ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
14 April 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Kemeriahan Harlah NU ke 98, Diisi Banyak Tokoh Nasional

Kemeriahan Harlah NU ke 98, Diisi Banyak Tokoh Nasional

Konfirmasitimes.com-Jakarta (28/02/2021). Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah sukses menyelenggarakan peringatan Hari Lahir atau Harlah NU ke 98 di Masjid Istiqlal Jakarta, pada 16 Rajab 1442 Hijriah yang bertepatan dengan Sabtu (27/02/2021) kemarin malam. Acara itu dimulai pukul 20.00 WIB.

Banyak tokoh-tokoh dan politisi serta pejabat pemerintah turut mengisi untuk memberikan selamat dan sambutan.

mif

Dalam acara ini, Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menyampaikan harlah sebagai recharging.

“Harlah (menjadi) semacam recharging (menambah daya) untuk memperkuat mentalitas kerohanian kita, merefleksi 98 tahun, apa yang kita alami, pahit getirnya sebuah perjuangan sehingga sebesar ini adalah nikmat yang sangat besar sekali, anugerah dari Allah SWT,” ujarnya.

Harlah perlu menjadi momentum untuk mengingat dan mengambil suri tauladan dan para muassis Nahdlatul Ulama yang telah berjuang sehingga saat ini, para penerus NU tinggal memetik buahnya. 

“Semua orang memandang Nahdlatul Ulama. Semua mata diarahkan kepada Jamiyyah Nahdlatul Ulama. Tapi jangan terkecoh. Pandangan dan sorotan itu macam-macam. Ada pandangan yang karena kagum kebesaran dan ajaran NU, sehingga ia ingin ikut dalam rombongan besar NU. (Namun) Ada yang mengawasi hanya ingin mengambil manfaat tiap lima tahun sekali,” katanya.

Hingga memasuki umur 98 tahun, Rais ‘Aam mengatakan, NU telah menghadapi berbagai macam lika-liku perjuangan dan melewati berbagai peristiwa besar. Namun Nahdlatul ulama tetap tegak, tegar, dan semakin berkembang bukan hanya di Indonesia namun di berbagai dunia. Ini menurutnya menandakan bahwa Jamiyyah Nahdlatul Ulama ini diridhoi oleh Allah SWT.

Kiai Miftach menjelaskan bahwa NU sebagai ormas terbesar di seluruh dunia ini merupakan Jamiyyah Diniyyah Ijtimaiyyah yang fokus pada aspek keagamaan Ahlussunnah wal Jamaah, amar ma’ruf nahi munkar, dan mabadi khaira ummah yang berpijak pada tasamauh (toleran), tawazun (seimbang), dan tawasuth (moderat).

Menurut Kiai Miftach, Kebesaran NU sampai saat ini harus dijaga dengan sungguh-sungguh. Karena biasanya sebuah kebesaran akan mewujudkan kemapanan dan di saat itu pula lahir kemunduran-kemunduran. Jika lengah dan berbuat kesalahan, bisa jadi mengakibatkan kehancuran berkeping-keping.

“Perjuangan kita tidak pernah henti. Tidak boleh tidur. Justru di saat besar inilah banyak orang yang lupa dan lalai,” terangnya.

Kemeriahan Harlah NU ke 98, Diisi Banyak Tokoh Nasional

Dalam acara Harlah NU ke 98 itu, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Utama (PBNU) Said Aqil Siradj mengaku bersyukur dengan peringatan harlah NU kali ini.

“Dalam harlah yang ke 98 Hijriyah ini, artinya kita akan menyongsong genap 100 tahun dengan hitungan hijriah NU telah berdiri,” kata Said.

KH Said Aqil Siradj juga menyampaikan, seiring berjalannya waktu, tantangan yang dihadapi NU semakin tajam dan berat baik yang bersifat agama, sosial, kemasyarakatan dan politik.

Oleh karenanya, ia meminta NU merapatkan barisan agar dijauhkan dari perpecahan.

