ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
14 April 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Baru Menjabat Walikota, Gibran Langsung Kena Kritik

Baru Menjabat Walikota, Gibran Langsung Kena Kritik

Konfirmasitimes.com-Jakarta (28/02/2021). Gaya pidato perdana Gibran Rakabuming Raka sebagai Wali Kota Solo menuai kritikan.

Setelah dilantik Gibran langsung memberikan pidato perdananya di gedung DPRD Kota Solo.

Psikolog dari Universitas Sebelas Maret Solo (UNS), Abdul Hakim mengatakan, gaya Gibran saat berpidato mirip dengan sang ayah Presiden Jokowi.

“Dari segi gaya pidato, seperti Jokowi, tapi intonasi Gibran cenderung datar, tidak menggebu-gebu,” ujarnya.

Selain itu, Gibran masih terlihat berhati-hati dalam memilih kata-kata yang disampaikan.

Seperti masih ada kekhawatiran dalam diri Gibran dalam menyampaikan isi pidatonya.

“Pemilihan kata sangat hati-hati dan kelihatan takut sekali, khawatir bila ada kesalahan pernyataan,” kata Abdul kepada media.

Terlebih, pernyataan Gibran sempat ‘blunder’ dalam menyikapi permasalahan yang menimpanya.

Soal kasus bansos yang menyeret Mantan Menteri Juliari Batubara, misalnya.

Pernyataan Gibran terkait itu sempat memunculkan kontroversi di tengah masyarakat.

Abdul mengatakan penyampaian Gibran dalam pidato masih terlihat kaku dalam momen pelantikannya.

Intonasi bicara menjadi satu poin yang menjadi perhatian dalam penyampaian tersebut.

“Intonasinya kurang emosional kelihat datar, walaupun berusaha mengeraskan suara saat menyampaikan hal penting. Kurang alamiah, agak terlihat kaku,” katanya.

Kekacauan dalam penyampaian pidato, lanjut Abdul, karena pribadi Gibran yang cenderung introvert.

Berbicara di khalayak menjadi satu tantangan bagi dirinya.

Isi pidato Gibran Rakabuming Raka saat dilantik jadi Wali Kota Solo menyiratkan penerapan model kepemimpinan yang akan dipilihnya.

Saran untuk Gibran

Menyoroti hal itu, Psikolog dari Universitas Sebelas Maret Solo (UNS), Abdul Hakim membagikan beberpa tips untuk Wali Kota Solo itu.

Menurut Hakim, Gibran harus terus belajar dalam hal komunikasi sosial politik.

“Gibran harus belajar lebih spontan dalam komunikasi sosial politik. Lebih spontan, lebih banyak membuka diri, komunikasi dengan banyak orang,” kata Hakim.

Cara itu menurutnya bisa dilakukan untuk meningkatkan kemampuan orasi Gibran dimasa mendatang.

“Termasuk mengartikulasikan kata-kata, pesan yang natural dan enak. Itu akan memperkuat karakternya,” katanya.

Catatan untuk Gibran

Abdul Hakim juga menyampaikan, secara implisit, Gibran hendak melanjutkan dua model kepemimpinan.

Yakni, Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat masih Wali Kota Solo dan FX Hadi Rudyatmo.

“Tapi tidak seideologis Pak Rudy. Gibran akan fokus pada hal-hal praktis dan teknokratis,” kata Abdul.

Pengembangan industri kreatif dan co-working space menjadi perhatian Gibran selama memimpin.

Namun, Abdul masih memiliki catatan soal isi pidato yang disampaikan Gibran.

Itu terkait masih lemahnya visi kebudayaan di dalamnya.

“Padahal budaya itu menjadi persoalan pelik di Solo,” ucap Abdul.

Misalnya, konflik Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang sampai sekarang masih berlarut-larut sejak 2004.

Wali Kota terdahulu, di antaranya Jokowi dan Rudy memilih untuk menjaga jarak terkait konflik tersebut.

Itu lantaran konflik Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat merupakan masalah internal keluarga.

Pilihan tersebut diprediksi Abdul akan tetap dipilih Gibran ketika menjadi Wali Kota Solo.

“Pilihan jaga jarak terkait masalah keraton tidak memberi dampak buruk bagi karier politik dia,” kata Abdul.

“Tetapi menjadi tanggung jawab sejarah karena Solo seperti Yogyakarta lahir daei rahim kebudayaan Mataram Islam,” lanjutnya.

