ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
14 April 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Nurdin Abdullah Ngotot Tak Korupsi, PDIP Beri Bantuan Advokasi

Nurdin Abdullah

Konfirmasitimes.com-Jakarta (28/02/2021). Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) diduga terlibat dalam kasus suap proyek di Sulsel. Namun anehnya, dari pengakuan Nurdin, ia mengaku tidak tahu menahu perihal itu.

“Saya ikhlas menjalani proses hukum. Karena memang kemarin itu kita nggak tau apa-apa,” kata Nurdin di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Minggu (28/02/2021).

Menanggapi kasus yang menimpa Nurdin, PDI Perjuangan dikabarkan rencananya akan memberikan bantuan hukum kepada Nurdin.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, pihaknya akan menunggu perkembangan lebih lanjut atas kasus tersebut.

“Tetapi pada prinsipnya melihat kepemimpinan beliau, masukan yang diberikan dari jajaran DPD PDI Perjuangan Sulawesi Selatan agar partai memberikan advokasi. Untuk itu, kami masih menunggu perkembangan lebih lanjut terkait hal tersebut,” kata Hasto dalam keterangannya, Minggu (28/02/2021).

Menurut Hasto, Nurdin adalah sosok yang baik dan dekat dengan petani.

“Beliau adalah sosok yang mendalami ilmu-ilmu pertanian dan betul-betul mendedikasikan diri bagi kepentingan masyarakat. Sehingga kami sangat kaget atas kejadian tersebut,” ujar Hasto.

Hingga saat ini, Hasto mengakui pihaknya masih belum bisa lepas dari rasa syok serta kaget. Rekam jejak Nurdin yang sangat baik tetap membuat pihaknya seakan belum percaya dengan apa yang sedang terjadi.

“Karena beliau rekam jejaknya kan’ sangat baik. Apakah ini ada faktor x yang kami belum ketahui, kami masih menunggu penjelasan lebih lanjut dari KPK,” jelas Hasto.

Sementara itu menurut keterangan Juru Bicara Gubernur Sulawesi Selatan Veronica Moniaga, dikatakan bahwa pihak keluarga telah menunjuk Arman Hanis sebagai kuasa hukum untuk mendampingi Nurdin Abdullah selama menjalani proses hukum.

Nurdin ditangkap KPK terkait kasus dugaan gratifikasi pengadaan barang dan jasa, perizinan dan pembangunan infrastruktur di lingkungan Pemprov Sulsel Tahun Anggaran 2020-2021.

Veronica Moniaga dalam keterangannya di Makassar, Minggu, mengatakan Arman Hanis akan membantu memediasi proses yang berjalan di KPK.

“Bapak Arman Hanis ke depannya akan lebih banyak memberikan keterangan-keterangan terkait keberlanjutan proses hukum Nurdin Abdullah,” ujarnya.

Arman Hanis yang merupakan Ketua PERADI Jakarta Pusat ini ditunjuk setelah pihak keluarga berembuk dan berdiskusi.

Dugaan sementara dari KPK, Ketua KPK Firli Bahuri KPK dalam konferensi pers di Gedung KPK mengatakan Nurdin diduga melakukan praktik korupsi penerimaan hadiah atau janji dan gratifikasi oleh penyelenggara negara, atau para pihak yang yang mewakilinya.

“Dugaan korupsi berupa penerimaan hadiah atau janji dan gratifikasi oleh penyelenggara negara, atau para pihak yang yang mewakilinya. Terkait dengan pengadaan barang/jasa pembangunan infrastruktur di Sulsel,” kata Firli , Minggu (28/02/2021).

Para tersangka adalah Nurdin Abdullah (NA) dan Sekretaris Dinas PUPR Sulsel inisial Edy Rahmat (ER) sebagai tersangka penerima gratifikasi. Sementara itu Agung Sucipto (AS) sebagai tersangka pemberi gratifikasi.

“Adapun para tersangka tersebut disangkakan, saudara NA dan ER, disangkakan melanggar pasal 12 huruf a dan pasal 12 huruf b, atau pasal 11 dan pasal 12 B besar Undang-undang nomor 31 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi,” lanjut Firli.

Korupsi terkait proyek wisata

Firli selanjutnya menjelaskan pemantauan yang dilakukan KPK dalam kasus ini. Firli menyebut pada awal Februari Nurdin Abdullah dan Edy Rahmat bertemu dengan Agung Sucipto terkait proyek Wisata Bira.

