ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
23 April 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Yordania Tolak Permintaan Arab Saudi untuk Ekstradisi

Upaya Kudeta Yordania, Apakah Arab Saudi Terlibat?

Konfirmasitimes.com-Jakarta (08/04/2021). Surat kabar Inggris “Financial Times” yang diterbitkan di London pada hari Selasa mengungkapkan bahwa Yordania telah menolak permintaan Arab Saudi untuk mengekstradisi mantan pejabat keamanan tersebut.

Menurut media Inggris, pemerintah Abdullah II menolak menyerahkan “Basim Awadullah”, pejabat keamanan negara, ke Arab Saudi.

Awadullah adalah mantan Menteri Perencanaan di Yordania dan sebelumnya dikatakan memiliki hubungan dekat dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman. Bahkan dikabarkan bahwa dia adalah salah satu perencana utama proyek Nium yang ambisius di Arab Saudi, yang diperkirakan menelan biaya lebih dari $ 500 miliar.

Pada tahun 2007, Bassem Awadullah adalah kepala Pengadilan Sipil Kerajaan selama setahun, dan sebelumnya dia adalah kepala kantor Raja Abdullah II dari Yordania, dan dikatakan sebagai salah satu tokoh paling menonjol dan berpengaruh dalam keputusan Yordania.

Di sisi lain, ia juga disebut-sebut sebagai orang yang selain memiliki banyak kontak dengan pengusaha terkemuka Saudi, juga bekerja di Bank Saudi Al-Arabi Al-Watani.

Awadullah juga memiliki hubungan dengan UEA, termasuk menjadi anggota Dewan Pengurus Universitas Dubai pada tahun 2008.

Dia juga salah satu aktivis yang menghadiri pertemuan Davos Sahra, dan dia berulang kali ditampilkan di televisi bersama Muhammad bin Salman. KTT ekonomi diadakan oleh Arab Saudi dengan tujuan membersihkan Arab Saudi dari stigma penculikan dan pembunuhan jurnalis oposisi Jamal Khashoggi.

Yordania mengumumkan pada Sabtu malam penangkapan Pangeran Hamza bin Hussein, keponakan raja, bersama dengan 20 pejabat keamanan lainnya atas tuduhan kudeta.

Hamza bin Hussein, saudara tiri Raja Abdullah II dari Yordania, menjadi tahanan rumah karena diduga menargetkan keamanan dan stabilitas Yordania.

Atas permintaan ayahnya, Raja Abdullah II dari Yordania mengangkat Pangeran Hamzah sebagai Putra Mahkota pada 1999, tetapi menggulingkannya pada 2004 dan menamai putranya Pangeran Hussein sebagai Putra Mahkota.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Duh! Cadangan Devisa Indonesia Menurun, Kok Bisa?

Read Next

Ini Alasan Pemprov Babel Ajukan Permintaan Saham 14 Persen PT Timah