ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Seni Kaligrafi Cina, Petuah Imlek dan Penebar Doa

Tjutju

Konfirmasitimes.com-Jakarta (13/02/2021). Dahulu Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) membuka keberagaman makin kaya dengan mengizinkan pengungkapan ekspresi dan budaya Tionghoa di Indonesia.

Khazanah seni kaligrafi Cina yang bertebaran mulai menyeruak bersamaan dengan kemeriahan perayaan Imlek.

Perayaan Imlek mulai dilakukan. Seni budaya Tiongkok di Indonesia mulai marak, termasuk karya kaligrafi Tiongkok.

Seniman yang juga Dosen Prodi Seni Murni, Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Kristen Maranatha, Ismet Zainal Effendi menuturkan, kaligrafi Cina dalam klasifikasinya termasuk seni tradisional. Sedangkan yang hadir di Tanah Air merupakan hasil akulturasi.

Bagi Ismet, Tjutju adalah warga negara Indonesia. Tetapi inti kaidah dan aturan untuk menciptakan kaligrafi yang diterapkan Tjutju Widjaja tetap menyerap dari Tiongkok. Darah seni yang diajarkan leluhurnya masih kental dalam setiap karya yang tercipta.

Walau demikian, Ismet menilai Tjutju berbeda dengan kaligrafer Tionghoa lainnya. Perempuan sulung dari 9 bersaudara itu menempa diri di lingkungan akademik. Setelah memperoleh gelar sarjana seni rupa di Universitas Kristen Maranatha, Tjutju terus melahap keilmuan hingga program magister di Institut Teknologi Bandung.

Bahkan saat ini telah menyelesaikan program doktor di ITB, sembari terus mengajar Seni Rupa Murni di Universitas Maranatha dan Sejarah Seni Timur di Institut Seni dan Budaya Indonesia Bandung.

Berbeda dengan orang Indonesia keturunan Tionghoa lainnya, Bu Tjutju terus sekolah, sehingga cita rasa seninya dibombardir akademi dan beralih ke modern. Dia memakai kaidah seni tradisi tetapi yang diciptakan seni modern. Lebih ke aplikatif, tidak murni tradisional. Dia sudah memahami kaidah Cina yang diaplikasikan ke dalam karya. Berbeda dengan yang tidak sekolah, dia mempelajari kaidah seni tradisional tanpa terpengaruh seni rupa barat,” ujar Ismet.

Ciri khas seni tradisi yakni turun temurun, polanya sama, baku, dan harus dipatuhi. Kaidah tradisi ini tidak dilanggar oleh Tjutju. Tetapi jika dilihat dari teknik, media, konteks yang diusung, display, dan skala, kata Ismet, Tjutju mampu mengaplikasikan seni tradisi menjadi seni rupa kontemporer.

Ekstistensi Tjutju yang konsisten di seni kaligrafi Cina memberi pengaruh bagi komunitas pegiat seni serupa yang rata-rata tidak mendalami keilmuan seni rupa di perguruan tinggi. Kiprah perempuan berusia 78 tahun ini juga berpengaruh pada bidang akademik. Universitas Kristen Maranatha membuka mata kuliah Kaligrafi Cina.

Dalam pola ajarnya, menguasai medium, teknik menorehkan kuas itu tidak mudah. Satu semester harus dipenuhi mahasiswa hanya untuk menuliskan nama sendiri, sebelum masuk unsur sajak dan teks lainnya. Ismet meyakini seni kaligrafi Tiongkok ini bakal banyak penerus. Apalagi pasar peminat kaligrafi Cina dan chinese painting juga terbuka luas.

“Dalam usia senja, Bu Tjutju masih aktif menciptakan karya-karya berbasis kaligrafi. Sekolah S3 menjadi keistimewaan sendiri, dibanding kaligrafer yang tidak memiliki pengaruh akademik. Apalagi karya S3 akan memberi banyak pengaruh dari hasil penelitian. Peran akademi ini yang kuat, dan pasti berpengaruh ke dunia seni Indonesia. Keberadaan Bu Tjutju turut memperkaya khazanah perkembangan seni rupa kita,” katanya.

Pemilik nama asli Lie Hui Tju itu telah mengenal kaligrafi Cina sejak kecil. Ia mulai fokus mengembangkan keilmuannya pada era 90an. Sejak menyelami kaligrafi, ia jadi keranjingan, dan tak pernah lepas lagi. Bagi dia kaligrafi adalah suatu kontemplasi untuk menenangkan jiwa.

Selain tergerak karena unsur estetikanya, kata Tjutju, seni kaligrafi mengikat penciptanya, melekat dalam jiwa. Saat memegang kuas, semua pikiran positif terkumpul, mawas diri, menetralkan gejolak pikiran dan emosi. Karena isinya, doa, puisi, idiom, sajak, hingga inspirasi, media ini mampu menghilangkan kebencian, kekesalan, depresi, dan bisa menjadi terapi jiwa.

“Kenapa tidak bosan dari kecil sampai tua? Karena tulisan ini yang bisa mengeluarkan isi hati, melalui tulisan, ada jiwa. Mewakili diri, ada spirit melalui sajak-sajak. Karena penulis kaligrafi itu dititikberatkan menulis sajak, dan tidak untuk ngomelin orang, tetapi untuk menuangkan perasaan kita. Maka ada yang bilang Mao Bi ini bisa mengeluarkan sesuatu zen,” kata Tjutju.

Dengan media karya seni yang menyebarkan kebaikan ini, ia ingin terus mewariskan keilmuannya. Selain mahasiswa di kampus, Tjutju telah melihat banyak potensi dari murid yang ia ajar, termasuk dari siswa siswi Pesantren Daarul Inayah, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

“Dalam ajaran Taoisme, kita harus menyontoh langit yang tidak berhenti memberikan segala sesuatu kepada kita. Dengan bumi yang terus memberikan kepada kita, kita juga harus berbuat bijak kepada sesama. Tuhan tak berhenti berbuat, manusia harus membangkitkan diri terus menerus. Bumi memberikan segala sesuatu, manusia harus berbuat bijak,” ucap Tjutju.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Daftar Contoh Pantun Lucu 2 Baris

Read Next

Pameran Seni Yogyakarta Tampilkan Ide dan Cita-cita Soekarno yang Belum Terwujud