ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
14 April 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Ardi, Makelar Mobil yang Harus Mendekam di Jeruji Besi Gegara Pakai Uang BCA Rp.51 juta

Ardi, Makelar Mobil yang Harus Mendekam di Jeruji Besi Gegara Pakai Uang BCA Rp.51 juta

Konfirmasitimes.com-Jakarta (27/02/2021). Ardi Pratama seorang makelar mobil asal Surabaya harus berurusan dengan hukum karena PT Bank Central Asia Tbk salah transfer Rp 51 juta ke dirinya.

Ardi dilaporkan oleh NK, pegawai BCA yang salah meng-input nomor rekening sehingga uang masuk ke rekening Ardi.

Masalah itu menjadi kasus di pengadilan berawal dari Ardi yang memakai uang salah transfer.

Awalnya Ardi mengira uang itu adalah komisi dari penjualan mobilnya. Namun ternyata bukan.

Menurut keterangan dari pihak PT Bank Central Asia Tbk, Executive Vice President Secretariat & Corporate Communication BCA, Hera F Haryn menuturkan bahwa Ardi telah menerima surat pemberitahuan dua kali sejak Maret 2020 bahwa telah terjadi salah transfer.

“Namun nasabah yang bersangkutan baru menunjukkan upaya pengembalian dana secara utuh pada bulan Oktober 2020, di mana proses hukum atas kasus ini sudah dimulai sejak Agustus 2020,” ujar Hera, dalam keterangannya kepada media, Sabtu (27/02/2021).

Berdasarkan Pasal 85 UU No 3 Tahun 2011, Ardi wajib mengembalikan uang itu.

Bila tidak, Ardi akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 tahun atau denda Rp 5 miliar.

“Dalam hal terjadinya kesalahan transfer oleh bank, nasabah wajib mengembalikan uang tersebut,” kata Hera.

Kronologi Ardi terima salah transfer Rp.51 juta

Kuasa hukum Ardi Pratama, R Hendrix Kurniawan menyampaikan, transfer kliring sebesar Rp 51 juta yang masuk ke rekening Ardi itu dikiranya adalah uang komisi dari penjualan mobil yang dilakukan.

Uang itupun digunakan Ardi untuk keperluan belanja.

“Dia makelar mobil, karena pas dicek itu tidak ada identitas pengirimnya, hanya kliring BI. Akhirnya dipakailah uang itu untuk keperluannya seperti belanja dan bayar utang,” kata Hendrix kepada media, Rabu (24/02/2021).

Kemudian 10 hari kemudian, tepatnya 27 Maret, pihak BCA baru mengetahui bahwa mereka salah mentransfer uang. Hal itu setelah adanya komplain dari pihak yang seharusnya menerima transfer uang tersebut.

Hari itu juga petugas BCA diwakili sang back office berinisial NK, dan I data ke rumah Ardi. Pegawai bank tersebut meminta Ardi untuk mengembalikan utuh nominal uang tersebut.

Sayangnya, Ardi baru bisa mengembalikan dana yang sudah terpakai dengan cara dicicil, karena bulan Maret adalah awal terjadinya pandemi.

Setelah kedua karyawan itu datang, Ardi keesokan harinya mendapatkan surat somasi dari pihak BCA. Bagian hukum BCA langsung mendatangi kediaman Ardi

Ardi kemudian menghubungi pihak BCA dan berusaha untuk meminta keringanan agar bisa dicicil. Untuk mencicil, Ardi melakukan setor tunai Rp 5 juta ke rekening BCA pribadinya, sehingga ada dana mengendap kurang lebih sebanyak Rp 10 juta.

Lalu pada 10 November 2020, Ardi resmi ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan dengan tuduhan Pasal 855 UU Nomor 3 Tahun 2011 dan TPPU UU Nomor 4 Tahun 2010.

Pihak BCA tetap meminta Ardi mengembalikan utuh nominal uang tersebut.

“Saat itu, dengan tawaran dan permintaan Ardi (diangsur), pelapor tidak mau, mereka minta cash,” kata Hendrix, saat dihubungi via telepon selulernya, Rabu (24/2/2021).

Intinya, pihak BCA minta uang itu dikembalikan secara utuh Rp 51 juta.

Ardi bukan tidak sanggup mengembalikan, tetapi meminta agar dapat dicicil.

“Kemampuan klien kami saat ini mampunya ya hanya mengangsur. Dan pada saat itu rekening klien saya sudah diblokir sepihak oleh pihak BCA (blokir keluar),” katanya.

