ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
22 April 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Mengenang Misteri Pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen yang Jebloskan Antasari Azhar ke Jeruju Besi

Mengenang Misteri Pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen yang Jebloskan Antasari Azhar ke Jeruju Besi

Konfirmasitimes.com-Jakarta (14/03/2021). Hari ini Minggu tepat tanggal 14 Maret 2021, mengingatkan kembali atas meninggalnya Direktur PT Putra Rajawali Bantaran Nasrudin Zulkarnaen pada 14 Maret 2009 lalu.

Persis 12 tahun lalu Nasrudin Zulkarnaen ditembak di kepala setelah bermain golf di Tangerang, Banten.

Meski sebelum meninggal sempat kritis, nyawa Nasrudin tak tertolong dan meninggal yang kala itu dilarikan ke Rumah Sakit Mayapada dan Nasrudin meninggal pada Minggu (15/03/2009).

Sebelum meninggal, kala itu mobil yang Nasrudin tumpangi bergerak lambat di tepian danau di dekat lapangan golf itu, tiba-tiba dua pria dengan sepeda motor muncul dari arah belakang kiri mobil.

Salah satu pria mengeluarkan senjarta api laras pendek dan menambak Nasrudin sebanyak dua kali. Peluru bersarang di pelipis kiri korban.

Antasari Azhar yang saat itu menjabat Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), ia terseret dalam kasus pembunuhan Nasrudin. Antasari diduga sebagai aktor intelektual dibalik tewasnya Nasrudin.


Polisi mencurigai keterlibatan Antasari dipicu karena ditemukan bukti pesan singkat yang bernada ancaman terhadap Nasrudin.

Adapun isi pesan singkat tersebut yakni sebagai berikut:

“‘Maaf… masalah ini hanya kita berdua yang tahu. Kalau ini sampai terblow-up, tahu konsekuensinya’, Begitu kira-kira,” kata pengacara keluarga Nasrudin, Jeffry Lumempouw, dalam keterangannya kepada media.

Sementara menurut pengakuan Antasari, ia justru membantah telah mengirim pesan tersebut dan menyebut tudingan itu tidak benar.

Antasari mengungkapkan memang kenal dengan Nasrudin. Meski begitu, Antasari ngotot bahwa KPK justru tengah melindungi Nasrudin yang merupakan saksi dari kasus dugaan korupsi di PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI).

“Kalau saya dibilang tidak kenal, itu bohong karena fakta hukum saya harus melindungi mereka yang menyampaikan info kepada KPK. Nasrudin termasuk orang yang sering memberikan info,” katanya.

Akhirnya saat itu Antasari resmi ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh polisi pada 4 Mei 2009.

Kala itu, Antasari diyakini sebagai dalang dibalik pembunuhan terhadap Nasrudin.

Kapolda Metro Jaya kala itu, Irjen Pol Wahyono, menyampaikan, Antasari diduga kuat sebagai aktor pembunuhan itu setelah pihaknya menggali informasi dari 10 tersangka yang terlebih dahulu ditangkap.

Para tersangka itu antara lain Daniel (D) sang eksekutor, Edo (E) sebagai pemberi order, Henrikus Kia Walen (H) sebagai penerima order, Heri Santoso (HS) sebagai pengendara motor, A dan C sebagai pemantau lapangan saat eksekusi, AM sebagai pemantau kebiasaan korban, Wiliardi Wizard (WW) dan Jerry Kusuma (JK) sebagai penghubung, dan Sigid Haryo Wibisono (SHW) sebagai penyandang dana.

Antasari akhirnya dijerat dengan dijerat pasal 340 KUHP dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Pada 19 Januari 2010, Antasari dituntut hukuman mati oleh jaksa penuntut umum yang dipimpin Cirus Sinaga.

Majelis Hakim PN Jaksel yang dipimpin Herry Swantoro pada akhirnya memvonis Antasari dengan hukuman penjara selama 18 tahun pada Januari 2010.

Antasari terus mengajukan berbagai upaya hukum demi dibebaskan meski banding, kasasi, hingga peninjauan kembali (PK) telah ditolak.

Pada Selasa (28/04/2015), tim kuasa hukum Antasari mengajukan permohonan grasi ke Presiden Joko Widodo. Upaya tersebut didukung oleh keluarga Nasrudin.

