ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
14 April 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Mobil 10 Tahun Keatas Dilarang Di Jakarta

Waspada Macet!, Ada Perbaikan pada On Ramp SS Cikunir Jalan Tol Jakarta-Cikampek

Konfirmasitimes.com-Jakarta (28/02/2021). Kendaraan roda empat atau mobil dengan umur diatas sepuluh tahun akan dilarang di Jakarta. Wacana itu ingin diterapkan dengan tujuan untuk mengurangi polusi udara.

Meski ada pro dan kontra, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini tengah menggodok regulasi pembatasan usia kendaraan di Jakarta.

Peraturan itu rencananya mulai diberlakukan secara resmi pada tahun 2025 mendatang.

Lewat Instruksi Gubernur DKI Jakarta No. 66 Tahun 2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan memberikan beberapa instruksi, yang salah satunya adalah pembatasan usia kendaraan.

Dalam instruksi itu, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan meminta memperketat ketentuan uji emisi bagi seluruh kendaraan pribadi. Selain itu, kendaraan pribadi berusia lebih dari 10 tahun bakal dilarang beroperasi di DKI Jakarta pada 2025.

“Memperketat ketentuan uji emisi bagi seluruh kendaraan pribadi mulai tahun 2019 dan memastikan tidak ada kendaraan pribadi berusia lebih dari 10 tahun yang dapat beroperasi pada tahun 2025,” tulis Instruksi Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Menurut keterangan Kepala Bidang Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Yusiono Supalal, ia menyampaikan bila saat ini rencana kebijakan itu masih dalam tahap perumusan.

“Berkaitan dengan Ingub nomor 66 nomor 3. Untuk pembatasan kendaraan di atas 10 tahun di tahun 2025, ini memang sedang diformulasikan untuk mengarah ke sana. Jadi saat ini mungkin belum ada ketetapan secara regulasinya,” ujar Yusiono, dalam konferensi virtual bersama Astra Daihatsu Motor, beberapa waktu lalu.

Tersiar kabar, Kedepannya tidak hanya kendaraan pribadi yang akan terkena aturan pembatasan usia ini, Anies juga meminta untuk memastikan tidak ada angkutan umum berusia di atas 10 tahun dan tidak lulus uji emisi di jalan, serta menyelesaikan peremajaan angkutan umum melalui program Jak Lingko pada 2020.

Selain itu, partisipasi warga juga lebih didorong dalam pengendalian kualitas udara dengan perluasan kebijakan ganjil-genap selama musim kemarau. Tarif parkir di wilayah yang terlayani angkutan umum massal pada 2019 akan ditingkatkan. Serta akan diterapkan kebijakan congestion pricing.

Untuk mendukung kebijakan ini, Anies mendorong peralihan ke moda transportasi umum dan meningkatkan kenyamanan berjalan kaki melalui percepatan pembangunan fasilitas pejalan kaki di 25 ruas jalan protokol arteri dan penghubung ke angkutan umum massal pada 2020.

Instruksi lain termasuk mengoptimalisasikan penghijauan serta merintis peralihan ke energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Bebas dari polusi udara adalah hal yang memang perlu diprioritaskan.

Kebijakan pelarangan mobil 10 tahun keatas berawal dari Jakarta yang ingin bebas dari polusi. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan sendiri menjadikan masalah polusi udara sebagai prioritas kerjanya.

Sekarang ini polusi udara memang tak terhindarkan. Terutama bila tinggal di kota besar yang ramai atau daerah tempat banyak pabrik di sekeliling tempat tinggal.

Polutan mikroskopis di udara dapat menyelinap melewati pertahanan tubuh, menembus jauh ke dalam sistem pernapasan dan peredaran darah, merusak paru-paru, jantung, dan otak.