Untuk menunjukkan iktikad baiknya, Ardi melakukan setor tunai sebanyak Rp 5 juta ke rekening BCA pribadi, sehingga ada dana mengendap lebih kurang Rp 10 juta.

Ardi disebut terus berusaha untuk bisa mengembalikan uang itu, tepatnya pada Oktober 2020.

Kala itu, Ardi mencari uang Rp 51 juta sesuai yang diminta oleh pihak BCA. Kliennya lalu mendatangi kantor BCA untuk mengembalikan uang tersebut.

“Anehnya sama pihak BCA tidak diterima. Justru disuruh serahkan ke NK (pelapor). Klien saya bingung kok bisa begitu. Sebab, hubungan hukumnya disomasi oleh pihak BCA, ketika mau mengembalikan ditolak dan diminta diserahkan ke personal,” terang Hendrix.

Hendrix pun mempertanyakan bagaimana dengan kasus hukum yang dilaporkan pihak BCA kepada kliennya.

“Klien saya menanyakan ke petugas BCA saat itu, dan dijelaskan bahwa pihak BCA dan Ardi sudah tidak ada masalah, karena uang itu sudah diganti oleh NK melalui uang pensiunannya,” jelasnya

Menurutnya bila memang ada keinginan menyelesaikan kasus ini secara baik, semestinya pihak BCA mempertemukan kliennya dengan pelapor.

Dengan begitu, Ardi bisa menyerahkan uang itu kepada pelapor dan disaksikan langsung oleh pihak BCA.

“Dimediasi langsung. Biar clear, agar tidak ada hal lanjutan,” ujarnya.

Namun, kasus ini akhirnya berujung di polisi. Ardi akhirnya dipanggil polisi dengan status sebagai saksi pada Oktober 2020.

Pada 10 November 2020, Ardy resmi ditetapkan sebagai tersangka dengan tuduhan Pasal 855 UU Nomor 3 Tahun 2011 dan TPPU UU Nomor 4 Tahun 2010.

“Saat itu juga klien kami ditangkap dan ditahan sampai sekarang ditahan,” kata Hendrix.

Sementara itu menurut keterangan adik kandung Ardi, Tio Budi Satrio, ia mengatakan jika ketiga anak Ardi tidak bisa berobat lantaran tak ada biaya.

“Tiga anaknya sempat sakit dan harus dibawa ke dokter tapi tak ada duit,” kata Tio Budi Satrio, adik kandung Ardi, saat dihubungi, Sabtu (27/02/2021).

Selain itu, anak Ardi juga tidak bisa mulai bersekolah karena tidak ada biaya.

Padahal tahun ini, anak sulung Ardi harusnya masuk ke taman kanak-kanak.

Sebagai informasi, Ardi punya tiga anak. Putri sulungnya berusia 5 tahun, anak keduanya 4 tahun, dan anak bungsunya masih 2 tahun.

Menurut Tio, kini istri Ardi harus bergantung dengan pinjaman dari tetangga atau bantuan dari keluarganya untuk memenuhi asupan gizi ketiga anaknya.

Devi, istri Ardi, tidak bisa bekerja karena ketiga buah hatinya masih harus dijaga.

Tio juga menuturkan, sejak sang kakak masuk penjara, ibunya juga jadi sakit-sakitan.

Ibunda Ardi yang kesehariannya membuka toko kelontong untuk biaya hidup, kini lebih banyak beristirahat. Dia tidak sanggup berjualan karena memikirkan nasib anaknya.

Tio saat ini hanya bisa menunggu proses persidangan yang sedang berjalan, sembari memasrahkan kasus kakaknya ke penasihat hukum.

“Mohon dipertimbangkan lagi, sebelumnya bulan Oktober, kami sudah berniat baik untuk mengembalikan utuh, full. Tapi nyampek BCA malah ditolak dan diarahkan langsung ke personal,” katanya.

Keluarga Ardi pun binggung. Pasalnya, saat mereka berupaya mengembalikan uang salah transfer yang telanjur terpakai, kata Tio, ada kesan niat itu dihalang-halangi.

Akibat uang yang dipakai oleh Ardi, kini Ardi menjadi terdakwa dan dianggap melanggar Pasal 855 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2011 dan TPPU UU Nomor 4 Tahun 2010.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Latihan Hadroh

Read Next

Info Terbaru Kejadian Hujan Lebat Disertai Angin Puting Beliung Di Sekitaran Pg Jatibarang Brebes