ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
22 April 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Bolehkah Sholat Jumat Online

Niat Shalat Sunnah Jumat

Konfirmasitimes.com-Jakarta (19/03/2021). Ibadah sholat Jumat online atau daring tidak sesuai dengan prinsip agama Islam.

Hal itu ditegaskan oleh Ketua Bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Muhammad Cholil Nafis.

Melalui akun Twitternya, ia meminta Muslim untuk menunaikan sholat Jumat secara luring atau hadir langsung di masjid setempat.

“Jgn ada yg dengarin khutbah pakai host online via zoom. Apalagi sampai shalat jum’at berjemaah secara online ya. Itu tdk sah.,” tulis KH Muhammad Cholil Nafis di akun Twitter resminya.

Dengan begitu, MUI tak menganjurkan hal tersebut demi alasan apapun. Cuitan KH Muhammad Cholil Nafis itu guna menanggapi ajakan sholat Jumat via daring.

Menurut KH Muhammad Cholil Nafis, ibadah sholat Jumat termasuk Khutbah di dalamnya sudah ada syarat dan rukunnya. Jadi, sholat Jumat harus satu area antara imam dan makmumnya.

“Ya pasti tidak sah kalau Jumatan daring, apalagi pakai host segala. Khutbah itu ada syarat dan rukunnya. Saat khotib khutbah maka yang lain tidak boleh bicara. Sholat juga harus dalam satu area antara imam dan makmumnya,” kata KH Muhammad Cholil Nafis.

KH Muhammad Cholil Nafis juga tak lupa mengajak Muslim guna menunaikan ibadah sholat Jumat sesuai syariat yang berlaku.

“Ayo Jumat luring di Masjid terdekat, menyimak langsung khutbah dan sholat jamaah. Mari baca surat yasin, Al-Kahfi, Al-Waqiah dan Al-Mulk,” tulisnya di Twitter.

Sementara itu, menurut informasi yang dihimpun dari berbagai sumber, Sholat Jumat dilaksanakan berjamaah.

Ulama menggambarkan setidaknya tiga posisi imam dan makmum dalam shalat berjamaah.

Pertama, keduanya berada di dalam bangunan yang sama, yaitu masjid.

Kedua, keduanya berada di tanah terbuka. Ketiga, imam berada di masjid. Sedangkan makmum berada di luar masjid. Pada poin ketiga ini ulama berbeda pendapat. 

Ulama Syafi’iyah membuat ketentuan lebih rinci perihal poin ketiga. Mereka menyatakan bahwa jarak antara imam dan makmum tidak melebihi 300 hasta dan tidak boleh terhalang oleh apapun.

Mazhab Syafi’i menyatakan tidak sah shalat Jumat di mana sesuatu menghalangi imam di masjid dan makmum di rumah.

Sementara Imam Atha tidak mempermasalahkan jarak antara imam dan makmum. Menurutnya, shalat berjamaah (dan Jumat) tetap sah meski kedua berjarak satu mil bahkan lebih sejauh makmum mengetahui gerakan imam. (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Majmu’, Syarhul Muhadzdzab, [Beirut, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah: 2010 M], juz IV, halaman 182). 

Adapun Imam Malik mengatakan bahwa shalat berjamaah keduanya sah, kecuali shalat Jumat. Sedangkan Imam Abu Hanifah menyatakan pelaksanaan shalat imam dan makmum tetap sah baik shalat berjamaah maupun shalat Jumat.

Artinya, “Jika seseorang melakukan shalat di rumah atau sejenisnya dengan mengikuti shalat imam di masjid–sementara keduanya terhalang oleh sesuatu–maka shalatnya tidak sah menurut kami (mazhab Syafi’i). Imam Ahmad juga memiliki pendapat yang sama. Menurut Imam Malik, pelaksanaan shalat berjamaah seperti ini sah kecuali pada shalat Jumat. Tetapi bagi Abu Hanifah, pelaksanaan shalat seperti ini sah secara mutlak (baik shalat Jumat maupun berjamaah),” (An-Nawawi, 2010 M: IV/182). 

Menurut almarhum KHM Syafi’i Hadzami (Rais Syuriyah PBNU 1994-1999 M) pernah membahas persoalan serupa, yaitu orang sakit. Sementara pembahasan kita dimaksudkan untuk orang sehat. Muallim Syafi’i Hadzami (1931-2006 M) pada medio awal 1970-an mencoba menjawab pertanyaan bagaimana caranya bila seseorang sedang sakit keras yang dijawabnya melalui pandangan mazhab Syafi’i. Dapatkah seseorang yang sakit keras tersebut mengikuti Jumat dengan mendengarkan radio sekaligus sambil tiduran/rebah?

“Orang sakit yang dapat permisi meninggalkan sembahyang Jumat tentu saja boleh mendengarkan khutbah melalui transistor di rumahnya, sambil berbaring di tempat tidurnya. Tetapi, dia tidak bisa mengikuti shalat Jumat yang diadakan di masjid yang jauh antara jarak rumahnya itu sejauh tiga ratus hasta atau dia lebih terkemuka ke arah kiblat daripada imam masjid yang terdengar suaranya di radio. Alhasil, tidak bisa, selama syarat-syarat berjamaah tidak terpenuhi, di antaranya jangan ada dinding antara dia dengan imam. Lagi pula kalau listrik mati atau baru baterai habis, buntu jamaahnya.

Alhasil, banyaklah mawani‘ yang tidak mengesahkan sembahyang berjamaah kepada  imam di radio. Sembahyang imamnya radio, lucu kedengarannya. Saya melihat suatu ta‘liq pada juz ke II dari Kitab Fiqhussunnah bagi Assayyid Sabiq, halaman 121 sebagai berikut:

Artinya, ‘Telah berfatwa ulama dengan ketiadaan sah sembahyang di belakang radio,’” (Lihat KHM Syafi’i Hadzami, Taudhihul Adillah, 100 Masalah Agama, [Kudus, Menara Kudus: 1982 M], juz III, halaman 180).
KHM Syafi’i Hadzami mengutip juga Al-Majmu’ karya An-Nawawi yang memberikan pilihan antara shalat Jumat di masjid atau shalat zuhur bagi orang yang tidak terkena kewajiban Jumat. Tetapi ia tidak menyarankan shalat Jumat di belakang radio. (Hadzami, 1982 M: 181).

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Solusi Dari Semua Masalah Adalah Perbanyak Sholawat Nabi

Read Next

Khutbah Jumat: Mutiara Hidup yang Kembali