ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
22 April 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Duhh! Pemerintah Impor Beras, Petani Mengeluh: Harga Gabah Basah Anjlok

Duhh! Pemerintah Impor Beras, Petani Mengeluh: Harga Gabah Basah Anjlok

Konfirmasitimes.com-Jakarta (07/03/2021). Petani mengeluh, kabar impor beras yang dilakukan pemerintah.

Pemerintah kabarnya akan impor beras, disebut-sebut sudah mengalokasikan impor beras sebesar 1 juta ton kepada Bulog. Alokasi itu terbagi menjadi dua. Masing-masing 500.000 ton untuk Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan 500.000 ton digunakan sesuai kebutuhan Bulog.

Menurut keterangan Anwar (37), seorang petani di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat mengatakan terpukul karena rencana itu diputuskan ketika petani sedang menghadapi panen raya.

“Harusnya diserap bukan diimpor,” kata Anwar, Jumat (05/03/2021).

Sementara menurut keterangan Sekretaris Perusahaan Perum Bulog, Awaludin Iqbal menyampaikan bahwa selama ini peranan Bulog hanya terfokus pada operator.

“Sedangkan untuk Kebijakan impor ada di Kementerian,” katanya.

Lebih lanjut menurutnya relaisasi serapan beras dari panen raya yang sedang berlangsung saat ini mencapai 41 ribu ton. Sementara stok yang ada mencapai 1 juta ton. Adapun target serapan Bulog tahun ini jumlahnya mencapai 1,45 juta ton.

Jemur Gabah

Sementara itu, para petani di Blora sudah panen padi musim tanam pertama tahun ini. Puncak panen padi diperkirakan bulan Maret hingga April 2021.

Hanya saja, hasil panen tidak diiringi dengan kenaikan harga gabah, sebaliknya harga gabah basah anjlok dibandingkan tahun lalu.

Padahal saat ini menginjak musim panen yang harusnya menjadi tumpuan bagi petani untuk menuai hasil dari sawah.

Seorang petani asal Kelurahan Beran, Kecamatan Blora, Mulyono (65) mengatakan, harga gabah basah dari sawah yang baru saja dipanen hanya tembus di angka Rp 3.500 per kilogramnya.

Padahal tahun lalu, gabah basah dari sawah mampu tembus Rp 4.500 per kilogramnya. 

“Ini, kenapa malah turun, repot semua.
Kalau dijual langsung tidak dapat untung petani ini,” kata Mulyono, dalam keterangannya, Sabtu (06/03/2021).

Mulyono menyampaikan, dari satu petak lahan sawah yang digarap, rata-rata setiap panen mampu menghasilkan 1,5 ton gabah.

Dengam harga saat ini, Mulyono mampu mendapat sekitar Rp 5 juta. Hasil sebanyak itu dinilainya tidak menguntungkan ketika dipotong modal tanam.

Untuk sekali tanam, Mulyono harus mengeluarkan modal Rp 1 juta untuk pupuk. Belum lagi ongkos buruh tanam Rp300.000, traktor Rp300.000.

Ongkos lainnya yakni untuk kebutuhan bibit dan biaya perawatan sekitar tiga bulan hingga panen yang menurutnya membutuhkan biaya yang tidak sedikit. “Jadi gabahnys saya keringkan dulu, kemudian saya simpan,” kata dia.

Menurutnya petani tidak bisa berbuat banyak. “Petani hanya bisa mengeluh,” katanya.

Ketua Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalsn (KTNA) Blora, Sudarwato, menilai merosotnya harga gabah ini diperparah karena sebelumnya pupuk bersubsidi sulit dicari. Kalaupun ada, stoknya sangat terbatas.

Akhirnya ada beberapa petani yang kemudian menggunakan pupuk nonsubsidi. Pupuk sulit ditambah harga gabah anjlok. Ia berharap pemerintah tidak impor beras.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya Badan Pusat Statustik (BPS) merilis bahwa produksi beras pada tahun ini diperkirakan meningkat tinggi yakni sebesar 4,86 juta hektare atau naik sebesar 26,56 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan terjadi karena panen raya di awal tahun, terutama di sejumlah daerah terus menunjukan tren positif.

Lebih lanjut, berdasarkan laporan total stok beras Bulog pertanggal 3 Maret 2021 mencapai 870.421 ton. Dari angka tersebut, rata-rata harga gabah kering panen di tingkat petani pertanggal 4 Maret 2021 mencapai Rp 4.464 perkilogra atau turun 0,29 persen dari hari sebelumnya. Sedangkan harga gabah kering giling mengalami kenaikan sebesar 0,96 persen atau Rp 5,479. Adapun harga beras medium di tingkat penggilingan mencapai Rp. 9.153 perkilogram atau naik sebesar 0,39 peraen dari hari sebelumnya.

Menurut catatan BPS, pergerakan produksi beras tahun 2020 mencapai 54,65 juta ton. Angka ini masih lebih tinggi ketimbang angka tahun 2019 yang hanya mencapai 54,60 juta ton. Adapun total luasan panen pada tahun 2020 mencapai 10,66 juta hektar dengan total produksi padi mencapai 54,65 juta ton (gabah kering giling).

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Bedah Buku Sejarah Situbondo

Read Next

Ya Badrotim (Variasi Pukulan Hadroh) / Tutorial Hadroh Untuk Pemula