ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
14 April 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Tak Ada Formasi PPPK, Guru Agama Ancam Mogok Mengajar

Perpanjangan Perekrutan Guru Penggerak, Kamu Minat?

Konfirmasitimes.com-Jakarta (06/03/2021). Apabila sampai akhir bulan ini tidak ada formasi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja atau PPPK untuk guru agama, maka ratusan ribu guru agama yang berstatus honorer mengancam akan mogok mengajar.

Ketua Umum DPP Asosiasi Guru PAI Indonesia (AGPAII) Mahnan Marbawi menyampaikan hak-hak para guru agama untuk meningkatkan statusnya sebagai aparatur sipil negara (ASN) PPPK tidak diberikan.

“Formasi PPPK untuk guru agama di luar honorer K2 tidak ada. Ini bentuk ketidakadilan terhadap guru pendidikan agama,” kata Marbawi, dalam keterangannya kepada media, Sabtu (06/03/2021).

Selain itu tidak adanya formasi PPPK untuk guru agama (di luar formasi 9.464 untuk sisa honorer K2 pada rekrutmen PPPK Februari 2019), menunjukkan ketidakadilan pemerintah.

Guru agama yang sebagian besar honorer, memegang peranan sangat penting dalam menciptakan generasi berakhlak mulia.

Marbawi mengatakan, ada desakan guru agama melakukan mogok mengajar nasional.

“Kawan-kawan dari guru agama dan pendidikan agama Islam (PAI) sudah mendesak mogok mengajar, cuma masih saya cegah. Saya minta mereka bersabar sampai akhir Maret ini untuk mendengarkan pengumuman resmi pemerintah soal rekrutmen CPNS dan PPPK,” katanya.

Jika dalam pengumuman Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN-RB) Tjahjo Kumolo akhir bulan ini, formasi PPPK untuk guru agama di luar honorer K2 tidak ada, lanjut Marbawi, desakan mogok mengajar tidak bisa dicegah lagi.

Mogok mengajar menjadi jalan terakhir bagi guru-guru agama terutama PAI untuk memperjuangkan hak-hak mereka.

“Apa bedanya kami dengan guru-guru-guru honorer mata pelajaran lainnya. Memang guru agama di bawah Kementerian Agama. Kemenag tidak sama dengan Kemendikbud. Padahal sama-sama dipimpin menteri,” tuturnya.

Dia menambahkan, permintaan formasi PPPK untuk guru agama sudah disuarakan AGPAII sejak Desember 2020. Sayangnya, sampai sekarang permintaan tersebut belum dikabulkan pemerintah.

“Saat ini kami berharap kuota PPPK yang kosong sebanyak 431.762 formasi diisi dengan guru agama. Sedangkan jumlah guru PAI yang berstatus honorer, ada 188 ribu orang, semoga diberikan kesempatan ikut tes PPPK tahun ini,” katanya.

Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud Iwan Syahril menyampaikan, kebutuhan formasi yang diajukan Pemda ke KemenPAN-RB baru 568.238. Arttnya masih ada selisih 431.762 formasi yang belum terisi, Jumat (05/03/2021).

Syahril menyampaikan, usulan kebutuhan formasi yang diajukan Pemda ke Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB) baru 568.238.

Artinya masih ada 431.762 formasi yang belum terisi.

Banyaknya formasi kosong itu mengundang komentar Ketua Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer usia di atas 35 tahun (GTKHNK 35+ ) Provinsi Jawa Barat Sigid Purwo Nugroho.

Menurut Sigid Purwo, sangat disayangkan bila kuotanya kosong sementara ada kelompok guru agama yang ingin sekali ikut rekrutmen PPPK tetapi formasinya tidak ada.

“Kenapa tidak dialihkan buat guru agama. Banyak guru pendidikan agama Islam (PAI) yang menangis karena formasi buat mereka tidak ada,” kata Sigid dalam keterangannya kepada media, Sabtu (06/03/2021).

Kementerian Agama memang mendapatkan formasi PPPK sebanyak 9.464 tetapi itu hanya untuk sisa honorer K2 yang tidak lulus pada rekrutmen Februari 2019.

Hingga kini Kemenag belum mendapatkan tambahan kuota PPPK di luar honorer K2.

“Pemerintah mengabaikan guru agama. Kenapa tidak dipikirkan bila guru agama memegang peranan penting dalam pendidikan karakter anak bangsa,” ujar Sigid Purwo.

Sigid Purwo menilai, diabaikannya guru agama dalam seleksi PPPK tahun 2021 merupakan langkah yang keliru dan diskriminatif. Modal dasar untuk menjadi negara yang mulia adalah bersumber dari pelajaran agama. Guru menerapkan ilmu ke peserta didik itu bukan hanya menekankan intelektual quotient (IQ) dan emotional quotient (EQ) saja tetapi juga spiritual quotient (SQ).

“Seluruh guru honorer pendidikan agama Islam (PAI) khususnya di Jawa Barat sangat kecewa dengan kebijakan tersebut. Adab dan akhlak peserta didik merupakan modal dasar peradaban suatu bangsa. Semua itu tidak akan bisa diperoleh kecuali dalam pembelajaran PAI,” kata Sigid Purwo.

Sigid Purwo menekankan, selama ini guru dan tenaga kependidikan honorer nonkategori khususnya usia 35 tahun ke atas dari sekolah sekolah negeri semua jenjang termasuk guru PAI telah mengabdi minimal lima tahun.

Pemerintah, seharusnya mengangkat mereka menjadi ASN PPPK yang sekarang sedang digulirkan pemerintah sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian tenaga honorer. Bukan malah makin dipersulit.

Belum lagi program guru belajar dan seri belajar mandiri calon guru ASN PPPK yang banyak menuai masalah. Dari server hingga kesulitan jaringan internet yang dialami honorer di daerah.

“Sekali lagi kami meminta pemerintah untuk tidak diskriminatif kepada guru agama. Masalah guru agama akan tuntas bila Kemendikbud dan Kemenag satu visi menciptakan SDM unggul, bukan mengutamakan ego sektoral. Guru agama banyak yang mengabdi di sekolah umum di bawah Kemendikbud. Kenapa saat rekrutmen PPPK, guru agama malah ditinggalkan,” kata Sigid Purwo.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Sammanan Tradisi Madura Sepanjang Masa

Read Next

Pembetetan Kalkun dan Makan Rica Kalkun