“Jadi dijauhilah dari perpecahan, dijauhkan dari perselisihan, beda pendapat boleh, tapi beda pendapatan yang berat,” katanya.

Kemeriahan Harlah NU ke 98, Diisi Banyak Tokoh Nasional

Dalam kesempatan itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan ucapan selamat hari lahirkepada Nahdlatul Ulama (NU) yang ke-98.

Jokowi mengatakan, puncak harlah NU menjadi momentum untuk mengukuhkan tali persaudaraan, ukhuwah islamiyah, dan ukhuwah wathaniyah yang menjadi modal ketangguhan bangsa.

“Saya mengucapkan selamat hari lahir ke-98 Hijriah Nahdlatul Ulama yang jatuh pada tanggal 16 Rajab. Puncak harlah ini akan menjadi wasilah untuk mengukuhkan tali persaudaraan, ukhuwah islamiyah, dan ukhuwah wathaniyah yang merupakan modal utama ketangguhan bangsa Indonesia,” kata Presiden yang disampaikan secara virtual sebagaimana ditayangkan akun YouTube Sekretariat Presiden.

Dalam kesempatan itu, Kepala Negara sekaligus menerangkan upaya-upaya yang dilakukan pemerintah untuk mencegah penyebaran pandemi COVID-19 dan menangani dampak ekonomi yang ditimbulkan.

Pagebluk COVID-19 yang melanda setidaknya 215 negara di dunia, selama setahun belakangan ini, memberikan dampak luar biasa, termasuk kepada masyarakat Indonesia. Persoalan dari sisi kesehatan akibat pandemi juga diikuti oleh dampak perekonomian yang mengakibatkan banyak warga kehilangan pekerjaan dan penghasilan.

“Saya tahu selama pandemi ini ada jutaan Nahdliyin yang terdampak. Ada ribuan pesantren dan lembaga pendidikan agama Islam yang juga terdampak,” tuturnya.

Untuk itu, pemerintah berupaya keras untuk meringankan beban masyarakat di kala pandemi ini melalui sejumlah program bantuan sosial, program padat karya, dan kebijakan pemulihan ekonomi nasional lainnya.

Bagi kalangan pesantren sendiri, pemerintah juga memberikan bantuan operasional pendidikan pesantren, bantuan pembelajaran daring, insentif guru pondok pesantren, dan masih terdapat beberapa program lain.

“Sementara itu untuk tahun 2021 ini, pemerintah menambah dukungan infrastruktur, pendampingan, pelatihan, dan pengembangan model bisnis untuk mewujudkan kemandirian ekonomi pesantren sebagaimana amanat UU Pesantren,” sebut Presiden.

Di tengah ikhtiar bangsa dalam menangani pandemi, Presiden Jokowi mengucap syukur kepada Allah SWT. karena berkat rahmat-Nya bangsa Indonesia dapat tetap tangguh menghadapi tantangan, bersatu, bergotong royong, saling membantu tanpa melihat perbedaan, dan saling peduli untuk meringankan beban dan kesulitan.

Presiden juga mengucapkan terima kasih kepada keluarga besar NU di seluruh nusantara yang telah mengambil peran penting untuk memastikan kesehatan dan keselamatan masyarakat hingga membantu mengatasi pagebluk di tingkat akar rumput. Kebersamaan dan kolaborasi serupa ini yang memang diharapkan muncul di masa pagebluk saat ini.

Selain itu, Jokowi juga mengharapkan dukungan para ulama dan keluarga besar NU untuk turut membantu menyukseskan kebijakan vaksinasi massal yang saat ini menjadi program terkini pemerintah untuk menekan penyebaran pagebluk.

“Kami mohon dukungan para ulama dan keluarga besar NU untuk ikut membantu pemerintah dalam menyukseskan program vaksinasi nasional ini dan mohon bantuan untuk memberikan informasi yang akurat kepada umat,” katanya. 

Tidak hanya Jokowi, adapun Anies Baswedan turut menyampaika pidatonya di acara Harlah NU ke 98 semalam.

