ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
25 February 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Per Januari 2021, Penerimaan Pajak Menurun 15 Persen atau Rp68,5 Triliun

kemenkeu

Konfirmasitimes.com-Jakarta (23/02/2021). Penerimaan pajak pada Januari tahun ini menurun hingga lebih dari 15 persen.

Menurut catatan Kementerian Keuangan (Kemenkeu), realisasi penerimaan pajak sebesar Rp68,5 triliun per Januari 2021. Angka tersebut turun 15,3 persen dari capaian Januari 2020 yang sebesar Rp80,8 triliun.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, terlambatnya realisasi penerimaan pajak pada awal tahun ini dipicu melambatnya penerimaan PPh Migas yang sebesar Rp2,3 triliun, atau turun 19,8 persen dari Rp2,9 triliun tahun lalu.

“Harga dari migas kita dibandingkan Januari tahun lalu, meski sudah di atas asumsi, itu masih di bawah kondisi harga minyak tahun 2020. Jadi, memang mengalami penurunan,” ujar Sri Mulyani saat konferensi pers secara virtual, APBN KiTa, Selasa (23/02/2021).

Sri Mulyani menjelaskan, kondisi ini tergambarkan dari penerimaan pajak per jenisnya. PPh Pasal 21 misalnya masih terkontraksi 6,05 persen. Demikian juga PPh Pasal 22 Impor yang terkontraksi 12,88 persen.

Sri Mulyani juga mengungkapkan penerimaan pajak non migas mengalami kontraksi hingga minus 15,2 persen. Nilainya sebesar Rp66,1 triliun pada Januari 2021, sementara periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp77,9 triliun.

“Jangan lupa para wajib pajak dunia usaha masih dapat insentif fiskal yang kita perpanjang, jadi sebagian kontraksi ini karena kita beri ruang bagi para pelaku usaha untuk dapat insentif pajak karena mereka belum sepenuhnya pulih dari Covid,” katanya.

Sementara itu, PPh Orang Pribadi terkontraksi 9,74 persen, PPh Badan terkontraksi 54,44 persen, PPh Pasal 26 terkontraksi 8,79 persen, PPh Final minus 14,3 persen, PPN Dalam Negeri minus 17,8 persen dan PPN Impor minus 13,31 persen.

Adapun berdasarkan sektor industrinya, juga masih mengalami kontraksi di semua lini. Industri pengolahan terkontraksi hingga minus 4,27 persen dan perdagangan minus sebesar 13,82 persen. Industri jasa keuangan dan asuransi terkontraksi hingga minus 20,79 persen, konstruksi dan real estat minus 33,02 persen serta transportasi dan pergudangan minus 11,01 persen.

Kondisi yang sama juga terjadi untuk industri jasa perusahaan yang minus 18,52 persen. Namun tidak demikian untuk pertambangan yang malah tumbuh positif 3,33 persen dan informasi maupun komunikasi yang tumbuh 6,28 persen.

“Informasi dan komunikasi mengalami wind fall karena perubahan dari kegiatan masyarakat dengan new normal, work from home dan mengandalkan teknologi informasi maupun komunikasi. Ini menggambarkan pertumbuhan positif,” terang Sri Mulyani.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Balangan Resmi Buka Seleksi Paskibraka

Read Next

PREVIEW : Atletico Madrid Vs Chelsea & Lazio Vs FC Bayern