ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
23 April 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Ini Alasan Pemprov Babel Ajukan Permintaan Saham 14 Persen PT Timah

Babel

Konfirmasitimes.com-Jakarta (08/04/2021). Anggota DPR RI Komisi VII, Bambang Patijaya menanggapi permintaan saham Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bangka Belitung (Babel) dari PT Timah Tbk (TINS).

Pada saat rapat audiensi di Komisi VII DPR RI, Rabu, (07/04/2021), Gubernur Provinsi Bangka Belitung Erzaldi Rosman meminta saham 14% dari PT Timah Tbk (TINS) untuk Pemprov Babel.

Bambang Patijaya membandingkan usulan itu dengan sektor minyak dan gas (Migas) di mana ada Participating Interest (PI) sebesar 10%.

“Kemarin saya diskusi dengan orang yang paham PI. Jadi daerah diberikan kemudahan memiliki saham maksimal 10%,” kata Bambang.

Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang merupakan representasi daerah berkontribusi pada cost dan dividen.

“Saya pikir bisa skema ini, bisa diadopsi kalau Migas bisa Babel bisa,” terangnya.

Sebagaimana diketahui, dalam rapat audiensi itu Pemprov Babel melalui Gubernur Erzaldi meminta kepemilikan saham sebesar 14 persen PT Timah Tbk. (TINS).

Gubernur Erzaldi menyampaikan bahwa sudah lebih dari 350 tahun tambang timah di daerahnya dieksploitasi, namun hasil yang didapat untuk membangun daerah tidak sebanding dengan kerusakan alam yang ditimbulkan.

Lebih lanjut, Gubernur Erzaldi berharap agar Pemerintah Indonesia selaku pemilik saham PT Timah sebesar 65 persen melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) (Persero) sebagai induk perusahaan pertambangan, bisa menghibahkan 14 persen saham kepada Pemprov Kepulauan Babel.

“Harapan kepada Pemerintah Indonesia untuk memberikan saham sebesar 14 persen dan tambahan royalti,” kata Erzaldi dalam audiensi dengan Komisi VII DPR RI, Rabu (07/04/2021).

Kemudian, Gubernur Erzaldi juga mengharapkan pemerintah pusat bisa menaikkan royalti komoditas logam timah dari 3 persen menjadi 10 persen. Gubernur Erzaldi menilai tarif royalti timah telah sangat lama tidak mengalami peningkatan, sementara komoditas tambang lainnya, seperti batu bara, bijih nikel, bijih besi, emas, bauksit, dan lainnya telah meningkat jauh.

“Kami rela apa yang di alam kami diambil dan diproduksi sehingga mendapatkan sesuatu, memberikan manfaat kepada bangsa dan negara Indonesia. Tapi miris rasanya ketika daerah kami yang memiliki sumber daya alam melimpah ini tidak sebanding dengan apa yang kami dapati,” terang Gubernur Erzaldi.

Adapun, pengajuan dari Gubernur Erzaldi itu bertujuan untuk mendukung program pembangunan di wilayah Kepulauan Bangka Belitung.

Sejauh ini, kata Gubernur Erzaldi, Pemprov tengah menggencarkan transformasi pembangunan di wilayahnya dari sektor pertambangan ke pariwisata. Transformasi ini untuk mengantisipasi cadangan timah yang hampir habis.

Akan tetapi untuk melakukan hal itu, kapasitas fiskal Pemprov sangat terbatas.

“Bisa dibayangkan kalau timah ini enggak ada lagi dari mana lagi sumber kami untuk membangun. Ini pertimbangan kami ketika ajukan permohonan ini secara terbuka kepada pemerintah RI,” ujar Gubernur Erzaldi.

Selain itu, menurut keterangan dari Staf Khusus Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Safari ANS, disampaikan bahwa dari royalti 3 persen dari PT Timah, sebesar 20 persennya menjadi bagian dari pemerintah pusat, sehingga jika royalti dinaikkan menjadi 10 persen juga akan berdampak pada penerimaan yang diperoleh pemerintah pusat.

“Berdasarkan data PT Inalum pada 2019 sudah jual 65.000 ton timah, tapi PT Timah hanya nyumbang ke negara Rp1,1 triliun. Itu kecil dibandingkan mereka sudah transaksi segitu nilainya Rp17 triliun dengan harga timah pada 2019 rata-rata US$18.000 per ton,” kata Safari.

Dalam kesimpulan rapat yang dibacakan oleh Ketua Komisi VII DPR RI Sugeng Suparwoto menindaklanjuti beberapa usulan salah satunya soal saham, Komisi VII akan menindaklanjutinya dengan Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Dengar Pendapat (RDP).

“Terkait dengan aspirasi tersebut di atas, Komisi VII akan menindaklanjuti dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat dengan mitra terkait,” kata Sugeng.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Yordania Tolak Permintaan Arab Saudi untuk Ekstradisi

Read Next

Duarr! di Pasar Energi; Apakah Kenaikan Harga Minyak Berkelanjutan?