Akhirnya, Antasari, diputuskan bebas bersyarat pada 10 November 2016 setelah melewati dua pertiga masa pidana.

Antasari bebas murni pada 2017 setelah Presiden Joko Widodo mengabulkan permohonan grasinya.

Menurut keterangan Tim penasihat hukum Antasari, kala itu kasus Antasari dinilai ada beberapa kejanggalan dalam penganganan kasus pembunuhan Nasrudin, di antaranya terkait penghilangan barang bukti penting berupa baju yang dikenakan korban di hari pembunuhan.

Koordinator kuasa hukum Antasari, Boyamin Saiman, dalam keterangannya kepada media, 8 April 2015 lalu, mengungkap fakta bahwa baju korban telah hilang atau dihilangkan.

“Pihak RS Mayapada dan pihak polisi tidak melakukan upaya maksimal untuk mencarinya dengan cara penyitaan dan penggeledahan,” kata Boyamin.

Selain itu, terungkap pula fakta tentang upaya menghilangkan ukuran jenis peluru yang sesungguhnya digunakan untuk menembak korban.

Ahli forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Abdul Mun’im Idris, mengaku pernah dihubungi oleh petugas Polda Metro Jaya untuk menghilangkan ukuran peluru yang sesungguhnya.

Selain itu, Mun’im mengatakan bahwa mayat Nasrudin sudah dimanipulasi sebelum dibawa ke RSCM untuk diautopsi.

“Mayatnya sudah tidak asli, seperti rambut sudah digunting dan lukanya sudah dijahit,” kata Mun’im saat menjadi saksi ahli dalam persidangan Antasari Azhar di PN Jakarta Selatan, Kamis (10/12/2009).

Sebagai informasi Nasrudin Zulkarnaen adalah orang kelahiran Ujung Pandang, 12 Desember 1968. Sejak zaman pemerintahan orde baru, Nasrudin dekat dengan pejabat-pejabat dan orang kenamaan pada masa itu. Pria yang hobi main tenis ini merupakan mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII). Nasrudin memulai karirnya di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Sulawesi Selatan pada tahun 1987. Selang beberapa waktu kemudian, ia pindah dan bekerja di BUMN Pembangunan Perumahan. Beberapa tahun setelahnya, Nasrudin bertolak ke Jakarta dan menjadi staf di Pegadaian Pusat.

Pada 25 Mei sampai dengan 13 Oktober 1999, lulusan Universitas Tadulako ini diangkat menjadi staf khusus Menteri Negara Pendayagunaan BUMN yang menjabat saat itu, Tanri Abeng. Waktu itu, rumah tangga yang ia bangun bersama Sri Martuti kandas, padahal pasangan ini telah dikaruniai dua orang anak. Pria yang juga hobi bermain golf ini lalu menikahi Irawati Arienda, seorang mantan pramugari Garuda Indonesia Airways (GIA).

Setelah Tanri Abeng turun jabatan, Nasrudin kemudian pindah ke PT. Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) yang menguasai sektor agrobisnis, farmasi, dan perkebunan. Lelaki yang dikenal pandai me-lobby ini pada 2007 dipromosikan menjadi Direktur Pengembangan dan SDM, ketika Menteri BUMN dijabat oleh Sugiharto. Akan tetapi, akibat digesernya posisi Sugiharto oleh Sofyan Djalil, Nasrudin tak pernah memegang jabatan tersebut meskipun SK-nya sudah keluar.

Hal ini membuatnya sempat memprotes beberapa pejabat BUMN yang menjabat saat itu. Setahun kemudian, suara Nasrudin ditanggapi walaupun ia hanya diberi jabatan sebagai direktur cucu perusahaan RNI, yaitu PT. Putra Rajawali Bandaran (PRB), yang membidangi farmasi. PRB ini adalah anak dari perusahaan PT. Mitra Rajawali Bandaran (MRB), yang merupakan anak PT. RNI.

Lima bulan sejak menjabat sebagai Direktur PRB, tepatnya pada hari Sabtu, 14 Maret 2009, Nasrudin ditembak di mobilnya. Nasrudin dimakamkan Senin, 16 Maret 2009, di TPU Hartaco, Sulawesi, tepat di samping makam ayahnya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

KH. Ahmad Chalwani Berjan: Thariqoh Amaliah Utama Warga NU

Read Next

Duh! Makan Ini Bisa Buat Suasana Hati Memburuk Hingga Depresi