“Sekitar awal Februari 2021, Ketika NA sedang berada di Bulukumba bertemu dengan ER dan juga AS yang telah mendapatkan proyek pekerjaan Wisata Bira,” ujar Firli.

Nurdin Abdullah, kata Firli, lalu menyampaikan kepada Agung Sucipto selaku kontraktor melalui Sekdis PUTR Provinsi Sulawesi Selatan Edy Rahmat bahwa proyek tetap dilanjutkan. Nurdin memerintahkan kepada Edy segara mempercepat dokumen.

“NA menyampaikan pada ER bahwa kelanjutan proyek Wisata Bira akan kembali dikerjakan oleh AS yang kemudian NA memberikan persetujuan dan memerintahkan ER untuk segera mempercepat pembuatan dokumen DED (Detail Engineering Design) yang akan dilelang pada APBD TA 2022,” kata Firli.

Dugaan total uang suap

Nurdin Abdullah diduga telah menerima uang sejumlah Rp 5,4 miliar.

“Sejak bulan Februari 2021, telah ada komunikasi aktif antara AS dengan ER sebagai representasi dan sekaligus orang kepercayaan NA untuk bisa memastikan agar AS mendapatkan kembali proyek yang diinginkannya di tahun 2021,” kata Firli.

Mereka kemudian diduga berkomunikasi untuk tawar-menawar fee proyek yang nantinya akan dikerjakan oleh Agung Sucipto. Mereka membicarakan proyek Wisata Bira. Baru kemudian dimulailah pemberian uang.

“AS selanjutnya pada tanggal 26 Februari 2021 diduga menyerahkan uang sekitar Rp 2 miliar kepada NA melalui ER,” ujar Firli.

Tidak hanya itu, NA juga diduga menerima uang dari kontraktor lain. Berikut rinciannya, sebagaimana dilaporkan Firli.

a. Pada akhir tahun 2020, NA menerima uang sebesar Rp 200 juta
b. Pertengahan Februari 2021, NA melalui SB menerima uang Rp 1 miliar
c. Awal Februari 2021, NA melalui SB menerima uang Rp 2,2 miliar

Jadi, apabila ditotal, uang yang diduga diterima Nurdin Abdullah adalah Rp 5,4 M.

Dibawa ke rutan KPK

Usai Nurdin Abdullah ditetapkan sebagai tersangka. Nurdin akan digiring ke sel Rutan KPK Cabang Pomdam Jaya Guntur untuk menjalani penahanan.

Menurut informasi yang dihimpun, Nurdin Abdullah keluar dari Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Minggu (28/02/2021) sekitar pukul 04.00 WIB. Nurdin terlihat memakai rompi tahanan berwarna oranye.

Tangan Nurdin diborgol. Nurdin terlihat menunduk ketika dibawa masuk ke mobil tahanan oleh penyidik KPK.

Ketika hendak masuk ke mobil, Nurdin sempat menanggapi pertanyaan dari awak mediaa. Nurdin mengatakan ikhlas menjalani proses hukum terkait kasus yang menjeratnya.

“Saya ikhlas menjalani proses hukum,” kata Nurdin.

Selanjutnya, sekitar pukul 04.10 WIB, tersangka Agung Sucipto juga dibawa ke Rutan KPK. Saat meninggalkan Gedung Merah putih Agung tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Kemudian, sekitar pukul 04.13 WIB tersangka Edy Rahmat juga meninggalkan gedung Merah Putih KPK. Edy juga tidak berkomentar ketika masuk ke mobil tahanan.

Nurdin Abdullah bersama 2 tersangka lainnya akan ditahan di rutan KPK selama 20 hari ke depan.

“Para tersangka NA, ER dan AS dilakukan penahanan selama 20 hari pertama terhitung sejak tanggal 27 Februari 2021 sampai dengan 18 Maret 2021,” kata Firli Bahuri.

Nurdin Abdullah kabarnya akan ditahan di rutan KPK cabang Pomdam Jaya Guntur. Sedangkan Edy Rahmat akan di tahan di Rutan KPK Kavling C1 dan Agung Sucipto di Rutan Gedung Merah Putih.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Mobil 10 Tahun Keatas Dilarang Di Jakarta

Read Next

Indonesia – Jepang Fokus Kerjasama Industri Manufaktur