Polusi juga berkaitan erat dengan perubahan iklim. Pendorong utama perubahan iklim adalah pembakaran bahan bakar fosil yang juga merupakan kontributor utama pencemaran udara. Efek kesehatan dari polusi udara sangat serius, di antaranya adalah stroke, kanker paru-paru, dan penyakit jantung. Ini memiliki efek setara dengan merokok tembakau dan jauh lebih tinggi daripada efek makan terlalu banyak garam.

Polusi udara tidak bisa dianggap sepele karena akan memberikan pengaruh negatif pada kesehatan.

Gangguan Pernapasan

Jika terpapar polusi udara akibat asap kendaraan, kebanyakan orang akan mengalami gangguan pernapasan. Dampaknya bisa bermacam-macam, mulai dari menurunya kadar oksigen dalam tubuh hingga kerusakan saluran pernapasan, seperti asma dan kanker paru-paru.

Polusi Udara Bersifat Karsinogenik

Bahan bakar kendaraan saat ini memiliki tingkat polusi yang lebih rendah dibandingkan polusi kendaraan di zaman dahulu. Namun, perlu kamu ketahui bahwa jumlah polutan yang terkandung di dalamnya tetap tinggi, karena jumlah kendaraan sekarang lebih banyak. Gas buang kendaraan memiliki sifat karsinogenik yang dapat memberikan efek negatif bagi kesehatan. Paparan zat karsinogenik ini dapat menjadi penyebab organ tubuh dan fatalnya dapat memicu terjadinya kanker.

Ini karena ada dua zat yang terkandung dalam zat karsinogenik, yaitu benzena dan timbal. Benzena merupakan senyawa aromatik yang merupakan campuran dasar bahan bakar. Zat kimia ini dapat mudah masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan maupun permukaan kulit. Jika jumlah edar benzena di dalam darah terlalu banyak, sumsum tulang bisa mengalami kerusakan.

Sementara itu, timbal adalah logam yang terbentuk dari gas buang kendaraan. Zat kimia ini dapat menempel dan mengendap hingga jumlahnya terakumulasi di berbagai permukaan benda hingga makhluk hidup. Paparan timbal berlebihan dapat meningkatkan risiko anemia serta mengganggu kerja saraf dan otak.

Gangguan Kesehatan Anak

Jika kamu sudah memiliki anak, perlu diketahui bahwa efek jangka panjang dari paparan polusi udara adalah gangguan pernapasan akut dan asma. Terutama pada anak-anak.

Peredaran Oksigen dalam Darah Terganggu

Setelah saluran pernapasan, sistem peredaran darah pun dapat mengalami dampak negatif akibat polusi udara. Ketika karbon monoksida (CO) terlalu banyak, maka kadar kekentalan darah dan kadar protein inflamasi dapat meningkat. Inilah yang menjadi pertanda berkembangnya arterosklerosis (radang pembuluh darah). Daerah yang memiliki paparan gas buang tinggi, maka penduduknya akan memiliki risiko kematian akibat penyakit kardiovaskuler, stroke, dan diabetes.

Lalu, kembali ke kebijakan pelarangan mobil usia 10 tahun keatas. Apakah efektif jika aturan itu diberlakukan?

Salah satu pengamat transportasi Djoko Setijowarno mengkritisi kebijakan itu. Dia menilai hal itu tidak efisien.

Djoko menuturkan sebaiknya pemerintah melakukan uji emisi kendaraan. Hal itu lebih efisien ketimbang membatasi umur kendaraan.

“Belum tentu kendaraan yang usia di atas 10 tahun itu buruk asal dirawat rutin tetap bagus gas buangnya demikian pula sebaliknya, kendaraan baru tidak dirawat, tes emisi bisa hasilnya buruk, tidak standar lagi,” jelas Djoko.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Siap-siap ada Rekayasa Lalin Mulai 1 Hingga 5 Maret di Proyek Pembangunan Jakarta Cikampek II Selatan

Read Next

Nurdin Abdullah Ngotot Tak Korupsi, PDIP Beri Bantuan Advokasi