ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
23 April 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Duh! Cadangan Devisa Indonesia Menurun, Kok Bisa?

Cadangan Devisa

Konfirmasitimes.com-Jakarta (08/04/2021). Laporan Maret 2021, cadangan devisa Indonesia menurun tajam.

Bank Indonesia (BI) melaporkan cadev per akhir Maret sebesar US$ 137,1 miliar, turun US$ 1,7 miliar dari bulan Februari, Rabu (07/04/2021).

“Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2021 tercatat sebesar 137,1 miliar dolar AS, tetap tinggi meskipun menurun dibandingkan dengan posisi pada akhir Februari 2021 sebesar 138,8 miliar dolar AS,” kata BI dalam keterangan tertulisnya, Rabu (07/04/2021).

Penurunan cadangan devisa utama, menurut BI, terjadi karena pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pembiayaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, utang pemerintah yang jatuh tempo di tahun ini sebesar Rp 268 triliun. Dari total tersebut sebanyak Rp 211 triliun merupakan utang di Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp 67 triliun merupakan pinjaman luar negeri.

Meski demikian, posisi cadangan devisa laporan maret itu masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 10,1 bulan impor atau 9,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” imbuhnya.

Kemudian, di bulan Maret lalu rupiah yang mengalami tekanan yang diduga menggerus cadangan devisa. Pelemahan rupiah mengakibatkan kebutuhan penggunaan cadangan devisa untuk melakukan intervensi cukup besar.

Selama Maret, nilai tukar rupiah mengalami pelemahan nyaris 2% di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), dan menyentuh level terlemah dalam 5 bulan terakhir. Guna menstabilkan nilai tukar rupiah, BI melakukan triple intervention, yakni intervensi di pasar Domestic Non-Delivery Forward (DNDF), di pasar spot, dan di pasar obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN).

“BI telah dan akan selalu berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui instrumen triple intervention di spot market, DNDF jual serta pembelian SBN yang dilakukan secara terukur baik jumlah atau sequence-nya, timely dengan tetap mengedepankan mekanisme pasar sesuai fundamentalnya,” terang Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI), Hariyadi Ramelan dalam keterangannya kepada media, beberapa waktu lalu.

Kondisi sekarang, kata Hariyadi, dominan dipengaruhi oleh sentimen negatif dari AS. Sehingga tekanan terhadap rupiah tak terhindarkan.

“Dinamika pelemahan rupiah lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu penguatan nilai tukar USD secara broadbased ke level tertinggi selama 4 bulan terakhir,” ujar Hariyadi.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Santri Peci Singosari: Marhaban ya Marhaban

Read Next

Yordania Tolak Permintaan Arab Saudi untuk Ekstradisi