ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
23 April 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Covid-19: Mengapa Banyak Negara Laporkan ‘Kasus Baru’ Menurun? Apa Penyebabnya

Covid-19: Mengapa Banyak Negara Laporkan 'Kasus Baru' Menurun? Apa Penyebabnya

Konfirmasitimes.com-Jakarta (10/03/2021). Banyak negara di seluruh dunia melaporkan penurunan jumlah “kasus baru” dan telah terjadi selama lebih dari sebulan.

Apa penyebabnya?

OffGuardian dalam artikelnya menulis: “Angka merah yang mengerikan semuanya turun . Periksa surat kabar atau situs pelacakan covid yang Anda inginkan. Kasus. Meninggal. Rawat Inap. Mereka semua turun tajam, dan telah terjadi selama berminggu-minggu, terutama di AS dan Inggris,”.

Lalu, mengapa begitu?

Di media global, diberitakan bahwa para ilmuwan dan pakar di seluruh dunia menyarankan menurunkan kasus covid-19 dengan vaksin hingga lockdown.

Menurut OffGuardian ada satu yang masuk akal, yakni bukan vaksin melainkan bagaimana media bisa mempengaruhi pembaca seluruh dunia untuk meyakini jika “vaksin” telah berpengaruh dan menghentikan penyebaran “virus”.

Jadi yang penting harus digaris bawahi ialah bagaimana setiap orang akan berasumsi bahwa vaksin sebagai solusi dari covid-19.

Apakah ini masalahnya? Tidak, tidak.

Penurunan dimulai pada pertengahan Januari, terlalu dini untuk program vaksinasi apa pun untuk berdampak. Banyak ahli mengatakan :

Penurunan jumlah kasus tidak dapat dikaitkan dengan vaksin COVID-19, karena bahkan tidak sepersepuluh dari populasi yang telah divaksinasi.

Wafaa El-Sadr, profesor epidemiologi dan kedokteran di Mailman School of Public Health Universitas Columbia,

Bukan vaksin

Lebih lanjut, penurunan ini terjadi secara bersamaan di berbagai negara di seluruh dunia, dan tidak setiap negara melakukan vaksinasi dengan kecepatan yang sama atau bahkan menggunakan vaksin yang sama. Jadi tidak, “vaksin” tidak menyebabkan penurunan.

Bukan lockdown

Kemudian lockdown, dengan propaganda yang menyatakan bahwa semua diwajibkan dirumah yang dipaksakan oleh pemerintah dan tindakan “menjauhkan” akhirnya berdampak.

Sementara itu di Indonesia sendiri, Pemerintah Indonesia mengklaim bahwa penurunan itu terjadi karena diberlakukannya PPKM Mikro.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu menyampaikan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro berhasil cukup baik, tren kasus COVID-19 terus menurun.

Menurutnya itu terlihat dari kasus mingguan di 7 provinsi pelaksanaan PPKM (DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali).

“Kelihatan sekali trennya (kasus COVID-19) terus menurun. Ini sangat bagus. Dan diharapkan, kita terus tetap bekerja keras agar tren laju penurunan ini bisa turun, turun, dan terus turun,” kata Jokowi saat Live tentang Perkembangan Penanganan COVID-19 di Indonesia, Kamis (04/03/2021) lalu.

Tercatat pada Januari 2021, Indonesia pernah mencapai angka 14.000 sampai 15.000 kasus positif COVID-19 per hari.

“Dan satu minggu terakhir ini. Misalnya, 22 Februari 2021, berada di angka 10.180 kasus dan 3 Maret ada 6.808 kasus positif,” jelas Jokowi.

“Angka-angka seperti ini kalau kita lihat secara detail, kasus harian semakin turun dan semakin turun. Tetapi, sekali lagi kita harus tetap waspada. Kita harus bekerja keras agar kasus aktif COVID-19 harian semakin turun, semakin turun tanpa mengurangi tes/testing yang dilakukan setiap harinya.” kata Jokowi.

Bukan itu juga

Anehnya, Swedia yang diketahui tidak pernah lockdown sama sekali. Namun “kasus” dan “kematian terkait Covid” menurun persis sejajar dengan Inggris:

corona

Jelasnya, jika negara-negara yang tidak pernah memberlakukan lockdown juga mengalami penurunan jumlah kasus, jadi lockdown atau pembatasan bukan penyebabnya.

Jadi apa itu?

Pedoman Tes PCR WHO

Mungkin untuk jawaban kita, kita harus melihat pada tanggal dimulainya penurunan.

Perhatikan grafik ini:

penurunan covid

Seperti yang Anda lihat, penurunan global dalam “kematian akibat Covid” dimulai pada pertengahan hingga akhir Januari.

Apa lagi yang terjadi sekitar waktu itu?

Nah, pada 13 Januari WHO menerbitkan sebuah memo mengenai masalah kasus asimtomatik yang ditemukan dengan tes PCR , dan menyarankan agar tes positif asimtomatik diulangi.

Ini menindaklanjuti memo mereka sebelumnya, menginstruksikan laboratorium di seluruh dunia untuk menggunakan ambang batas siklus yang lebih rendah (nilai CT) untuk tes PCR, karena nilai di atas 35 dapat menghasilkan positif palsu .

Pada dasarnya, dalam dua memo, WHO memastikan pengujian di masa depan akan cenderung menghasilkan hasil positif palsu dan membuatnya lebih sulit untuk diberi label sebagai “kasus tanpa gejala”.

Singkatnya, logika akan menunjukkan bahwa kita sebenarnya tidak melihat “penurunan kasus Covid” atau “penurunan kematian akibat Covid” sama sekali.

OffGuardian dalam artikelnya mengatakan “Apa yang kami lihat adalah penurunan pada orang sehat sempurna yang diberi label “kasus covid” berdasarkan hasil positif palsu dari proses pengujian yang tidak dapat diandalkan. Dan kami melihat lebih sedikit orang yang meninggal karena pneumonia, kanker, atau penyakit lain yang menambahkan “Covid19″ ke sertifikat kematian mereka berdasarkan kriteria pengujian yang dirancang untuk meningkatkan pandemi,”.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Cara Membersihkan Lumut

Read Next

Sungguh Terlalu..!!! Kyai Said Aqil Siradj Disebut Ulama Penjilat Rezim Pengkhianat