ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian
1 March 2021
ArabicChinese (Simplified)EnglishIndonesianRussian

Penyelidik Ungkap Kerusakan Pesawat Sriwijaya Air SJ182, Apa itu?

Sriwijaya Air

Konfirmasitimes.com-Jakarta (24/01/2021). Terkait jatuhnya pesawat Sriwijaya Air beberapa waktu lalu, penyidik melaporkan ada kerusakan pada bagian yang penting.

Kerusakan terkait kecelakaan pesawat Sriwijaya Air pada bagian penting ini masih dalam penyelidikan.

Walaupun Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) belum menemukan memori Cockpit Voice Recorder (CVR) atau rekaman kokpit untuk melengkapi flight data recorder (FDR), ada titik terang pemicu Sriwijaya Air SJ182, yang menewaskan 62 orang penumpang dan kru.

Ternyata Sriwijaya Air SJ182 yang sudah berumur 26 tahun dan sempat tidak beroperasi 9 bulan itu dilaporkan mengalami kerusakan pada throttle otomatis (autothrottle).

Menurut laman aerotime.aero, seseorang yang akrab dengan proses investigasi mengungkapkan bahwa selama penerbangan SJ182 autothrottle menghasilkan lebih banyak daya dorong pada satu dari dua mesin jet.

Jika pilot tidak menangani dorongan yang tidak seimbang dari mesin dengan benar, mengatur daya dorong pesawat secara manual, pesawat dapat berbelok ke samping atau bahkan menghunjam secara tiba-tiba.

Sebelumnya KNKT mengatakan kedua mesin jet Boeing 737 Sriwijaya Air SJ182 hidup saat pesawat menghantam laut.

Reuters melaporkan, Penyelidik KNKT, Nurcahyo Utomo, menyampaikan ada masalah pada sistem autothrottle Sriwijaya Air SJ-182 beberapa hari sebelum penerbangan menuju Pontianak.

“Ada laporan kerusakan pada autothrottle beberapa hari sebelumnya pada teknisi di log perawatan, Tapi, kami tidak tahu apa masalahnya,” kata Nurcahyo, dalam keterangannya kepada media, Jumat (22/01/2021).

“Jika kami menemukan CVR (cockpit voice recorder), kami bisa mendengar diskusi antar pilot, apa yang mereka bicarakan dan kami akan tahu apa masalahnya,” lanjutnya.

Nurcahyo menegaskan masih belum jelas apakah sistem autothrottle menjadi penyebab Sriwijaya Air SJ-182 mengalami kecelakaan.

Ia menyebutkan, pesawat diperbolehkan terbang meski sistem autothrottle tak berfungsi.

Pasalnya, pilot bisa mengendalikan pesawat secara manual.

Sementara Wall Street Journal melaporkan, berdasarkan sumber dekat, data flight data recorder (FDR) menunjukkan sistem autothrottle Boeing 737 Sriwijaya Air SJ182 tidak beroperasi secara baik pada satu mesin pesawat saat lepas landas dari Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu (09/01/2021).

Namun reaksi kru Boeing 737 Sriwijaya Air SJ182 (Pilot Captaian Afwan dan First Officer Diego Mamahit), tidak mematikan sistem autothrottle.

Rekaman FDR mengindikasikan pilot (Captain Afwan) mencoba membuat throttle yang macet berfungsi.

Berdasarkan percakapan dan komunikasi dengan ATC, pilot Captaian Afwan tidak melaporkan keadaan darurat dan tidak melaporkan adanya masalah teknis terkait pesawat sebelum menghilang dari radar.

Sementara itu, pihak Sriwijaya belum bisa mengomentari soal teknis yang menyangkut penyidikan, sebelum ada pernyataan resmi dari KNKT.

Pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJ182 dikandangkan selama sembilan bulan, sejak 23 Maret 2020 hingga 18 Desember 2020.

Sejak mulai beroperasi setelah absen beroperasi, pesawat ini telah melakukan perjalanan selama 144 jam 20 menit selama sebulan terakhir.

Dari data Flightradar24.com, sejak 23 Oktober 2020 hingga 18 Desember, mesin pesawat sempat dipanaskan selama 10 kali; empat kali di bengkel Merpati Maintenance Facility di Bandara Juanda, Sidoarjo, Jawa Timur, dan enam kali diterbangkan di sekitar bengkel hingga Jalan Raya Juanda.

