ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
23 April 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Serem! Denmark dan Islandia Hentikan Penggunaan Vaksin AstraZeneca atas Temuan Kasus Pembekuan Darah, Bagaimana Indonesia?

AstraZeneca

Konfirmasitimes.com-Jakarta (12/03/2021). Otoritas Kesehatan Denmark pada Kamis (11/03/2021) menghentikan penggunaan vaksin virus corona AstraZeneca selama 14 hari.

Keputusan itu mengikuti laporan dari “kasus serius (terjadi – red) pembekuan darah di antara orang-orang yang divaksinasi,” bunyi pernyataan itu.

Otoritas Kesehatan Denmark juga berhenti mengatakan ada hubungan langsung antara vaksin dan pembekuan darah, “pada saat ini”.

Tak lama setelah pengumuman itu, Islandia pun mengikutinya, menghentikan penggunaan vaksin AstraZeneca.

Denmark, otoritas Uni Eropa melakukan investigasi

Badan Obat Denmark menyampaikan telah melakukan penyelidikan terhadap vaksin tersebut.

Penyelidikan sedang dilakukan oleh lembaga terkait di negara-negara Uni Eropa lainnya serta Badan Obat-obatan Eropa (European Medicines Agency / EMA).

EMA bertanggung jawab atas evaluasi dan pengawasan produk obat di UE.

Kami dan Badan Obat-obatan Denmark harus menanggapi laporan kemungkinan efek samping yang serius, baik dari Denmark dan negara-negara Eropa lainnya,

kata direktur Otoritas Kesehatan Denmark, Soren Brostrom, dalam sebuah pernyataan.

Apa kabar Indonesia?

Beberapa waktu lalu, Indonesia kedatangan vaksin Oxford-AstraZeneca, Senin (08/03/2021) sore melalui skema COVAX dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Menurut tayangan di YouTube resmi Sekretariat Presiden, vaksin tiba sekitar pukul 17.45 WIB di Bandara Udara Soekarno-Hatta, Tangerang.

Vaksin Astrazeneca yang diterima Indonesia sebanyak 1.113.600 vaksin, dengan total berat 4,1 ton.

Mengenal Vaksin AstraZeneca

Vaksin AstraZeneca-Oxford adalah vaksin vektor adenovirus simpanse. Ini berarti bahwa tim pengembang vaksin mengambil virus yang biasanya menginfeksi simpanse, dan dimodifikasi secara genetik untuk menghindari kemungkinan konsekuensi penyakit pada manusia.

Virus yang dimodifikasi ini membawa sebagian dari Covid-19 coronavirus yang disebut protein spike, bagian menonjol seperti paku yang ada di permukaan virus corona SARS-CoV-2.

Saat vaksin dikirim ke sel manusia, ini memicu respons kekebalan terhadap protein spike, menghasilkan antibodi dan sel memori yang akan mampu mengenali virus penyebab Covid-19.

Vaksin vektor adenovirus telah dikembangkan sejak lama, khususnya untuk melawan malaria, HIV, dan Ebola.

Dalam sebuah makalah yang diterbitkan pada Januari, penulis menjelaskan bahwa vaksin menawarkan perlindungan 64,1 persen setelah setidaknya satu dosis standar.
Selain itu, efikasi jika diberikan dalam dua dosis adalah 70,4 persen.

Kemudian pada orang yang meminum setengah dosis kemudian satu dosis penuh efikasinya 90 persen.

Komite Vaksin memperkirakan dari tiga minggu hingga 9-12 minggu setelah penyuntikan pertama, vaksin dapat mencegah sekitar 70 persen kasus penyakit serius.

Menurut keterangan Kepala BPOM Penny K. Lukito, ia mengatakan bahwa vaksin tersebut dapat digunakan oleh populasi dengan usia 18 tahun ke atas. Artinya sama seperti vaksin Covid-19 buatan Sinovac, lansia dengan usia 60 tahun ke atas dapat diberikan vaksin Covid-19 AstraZeneca.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Sekelompok Orang Ritual Tanpa Busana di Rawa Gegerkan Warga Cigeulis

Read Next

Praktisi Hukum: Ocehan Novel Sudah Nyrempet Berpotensi Kena Pasal Ini