Kemeriahan Harlah NU ke 98, Diisi Banyak Tokoh Nasional

Selain Presiden, Wakil Presiden Ma’ruf Amin dalam acara harlah NU ke 98 mengatakan bahwa NU perlu melakukan usaha maksimal untuk mengejar ketertinggalan.

“NU perlu melakukan upaya-upaya yang lebih maksimal agar tidak tertinggal, terutama dalam bidang ekonomi dan teknologi informasi untuk mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat khususnya warga NU,” kata Wapres.  

Wapres meminta agar NU menyiapkan strategi untuk memberdayakan para pengusaha kecil yang kebanyakan berasal dari warga NU. Bahkan, secara nasional pelaku usaha mayoritasnya adalah usaha mikro kecil yang jumlahnya mencapai 99 persen.

Dia menilai, perlu strategi tepat untuk memberdayakan para pengusaha kecil itu agar naik kelas, tidak terkena stunting. 

“Langkah yang perlu dilakukan juga adalah menumbuhkan para pengusaha baru dari kalangan nahdliyin sesuai dengan semangat kebangkitan para pengusaha yang digaungkan oleh para ulama pada tahun 1918,” terang Wapres. 

Kemeriahan Harlah NU ke 98, Diisi Banyak Tokoh Nasional

Sementara itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyampaikan untuk menuju persatuan bangsa, maka dibutuhkan kesetaraan. Baik kesetaraan pendidikan hingga kesetaraan keadilan.

“Hari ini kita rasakan ketimpangan. Ketimpangan yang berpendidikan dengan tidak berpendidikan, antara yang berekonomi kuat dan lemah, ketimpangan antara yang bekerja dan tidak bekerja,” kata Anies Baswedan dalam sambutannya, disiarkan melalui akun Youtube NU Channel.

Kata Anies, di zaman dulu, suasana kebangsaan menjadi tantangan untuk membangun persatuan. Namun pada hari ini, kata Anies, tantangan masa sekarang yakni kesetaraan.

“Kesetaraan adalah tantangan dan PR bangsa Indonesia sekarang. Sulit membangun persatuan dalam ketimpangan. Persatuan harus dibangun dengan perasaan kesetaraan. Persatuan membutuhkan perasaan keadilan,” kata Anies.

Berdasarkan masalah itu, Anies berharap NU terus menjadi lokomotif gerakan zakat untuk mencapai kesetaraan dalam semua hal di lapisan masyarakat. Dengan zakat, kata Anies, masyarakat yang berada di bawah menjadi terangkat.

“Bila sudah ada komandonya, semua bangun, dan semua akan bangkit,” ujar Anies.

Uniknya dalam kesempatan itu, Anies meminta warga NU untuk mendoakan Presiden Jokowi supaya dimudahkan melewati masalah dan dampak pandemi Covid-19.

“Insya Allah bersama-sama, kita bersama melalui masa sulit. Presiden dan Wapres semoga selalu diberikan kesehatan,” ujar Anies.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mendoakan agar Presiden Jokowi diberikan kemudahan dalam menghadapi pandemi Corona dan dampaknya bagi Indonesia.

“Kita doakan Presiden Republik Indonesia diberikan kemudahan, diberikan keringanan, dibukakan pintu-pintu penyelesaian dalam menghadapi masalah pandemi dan dampaknya. Dan insya Alah bersama-sama bangsa dan negara ini melewati masa sulit,” kata Anies Baswedan.

Presiden Jokowi dan Wapres Maruf Amin didoakan diberikan kesehatan.

“Dan insya Allah para pemimpinnya Bapak Presiden, Wakil Presiden dan semua kita diberikan kesehatan sehingga lewat dari masa ini dan menorehkan babak baru dalam perjalanan sejarah Indonesia,” kata Anies.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Suami Artis Chacha Frederica Resmi Bupati Kendal, Termuda di Jateng, Dico M Ganinduto

Read Next

Siap-siap ada Rekayasa Lalin Mulai 1 Hingga 5 Maret di Proyek Pembangunan Jakarta Cikampek II Selatan