ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
22 April 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Fakta-fakta Aliran Hakekok Balatasutak

Sekelompok Orang Ritual Tanpa Busana di Rawa Gegerkan Warga Cigeulis

Konfirmasitimes.com-Jakarta (13/03/2021). Sebanyak 16 anggota aliran Hakekok ditangkap saat tengah menjalankan ritual mandi bersama tanpa busana di sebuah rawa, Desa Karang bolong, Kecamatan Cigeulis, Pandeglang.

Aliran Hakekok Balatasutak diamankan oleh Polres Pandeglang, Kamis (11/03/2021) lalu.

Menurut informasi yang dihimpun, Aliran Hakekok Balatasutak dipimpin oleh seseorang berinisial A (52) yang merupakan warga Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Berdasarkan keterangan seorang warga berinisial MS, mandi bersama di rawa memang menjadi ritual dari kelompok tersebut.

Ritual itu sudah dilakukan oleh S, yang nota benenya adalah orang tua A yang telah meninggal dunia. S dulunya juga dikenal oleh warga sebagai guru spiritual di wilayah Bogor.

Polres Pandeglang sendiri masih terus mengusut kasus ini. Aparat juga telah menggeledah rumah A dan menemukan sejumlah barang bukti. Mulai dari jimat, pusaka, kitab, hingga kondom.

“Berdasarkan hasil olah TKP yang ada di kediaman yang bersangkutan, kami mengumpulkan beberapa barang bukti, seperti kitab, kemudian pusaka, jimat, serta alat kontrasepsi,” kata Kapolres Pandeglang AKBP Hamam Wahyudi di Kejari Pandeglang, Jumat (12/03/2021).

Jimat hingga pusaka digunakan untuk pengaruhi anggotanya

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, jimat hingga pusaka itu digunakan oleh A sebagai wibawa dan mempengaruhi anggotanya agar menuruti semua kemauannya.

“Sebagai pegangan yang bersangkutan, digunakan dia sebagai ketua, punya kemampuan lebih, sehingga bisa mempengaruhi pengikutnya,” ucap Haman.

Lebih lanjut, Haman mengatakan ritual yang dilakukan oleh aliran Hakekok Balatasutak tidak dibenarkan dalam ajaran agama.

Karenanya, kata Haman, seluruh anggota aliran itu nanti akan dibimbing oleh tokoh agama di Kabupaten Pandeglang.

“Setelah ada putusan fatwa dari MUI Pandeglang, kita akan melakukan pembinaan kepada mereka. Setelah hasil pembinaan, kemudian akan kita kembalikan jika mereka sudah kembali ke jalan yang benar,” katanya.

Sudah ada dari 12 tahun lalu

Aliran ini rupanya sudah ada dari sekitar 12 tahun lalu, pasalnya di tahun 2009 lalu, aliran ini pernah membuat geger masyarakat Pandeglang, Banten.

Para penganut aliran itu memiliki padepokan di Desa Sekon, Kecamatan Cimanuk yang sudah berdiri sekitar lima tahun. Rata-rata, santrinya berasal dari Jawa Barat, DKI Jakarta dan Banten.

Pada 2009, aliran ini juga pernah dibubarkan masyarakat karena dugaan mencabuli dua santriwatinya di padepokan yang berada di Desa Sekon, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang, dengan alasan kawin gaib.

Namun, Kapolres Pandeglang, AKBP Hamam Wahyudi mengatakan belum ada indikasi tindakan serupa pada kasus 2021 ini.

Kala itu, anggota dari kelompok ini diduga kerap menggauli santrinya dengan janji akan diberikan ilmu kesaktian. Kesal dengan perbuatan aliran ini, warga pun membakar padepokan Hakekok Balatasutak tersebut.

Dalam kejadian itu, polisi ketika itu juga turut mengamankan S selaku pimpinan aliran tersebut. Kala itu, S mengklaim sedang melakukan kawin gaib dan melaksanakan ibadah bareng bersama para santri wanitanya.

“Berdasarkan peyelidikkan kami, tidak ada, jadi tidak ada kegiatan (cabul) seperti itu,” katanya.

Pada 2009 silam, Hakekok Balakutak dipimpin oleh Sahrudin (45), yang merupakan keluarga dari pimpinan saat ini, A (52).

Sahrudin sudah meninggal dunia, dan aliran itu diteruskan oleh A. Dulu, pengikutnya berasal dari Jawa Barat, Jakarta dan Banten. A merupakan warga asli Bogor, Jabar.

Hamam membenarkan adanya tiga anak di bawah umur yang ikut serta dalam mandi bugil bersama di Desa Karang Bolong tersebut. Ketiganya mengikuti orangtua mereka.

Sementara ini, polisi masih menyatakan aliran Hakekok Balakutak hanya menyimpang dari ajaran Islam, bukan aliran sesat.

MUI segera putuskan Aliran Hakekok Balatasutak sesat atau tidak

MUI akan menggelar rapat bersama Komisi Fatwa, hingga Komisi Perundang-undangan untuk menetapkan apakah Aliran Hakekok Balatasutak ini sesat atau tidak.

“Untuk sementara ini, sesuai hasil pemeriksaan kepolisian, termasuk saya pribadi, itu ajaran yang menyimpang,” ujar Ketua MUI Pandeglang, Hamdi Ma’ani, dalam keterangannya kepada media, Jumat (12/03/2021).

Hamdi sudah menemui ketua aliran Hakekok Balatasutak, A (52).

A (52) menuturkan ke Hamdi, dia membuat perjanjian dengan Imam Mahdi untuk menyejahterakan hingga menyukseskan anggotanya di dunia dan akhirat. Tetapi, perjanjian itu belum terbukti.

Hamdi mengungkapkan bahwa pihaknya bersama tokoh masyarakat sudah pernah memberikan pembinaan kepada penganut aliran Hakekok Balakutak. Sebab, ajaran tersebut dianggap menyimpang.

“Sudah pernah dibina, sudah kondusif, muncul lagi sekarang di luar sepengetahuan kami,” kata Hamdi dalam keterangannya, Sabtu (13/03/2021).

Menutut Hamdi, pemeluk aliran Hakekok Balatasutak sudah terdeteksi beberapa tahun lalu di Desa Karangbolong, Cigeulis, Banten. Untuk kasus terbaru, dia sendiri telah bertemu dengan pimpinan pemeluk aliran tersebut di Polres Pandeglang.

“Arya (pimpinan aliran) mengakui telah melakukan kesalahan,” terang Hamdi.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Membongkar Sekte Sesat Hakekok Blakasuta Bersama KH. Dr. Ahmad Mukri

Read Next

Cupang Tidur