ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
22 April 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Duh! Irjen Napoleon Justru Goyang TikTok Usai Dijatuhi Hukuman 4 Tahun Penjara

Duh! Irjen Napoleon Justru Goyang TikTok Usai Dijatuhi Hukuman 4 Tahun Penjara

Konfirmasitimes.com-Jakarta (11/03/2021). Irjen Napoleon Bonaparte, Mantan Kadivhubinter Polri malah melakukan goyang TikTok seusai divonis 4 tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider 6 bulan kurungan.

Usai sidang, Irjen Napoleon Bonaparte terlihat semringah. Justru Napoleon berjoget TikTok.

Setelah mendengarkan putusan, Napoleon tegas menyatakan banding. Setelah hakim keluar dari ruang sidang, Napoleon bersalaman dengan tim pengacara.

Lalu Napoleon menyapa wartawan yang hendak mengabadikan foto Napoleon. Napoleon juga tidak menyampaikan pernyataan apa pun.

“Cukup ya, sudah,” kata Napoleon.

“Nggak perlu kan saya goyang, apa perlu saya goyang TikTok,” kata Napoleon sambil tertawa.

Setelah menyampaikan itu, Napoleon kemudian bergoyang. Dia mengepalkan tangannya dan digerakkan. Lalu, pinggul Napoleon digoyangkan dua kali sambil tertawa.

Pengacara Napoleon, Santrawan T Paparang menilai goyang TikTok itu adalah ekspresi Napoleon. Dia juga mengapresiasi Napoleon yang dinilai santun dalam menanggapi vonis hakim.

“Goyang TikTok adalah ekspresi saja dari beliau dalam bentuk sopan dan beradab,” katanya.

Sebagai informasi, Irjen Napoleon Bonaparte, dalam persidangan terbukti bersalah menerima suap USD 370 ribu dan SGD 200 ribu dari Djoko Tjandra berkaitan penghapusan red notice/DPO di Imigrasi.

Irjen Napoleon Bonaparte terbukti bersalah melanggar Pasal 5 ayat 2 juncto Pasal 5 ayat 1 huruf a UU Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Irjen Pol Napoleon Bonaparte secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama,” kata hakim ketua Muhammad Damis, saat membacakan surat putusan di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (10/03/2021).

“Menjatuhkan hukuman pidana terhadap terdakwa dengan pidana penjara 4 tahun dan denda Rp 100 juta subsider 6 bulan kurungan,” sambungnya.

Terdakwa Irjen Napoleon telah menerima uang USD 370 ribu dan SGD 200 ribu, dan saksi Prasetijo telah menerima uang USD 100 ribu dari Djoko Tjandra melalui Tommy Sumardi.

Kata Hakim, sejumlah saksi dan barang bukti telah menunjukkan adanya pemberian uang dari Djoko Tjandra melalui Tommy Sumardi kepada Irjen Napoleon. Napoleon dinyatakan hakim menerima uang USD 370 ribu dan SGD 200 ribu, jika dirupiahkan sekitar Rp 7,4 miliar.

Fakta itu juga terungkap dalam rekaman CCTV di mana memperlihatkan Tommy Sumardi di Gedung TNCC Polri yang membawa paper bag putih. Adapun kaa itu Brigjen Prasetijo menuyul, kemudian Tommy dan Prasetijo berbarengan keluar sudah tidak membawa paper bag putih tadi.

“Yang mana paper bag itu berisi uang,” kata hakim anggota Joko Soebagyo.

Napoleon disebut hakim sengaja bersurat ke imigrasi agar imigrasi menghapus nama Djoko Tjandra di sistem. Hakim mengatakan sejatinya Napoleon tahu red notice Djoko Tjandra di Interpol pusat sudah terhapus. Oleh karena itu, dia menyurati imigrasi sehingga nama Djoko Tjandra terhapus.

Padahal, kata hakim, Kejaksaan Agung masih membutuhkan red notice Djoko Tjandra. Saat itu Djoko Tjandra masih menjadi buron kasus hak tagih (cessie) Bank Bali.

Menurut hakim, uang sekitar Rp 7 miliar yang diberikan Djoko Tjandra melalui Tommy Sumardi itu dimaksudkan agar Napoleon membantu menghapus DPO Djoko Tjandra di imigrasi.

Putusan hukuman terhadap Napoleon ini lebih tinggi dibandingkan tuntutan jaksa. Jaksa sebelumnya menuntut Napoleon 3 tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider 6 bulan kurungan.

Atas vonis tersebut, Irjen Napoleon keberatan. Napoleon mengaku lebih baik mati.

Napoleon dengan suara terbata-bata menegaskan keberatan atas vonis hakim. Dia mengaku martabatnya telah dilecehkan dan lebih baik mati.

“Cukup sudah pelecehan martabat yang saya derita dari Juli tahun lalu sampai hari ini. Saya lebih baik mati daripada martabat keluarga dilecehkan seperti ini. Saya menolak putusan hakim, dan mengajukan banding,” kata Napoleon dalam sidang.

Napoleon pun tegas mengajukan banding. Jaksa juga menyatakan pikir-pikir atas putusan hakim.

Dalam pertimbangannya, hakim menilai perbuatan Napoleon tidak kesatria seperti aparat penegak hukum. Napoleon juga dinilai hakim tidak pernah merasa bersalah atas perbuatannya.

“Terdakwa sama sekali tidak menunjukkan penyesalan atas terjadinya tindak pidana dalam perkara ini,” kata hakim.

Adapun hal yang meringankan, Napoleon bersikap sopan selama persidangan. Selain itu, Napoleon belum pernah dijatuhi pidana.

Hakim juga menilai putusan 4 tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider 6 bulan kurungan ini sudah adil. Hakim tidak sependapat dengan tuntutan jaksa yang dinilai terlalu ringan.

“Majelis hakim tidak sependapat dengan penuntut umum tentang lamanya pidana sebagaimana yang dimohonkan oleh penuntut umum dalam tuntutan pidananya. Menurut hemat majelis hakim, pidana sebagaimana tuntutan pidana penuntut umum terlalu ringan untuk dijatuhkan kepada terdakwa,” katanya.

“Menimbang berdasarkan hal-hal di atas, menurut pendapat majelis hakim, pidana sebagaimana pada amar putusan sudah layak dan setimpal, serta memenuhi rasa keadilan untuk dijatuhkan kepada terdakwa,” lanjutnya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Terheboh…!!! Amien Rais Ketemu Jokowi Bawa* Neraka Jahanam

Read Next

Khataman Quran dalam Rangka Memperingati Isra Mi’raj