ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
22 April 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Bolehkah Ibu Hamil Suntik Vaksin Covid-19?

Bolehkah Ibu Hamil Suntik Vaksin Covid-19?

Konfirmasitimes.com-Jakarta (21/03/2021). Ibu hamil suntik vaksin covid-19, bolehkah?. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) melalui Ketua Tim Advokasi Pelaksanaan Vaksinasi Pengurus Besar IDI, Iris Rengganis menyatakan, pihaknya tak menganjurkan vaksinasi Covid-19 kepada ibu hamil di Indonesia. Sebab, masih memerlukan penelitian lebih lanjut mengenai dampaknya.

“Ibu hamil jangan dulu deh sekarang, karena kita belum tahu persis kondisinya. Kapan mau diulang vaksinnya, kita masih belum tahu. Efektivitas vaksinnya pun kita masih belum tahu,” ujar Iris dalam keterangannya kepada media , Minggu (21/03/2021).

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Alergi Imunologi itu mengatakan hingga saat ini belum ada penelitian secara menyeluruh terhadap vaksin yang digunakan oleh ibu hamil.

Menurut Iris yang juga Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Alergi Imunologi itu, vaksin yang direkomendasikan Lembaga Kesehatan Dunia (WHO) saat ini untuk ibu hamil adalah vaksin influenza.

“Itu (vaksin influenza) suatu berita gembira, tapi kan belum tentu dengan vaksin yang lain, termasuk vaksin Covid-19. Karena vaksin ini kan masih baru banget, umurnya pendek 12-18 bulan pembuatannya, dari yang biasanya lima tahun sampai 15 tahun,” jelasnya.

Dijelaskan oleh Iris, pemberian vaksin influenza umumnya diberikan kepada ibu hamil di sejumlah negara dengan empat musim, sebab karakteristik masyarakat di sana merasa lebih takut tertular influenza daripada hal yang lain.

“Mereka semua ingin divaksinasi, karena kita bayangkan musim influenza di empat musim itu seperti apa. Mirip-mirip pandemi jadinya menular gitu ya, ibu hamil tertular itu lebih ribet lagi,” jelasnya.

Iris mengungkapkan, risiko dari pemberian vaksin itu menjadi tanggung jawab sendiri, walaupun ada pengawasan oleh dokter hingga bayinya lahir.

“Itu kan dinamika waktu, vaksinasi influenza semakin banyak yang dipakai ibu hamil tanpa disuruh, tapi sekarang malah jadi rekomendasi, karena dianggap sudah aman dan sudah banyak yang melakukan vaksinasi influenza di masa kehamilan dan diikuti terus sampai bayi lahir dan ternyata tidak ada cacat,” terangnya.

Sebelumnya diberitakan Ketua Bidang fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam menyampaikan dalam konferensi persnya, umat Islam Indonesia wajib menjalani vaksinasi Covid-19 untuk mewujudkan kekebalan kelompok atau herd immunity.

“Umat Islam Indonesia tentunya wajib berpartisipasi dalam program vaksinasi Covid-19 yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk mewujudkan kekebalan kelompok dan terbebas dari pandemi Covid-19,” ujar Asrorun dalam Konferensi Pers di YouTube FMB9ID_IKP, Jumat (19/03/2021).

Sebuah penelitian ekstensif tentang sejarah kebijakan vaksin (seperti vaksin diwajibkan untuk sekolah tatap muka), Presiden dan Penasihat Umum Pertahanan Kesehatan Anak (CHD) Mary Holland setuju, menyatakan bahwa upaya intensif selama puluhan tahun “belum mencapai kekebalan kelompok (herd immunity) untuk penyakit masa kanak-kanak apa pun”.

Teori kekebalan kelompok atau teori herd immunity berawal dari seorang petugas kesehatan yang bekerja di Chicago pada tahun 1930 – an . Pada awalnya, konsep “tidak ada hubungannya dengan vaksinasi”. Alih-alih, teori tersebut mencerminkan pengamatan cermat dokter “tentang proses bagaimana penyakit bekerja melalui komunitas dan bagaimana komunitas itu, pada akhirnya, secara alami membangun resistensi terhadapnya sebagai hasilnya.”

Ahli imunologi Tetyana Obukhanych, Ph.D., dan lainnya sepakat bahwa para pejabat menikmati menggunakan kekebalan kelompok “sebagai kartu truf untuk membenarkan tindakan apa pun, yang seringkali bertentangan dengan kebebasan privatisasi, yang bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan vaksinasi.”

Beberapa tahun yang lalu, JB Handley, penulis “How to End the Autism Epidemic” membedah penggunaan imunitas kelompok sebagai “tipu muslihat pemasaran” untuk mempermalukan dan menekan orang agar melakukan vaksinasi, berdasarkan klaim yang membuat orang merasa bersalah bahwa orang yang tidak patuh termasuk “menempatkan kesehatan dari ‘kelompok’ beresiko”

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

KH. Anas Noor : Akhlaq Lebih Utama Daripada Ilmu dan Prestasi

Read Next

Munir Debu: Road Show Pertama Cikarang Masjid Al ijtihad