ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
14 April 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Duh! Reseller dan Dropshipper Bisa Tergerus di Era Digitalisasi

Duh! Reseller dan Dropshipper Bisa Tergerus di Era Digitalisasi

Konfirmasitimes.com-Jakarta (07/04/2021). Sudah sejak lama, salah satu bisnis paling banyak diminati ialah menjadi reseller atau dropshipper.

Mengapa begitu, menjadi reseller atau dropshipper menjadikan pelaku tidak perlu sibuk memikirkan proses produksi suatu barang.

Reseller atau dropshipper tinggal menjualnya kembali ke tangan konsumen karena memang stok barang sudah tersedia.

Dari penjualan itu reseller atau dropshipper bisa mengambil untung dari margin harga yang dibentuk.

Ancaman bagi Reseller atau dropshipper

Ancaman bagi Reseller atau dropshipper

Ancaman bagi Reseller atau dropshipper

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Aviliani menyampaikan, di era digitalisasi profesi reseller dan dropshipper ini justru berpotensi terancam.

“Ada persoalan ketika digitalisasi mulai terjadi, ternyata 60 persen UMKM kita sektornya perdagangan. Nah problem perdagangan adalah ketika dia hanya memindahkan barang maka dia akan terkena dampak pada margin yang semakin tipis,” kata Aviliani dalam sebuah webinar, beberapa waktu lalu.

Era serba digital menjadi tantangan tersendiri bagi reseller dan dropshipper. Karena sistem dagang ini memungkinkan satu produk dijual oleh banyak orang bahkan dengan beragam harga. Alhasil, reseller dengan harga termurah yang akan bertahan. Sedangkan yang lain akan sulit mendapatkan pangsa pasar.

“Boleh aja berdagang tapi kalau ada nilai tambah, dia akan survive. Nilai tambah enggak harus mengubah jenis barang. Misalnya si A jualan ban, tapi dia punya after sale service. Kalau ban rusak, si A bersedia menerima service panggilan. Service ini bisa jadi nilai tambah. Kalau hanya mengambil margin tanpa nilai tambah itu bahaya karena ke depan margin akan makin tipis,” katanya.

Aviliani menilai dulu informasi tentang perdagangan bersifat asimetric. Warga tidak memiliki informasi yang lengkap sehingga saat berbelanja, berapa pun harganya maka akan langsung dibeli.

Sekarang informasi menjadi bersifat simetric. Konsumen bisa mengakses informasi secara luas, bahkan bisa membandingkan antara penjual satu dengan yang lain sehingga bisa mendapatkan barang yang sama dengan harga yang lebih murah.

“Itulah yang menyebabkan sektor UMKM harus berdagang dengan nilai tambah,” kata Aviliani.

Bila hanya barang saja yang berpindah, masyarakat sudah mulai cerdas membandingkan harga di beberapa penjual terlebih dahulu. Tentunya sesuai prinsip ekonomi, masyarakat akan mencari harga terendah untuk sebuah produk yang punya kualitas dan fungsi sama.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Maksa Mau Mudik? Ini Lho Hukumannya..

Read Next

BLT UMKM 2021 Cair 2 Tahap, Segera Daftar dan Penuhi Syarat Ini