Selain masalah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Gibran juga dihadapkan tantangan menjaga harmonitas antar etnis di Kota Solo.

“Etnik kebudayaan yang berbeda-beda. Solo sangat heterogen. Itu akan menjadi ujian kepemimpinan Gibran,” kata Abdul.

“Mengelola harmonitas antar agama, kelompok, dan ormas. Selama ini, itu tertata cukup ok di bawah Fx Rudy,” lanjutnya.

Pesan Ganjar

Ganjar yang melantik Gibran, kepada para kepala daerah lainnya yang terpilih, Ganjar berpesan agar mereka menjalankan tugas sebaik-baiknya. Ia mengatakan, sumpah jabatan yang baru saja diucapkan bukan sekadar kalimat protokoler, melainkan mantra yang mengikat hingga hari terakhir menjabat.

“Jika boleh saya berpesan pada teman-teman, kawan-kawan, tatalah niat mulai detik ini. Mantapkan tekad dan tetapkan hati apa yang akan kita lakukan mulai hari ini sebagai kepala daerah,” kata Ganjar.

Ganjar menyampaikan jika tidak ada pekerjaan ringan sebagai kepala daerah. Apalagi, kata dia, saat ini kondisi dunia tengah mengalami pandemi Covid-19. Politikus PDI Perjuangan ini mengatakan pandemi telah membukakan banyak persoalan, mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga persoalan spiritual.

“Jika kita tidak memiliki sense of humanity maka kita telah berkhianat kepada rakyat,” katanya.

Ganjar berpesan agar para kepala daerah bekerja keras mengentaskan kemiskinan, meningkatkan perekonomian, memeratakan pendidikan, dan mengoptimalkan pengembangan teknologi serta memperhatikan anak muda. Ia juga menyinggung adanya persoalan serius di sektor lingkungan yang mesti segera ditangani.

Selain itu, Ganjar Pranowo berpesan agar para kepala daerah berlapang dada dan panjang sabar termasuk kepada Gibran. Ia menyebut akan ada banyak kritikan, cacian, hingga perundungan nantinya.

“Dadane awake dhewe kudu jembar, ususe kudu dawa (dada kita harus lapang, usus harus panjang). Karena beberapa kritikan, cacian, bully-an, itu akan menjadi vitamin dan energi yang segar buat Bapak Ibu, karena Bapak Ibu bisa jembar dadane tadi,” kata Ganjar.

Wejangan dari Rudi kepada Gibran

Kepada Wali Kota yang baru Gibran Rakabuming Raka, Rudy meminta agar tidak alergi untuk menerima kritik. Menurutnya, kritik adalah motivasi yang harus diterima, dan bukan bertujuan untuk melawan. Namun kritikan tersebut nantinya akan disampaikan oleh para anggota dewan.

“Yang punya hak untuk mengkritisi bukan ketua DPC (DPC PDIP) tapi wakil rakyat. Biar pun punya 30 kursi, tapi kalau kebijakannya tidak memihak pada rakyat, ya wakil rakyat mempunyai hak untuk mengingatkan. Kritik jangan diartikan melawan, memusuhi, tapi kritik sebagai bagian untuk memotivasi, mengevaluasi,” kata Rudy, dalam keterangannya beberapa waktu lalu.

Selain itu, ia berpesan agar tetap menjaga serta mempertahan pondasi yang sudah dibangunnya selama 15 tahun.

“Untuk wali kota yang baru, mau dipakai atau tidak monggo. Pondasi yang sudah saya bangun, Sonjo Wargo, Mider Projo, Lurik, 5 Mantab, ini jangan sampai nanti terporak porandakan,” jelasnya.

Rudy mengungkapkan, selama 15 tahun menjadi wakil wali kota hingga wali kota, sudah mengubah aturan sipil negara menjadi ASN yang lurus dalam pengabdian dan ikhlas dalam pelayanan. Sehingga jangan sampai ada satupun tindakan yang menyimpang, yang justru akan merugikan diri sendiri maupun pemerintah.

“Saya sangat berharap, wali kota yang baru nanti bisa opini WTP (wajar tanpa pengecualian) yang ke-11,” kata Rudy.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Pengakuan Nurdin Abdullah Soal Dugaan Suap

Read Next

Lima Obat Rumahan yang Efektif Untuk Bau Mulut