof Susanto.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Doa Hari ke-10 Ramadhan

Read Next

Syekh Sudais Saat Menjadi Imam di Masjid Istiqlal Indonesia, Pakai Bismillah