ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
23 April 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Klaim Vaksinasi Wujudkan Herd Immunity: ‘Gimmick Pemasaran’ yang Cacat ?

Klaim Vaksinasi Wujudkan Herd Immunity: 'Gimmick Pemasaran' yang Cacat ?

Konfirmasitimes.com-Jakarta (20/03/2021). Ketua Bidang fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Asrorun Niam menyampaikan dalam konferensi persnya, umat Islam Indonesia wajib menjalani vaksinasi Covid-19 untuk mewujudkan kekebalan kelompok atau herd immunity.

“Umat Islam Indonesia tentunya wajib berpartisipasi dalam program vaksinasi Covid-19 yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk mewujudkan kekebalan kelompok dan terbebas dari pandemi Covid-19,” ujar Asrorun dalam Konferensi Pers di YouTube FMB9ID_IKP, Jumat (19/03/2021).

Beberapa tahun yang lalu, JB Handley, penulis “How to End the Autism Epidemic” membedah penggunaan imunitas kelompok sebagai “tipu muslihat pemasaran” untuk mempermalukan dan menekan orang agar melakukan vaksinasi, berdasarkan klaim yang membuat orang merasa bersalah bahwa orang yang tidak patuh termasuk “menempatkan kesehatan dari ‘kelompok’ beresiko”

Ahli imunologi Tetyana Obukhanych, Ph.D., dan lainnya sepakat bahwa para pejabat menikmati menggunakan kekebalan kelompok “sebagai kartu truf untuk membenarkan tindakan apa pun, yang seringkali bertentangan dengan kebebasan privatisasi, yang bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan vaksinasi.”

Baru-baru ini juga Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Ketua MUI Bidang Fatwa Asrorun Niam mengumumkan vaksin Covid-19 AstraZeneca yang diproduksi oleh SK Bioscience di Kota Andong, Korea Selatan bisa digunakan dalam keadaan darurat walaupun mengandung tripsin yang berasal dari babi.

“Ketentuan hukumnya yang pertama vaksin Covid-19 AstraZeneca ini hukumnya haram karena dalam tahapan produksi memanfaatkan tripsin yang berasal dari babi,” ujar Asrorun, dalam konferensi persnya, Jumat (19/03/2021).

“Walau demikian, yang kedua, penggunaan vaksin Covid-19 produk AstraZeneca pada saat ini hukumnya dibolehkan,” lanjutnya.

Asrorun membeberkan beberapa alasan mengapa vaksin AstraZeneca boleh digunakan dalam keadaan darurat.

Pertama, sekarang Indonesia dinilai berada dalam kondisi darurat syari, ada keterangan dari ahli yang kompeten dan terpercaya tentang adanya bahaya atau risiko fatal jika tidak dilakukan vaksinasi Covid-19.

Lalu kedua, ketersediaan vaksin Covid-19 yang halal dan suci tidak mencukupi untuk pelaksanaan vaksinasi Covid-19 guna mewujudkan kekebalan kelompok atau herd immunity.

Kemudian ketiga, ada jaminan keamanan penggunaannya oleh pemerintah sesuai dengan penjelasan yang disampaikan pada saat rapat komisi fatwa.

Dan keempat, pemerintah tidak memiliki keleluasaan memilih jenis vaksin Covid-19 mengingat keterbatasan vaksin yang tersedia baik di Indonesia maupun di tingkat global.

Menurutnya, vaksin AstraZeneca diharamkan hukumnya, bila tidak memenuhi alasan-alasan itu.

“Pemerintah wajib terus mengikhtiarkan ketersediaan vaksin Covid-19 yang halal dan suci,” katanya.

Terkait kewajiban vaksinasi dan penilaian bahaya yang timbul bila tidak vaksinasi, serta klaim pembentukan herd immunity, mari kita simak ulasan dibawah ini.

Sebuah penelitian ekstensif tentang sejarah kebijakan vaksin (seperti vaksin diwajibkan untuk sekolah tatap muka), Presiden dan Penasihat Umum Pertahanan Kesehatan Anak (CHD) Mary Holland setuju, menyatakan bahwa upaya intensif selama puluhan tahun “belum mencapai kekebalan kelompok (herd immunity) untuk penyakit masa kanak-kanak apa pun”.

Teori herd immunity berawal dari seorang petugas kesehatan yang bekerja di Chicago pada tahun 1930 – an . Pada awalnya, konsep “tidak ada hubungannya dengan vaksinasi”. Alih-alih, teori tersebut mencerminkan pengamatan cermat dokter “tentang proses bagaimana penyakit bekerja melalui komunitas dan bagaimana komunitas itu, pada akhirnya, secara alami membangun resistensi terhadapnya sebagai hasilnya.”

Seperti yang juga dijelaskan oleh Obukhanych , kekebalan kelompok berkembang sebagai sebuah konstruksi epidemiologis daripada sebuah konstruksi imunologis, yang paling-paling menawarkan kesempatan teoretis untuk memprediksi keberhasilan pengendalian penyakit. Karena vaksin (dan keharusan vaksinasi) menjadi lebih luas pada pertengahan abad ke-20, teori kekebalan kelompok mengalami transformasi penting , berdasarkan pada ” asumsi yang salah bahwa vaksinasi memunculkan keadaan yang setara dengan kekebalan yang bonafid pada individu,” kata Obukhanych.

Mengabaikan kecanggihan sistem kekebalan manusia, Para ilmuwan vaksin mengadopsi asumsi kesetaraan yang cacat dan, terlepas dari bukti selama puluhan tahun yang sebaliknya , sekarang memandang vaksinasi sebagai jalur yang unggul – bahkan ideal – menuju kekebalan kelompok.

WHO melangkah lebih jauh, dengan menghilangkan rujukan apa pun pada infeksi alami dan mendefinisikan kekebalan kelompok semata – mata sebagai “konsep yang digunakan untuk vaksinasi.” Ironisnya, bahkan ketika fasilitas medis melaporkan ” peningkatan dalam pencatatan efek samping [vaksin COVID-19]” – belum lagi ” peristiwa dampak kesehatan” yang mengganggu.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Polwan Lomba Al Banjari se-Jawa timur

Read Next

Nabi Hidir Punya Tiga Telor (Versi Madura) Viral