Sehari sebelum penerbangan komersial pertama dilakukan setelah dikandangkan, pesawat ini sempat terbang rendah pada ketinggian 60 meter, pada 18 Desember 2020 sekitar pukul 18:00 WIB.

Penerbangan pertama setelah lama absen beroperasi adalah pada 19 Desember, dari Surabaya menuju Jakarta, menempuh perjalanan selama 1 jam 9 menit.

Keesokan harinya, pada Desember 2020, pesawat ini mulai sibuk terbang melayani enam rute: Jakarta-Pontianak-Jakarta-Pangkal Pinang-Jakarta-Yogyakarta-Jakarta.

Selama sebulan terakhir, pesawat ini melakukan perjalanan dari Jakarta ke Pontianak sebanyak 9 kali dan Pontianak ke Jakarta sebanyak 11 kali.

Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson dan Kementerian Perhubungan melalui keterangan resmi menjelaskan pesawat jenis Boeing 737-599 itu disebut laik terbang dan memiliki Seritifkat Kelaikudaraan atau Certificate of Airworthiness yang diterbitkan pada 17 Desember 2021.

Jefferson juga menjelaskan Sriwijaya Air telah menjalani audit keamanan dan keselamatan yang diselenggarakan oleh BARS (Basic Aviation Risk Standard) yang independen serta berlaku secara internasional sejak bulan Maret 2020.

Audit yang dilakukan BARS meliputi “keselamatan, kualitas sistem manajemen, manual operasi, lisensi dan data pelatihan awak penerbangan serta pengawasan terhadap pesawat dan suku cadang.”

Sebelumnya Selasa (19/01/2021), KNKT merilis laporan awal terkait kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182.

Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan, Kapten Nurcahyo Utomo, menyampaikan pihaknya telah berhasil mengunduh data-data dari flight data recorder (FDR).

Diberitakan juga, data yang diunduh berisi 370 parameter dan 18 data penerbangan.

“Kami sampaikan bahwa data dari flight data recorder sudah bisa kami dapatkan,

sudah berhasil diunduh dengan total 370 parameter, 27 jam dan atau 18 penerbangan,

termasuk penerbangan yang mengalami kecelakaan,” bebernya, Selasa.

Lebih lanjut, Nurcahyo mengatakan pihaknya masih mendalami data yang telah diunduh tersebut.

Ia menyebutkan pihaknya masih belum bisa menginformasikan hasil temuan lebih lanjut pada masyarakat.

Namun, Nurcahyo mengaku KNKT sudah menemukan beberapa petunjuk untuk mendalami investigasi jatuhnya Sriwijaya Air SJ-182 di perairan Kepulauan Seribu.

Investigasi tersebut, ujar Nurcahyo, dilakukan bersama tim dari Amerika Serikat berjumlah 11 orang.

Selain itu, KNKT juga dibantu tim investigasi dari Singapura, The Transport Safety Investigation Bureau (TSIB).

“Terdiri dari empat orang National Transportation Safety Board (NTSB), empat orang dari Boeing, dua orang dari Federal Aviation Administration (FAA), dan satu orang dari General Electric sebagai pembuat mesin pesawat,” kata Nurcahyo.

“Berpartisipasi dalam investigasi kali ini juga dua investigator TSIB Singapura dalam hal ini berpartisipasi dalam sesuai dengan kerja sama negara-negara ASEAN,” lanjutnya.

Terkait hasil investigasi awal, Nurcahyo mengatakan pihaknya akan mengumumkan 30 hari setelah kecelakaan terjadi.

“Kami berharap bahwa dalam 30 hari setelah kecelakaan, kami akan mempublikasikan laporan awal atau preliminary report dan apabila nanti prelimenary ini akan dipublikasikan kami akan menyampaikan kepada masyarakat luas,” katanya.

Bagaimana reaksi Anda?
Bagikan 


Read Previous

Kapan Anak Kecil Dipukul Karena Meninggalkan Shalat

Read Next

Ini Kidung Legendaris Sunan Kalijogo – Ki Jenar